TIDAK ada yang lebih biadab bagi Stevano Erlangga daripada masa lalunya sendiri. Masa lalu itu tidak pernah benar-benar pergi, hanya menunggu di balik setiap pintu yang dibuka, setiap tangan yang terulur, setiap hening yang terlalu panjang.
Malam itu, masa lalu duduk di sebelahnya. Kala hujan sudah reda, yang tersisa hanya tetes air dari ujung daun dan bau kayu cendana yang terbelah, manis dan getir, seperti dupa di rumah duka. Batang pohon itu masih melintang di jalan setapak berbatu, tak jauh dari rumpun bambu. Tadi, di bawahnya, ada Sintia.
Stevano tidak ingat bagaimana dia menyingkirkan dahan-dahan itu. Dia hanya ingat tangannya mengais tanah basah, menarik tubuh Sintia keluar, lalu menggendongnya ke ceruk di bawah tebing rendah tempat mereka bermalam kemarin. Dia ingat menyusun tiga batu. Dia ingat korek yang nyaris basah, dan api yang baru mau menyala pada percobaan kesembilan.
Lelaki berambut keriting itu ia tinggalkan di lumpur, di bawah hujan. Masih bernapas atau tidak, Stevano tidak menengok lagi. Kini ia tidak peduli pada seseorang yang sekarat, bukan karena hatinya dingin, tapi karena seluruh dirinya sudah tertambat pada satu napas yang lain.
Sekarang ia duduk menekuk lutut di sisi api, dengan kemeja basah, tetapi dinginnya tidak sampai ke kulit. Perban di perutnya merembes lagi. Di matanya, nyala kuning bergoyang; di sampingnya, Sintia terbaring telentang dengan kemeja putih tersampir di tubuh, pelipis tergores, napas setipis benang. Hanya pada dua hal itu mata Stevano bergulir: api, dan perempuan itu.
“Kenapa.”
Bukan pertanyaan. Nadanya terlalu datar untuk itu. Lebih mirip keluhan yang lolos dari tempat terdalam, tempat yang selama ini ia kunci rapat bersama jurnal kulit cokelat dan daftar nama bertinta emas.
Dia ingin menertawakan dirinya sendiri. Dulu, pikirannya yang rumit adalah senjata. Dengan pikiran itulah dia menyusun malam ketika ayahnya tak pernah lagi pulang. Lalu Silvi. Lalu nama berikutnya, dan berikutnya, sampai dia berhenti menghitung dan mulai mencatat, sampai hati yang dititipkan Tuhan kepadanya membeku, dan dia menyebut beku itu tenang.
“Sintia ....”
Semua sudah berakhir? Atau baru dimulai? Kalau perempuan ini pergi, apa lagi yang tersisa untuk diakhiri?