The Syndrome: Topeng Merah

Marion Drossi
Chapter #41

Kematian yang Tak Pernah Diharapkan

STEVANO tidak tahu sudah berapa lama dia duduk seperti itu. Bara di antara tiga batu tinggal sepercik merah yang sesekali berdenyut, lalu padam. Di mulut ceruk, sisa hujan menetes dari ujung tebing satu-satu, layaknya jam yang kehabisan tenaga.

Ke mana saya akan mencari cahaya?

Pertanyaan itu tidak ia ucapkan. Ia hanya menatap Sintia: kemeja putih yang kini kotor oleh tanah, goresan di pelipis yang sudah berhenti berdarah, dan dada yang naik-turun begitu pelan sampai Stevano harus mendekatkan telinga untuk memastikan.

“Apa lagi yang akan Kau ambil dari saya, Tuhan?” Suaranya serak. “Apa lagi?”

Tidak ada jawaban. Hanya tetes air dari tebing, dan napas Sintia yang nyaris tak terdengar.

Malam itu tidak indah. Bulan tertutup awan, bintang tak ada satu pun, dan bau petrikor yang biasanya ia sukai kini hanya mengingatkannya pada tanah basah di lubang itu. Satu-satunya yang masih ingin ia pandangi adalah perempuan yang terbaring di sampingnya.

“Sampai kapan kamu akan tidur?” Dia menggenggam tangan perempuan itu. Masih dingin. “Kalau kamu mati di sini, saya juga ....”

Kalimat itu tidak selesai. Ia lebih dulu tertawa kecil, tawa yang lebih mirip batuk. Konyol, pikirnya. Bertahun-tahun ia yakin satu-satunya kasih yang ia butuhkan hanyalah kasih ibunya. Sekarang ia duduk di ceruk batu, memohon kepada perempuan yang dulu ia culik agar tidak meninggalkannya.

Ibu.

Kata itu menyentaknya seperti sengatan. Sejak pohon cendana tumbang, sejak dia menggali Sintia dari bawah batang dan dahan, dia lupa pada mobil yang terparkir di jalan setapak dekat rumpun bambu, mobil yang kacanya terlalu gelap untuk mengatakan apa pun kepada Sintia kemarin.

Stevano melepas tangan Sintia pelan-pelan, merapatkan kemeja di bahu perempuan itu, lalu bangkit.

Gelap tidak pernah membuatnya takut. Dulu, gelap adalah rekan kerjanya: tempat menyembunyikan apa yang tidak boleh dilihat siapa pun. Malam ini, dia berharap ada cahaya. Bukan untuk menuntun langkahnya, tapi supaya dia tidak perlu membayangkan apa yang mungkin ia temukan.

Mobil itu masih di sana. Batang cendana melintang hanya beberapa langkah dari bempernya, dan lumpur menutupi separuh roda. Tak jauh dari situ, lelaki berambut keriting masih tergeletak di tempat Stevano meninggalkannya, tidak bergerak.

Stevano tidak menghampirinya. Kunci mobil barangkali ada di saku lelaki itu, tetapi ia tidak percaya pada tangannya sendiri kalau mendekat lagi.

Lihat selengkapnya