STEVANO tidak berlari, sebab ia tidak sanggup. Lututnya lebih dulu menyerah, dan lelaki yang dulu berjalan tanpa tergesa di koridor berlampu minyak itu kini merangkak di atas tanah basah, dari bara tiga batu yang hampir padam ke tempat Sintia bersandar pada batang bambu.
Kemeja putih yang robek di lengan masih tersampir di bahu perempuan itu. Pelipisnya basah. Kakinya telanjang, penuh lecet. Namun matanya terbuka, dan itu cukup bagi Stevano. Maka Stevano memeluknya dengan tangan kiri, tangan yang masih menyimpan bekas gigitan samar itu. Pelukan yang canggung, seperti orang yang baru belajar dan takut salah.
“Jangan pergi lagi,” bisiknya. “Saya tidak tahu caranya sendirian. Saya kira saya tahu, ternyata tidak.”
Sintia tidak menjawab. Di dalam mobil, dari balik kaca yang pecah, terdengar senandung sumbang Ibu kepada boneka Vano. Lagu nina bobo yang sama. Pagi itu, untuk pertama kalinya, senandung itu tidak terdengar menakutkan.
Tubuh Sintia tidak menegang. Ia menyadarinya, seperti biasanya. Dan seperti biasanya, dia tidak tahu harus bersyukur atau takut.
“Kamu baik-baik aja?” tanyanya akhirnya. Berat tubuh Stevano membuatnya merosot hingga bersimpuh, tetapi lelaki itu tidak melepaskannya.
“Saya tidak pernah baik-baik saja.” Stevano tertawa kecil, tawa yang lebih mirip napas patah. “Mungkin saya tidak tahu rasanya.”
Sintia meraba perban sobekan daster di perut Stevano. Merah lagi, rembesannya merayap pelan. Tangannya sendiri masih terasa terkilir sejak pohon cendana itu tumbang; dadanya sesak setiap kali menarik napas terlalu dalam.
“Maafkan saya,” kata Stevano. “Kamu terluka karena saya.”
Sintia hampir menjawab bukan karena kamu. Kalimat itu sudah di ujung lidah, ringan dan mudah, seperti pujian di kelab dulu. Namun, dia hanya menelannya.
“Iya,” katanya. “Sebagian karena kamu. Sebagian karena aku sendiri yang memilih kembali.”
Stevano diam. Lalu, seperti anak kecil yang menunggu lama sebelum berani mengangkat tangan di kelas, dia bertanya, “Sintia. Apa saya penuh dosa?”
Pertanyaan itu jatuh di antara mereka seperti batu ke dalam sumur. Sintia menunggu gemanya. Dia ingat lubang itu, ranting nisan Silvi, kepala di lantai marmer, gadis dari balik jeruji yang berbisik jangan tinggalkan kami. Dia ingat malam pertama di gubuk reyot, dan dia ingat suaranya sendiri yang memanggil Tuhan di dalam gelap.
Dia meletakkan kedua tangannya di pipi Stevano. Pipi yang dingin, kasar oleh bulu-bulu tipis yang tumbuh tak terurus.
“Aku nggak bisa menimbang dosamu. Timbangannya bukan di tanganku,” katanya. “Tapi aku tahu kamu nggak bisa bertanya ke aku untuk dimaafkan atas mereka. Aku cuma satu, dan mereka seratus sembilan.”
Stevano memejamkan mata dengan rahang yang mengeras, lalu melunak kembali.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “saya harus bertanya ke siapa?”
“Ke Dia. Dan ke mereka yang masih hidup, kalau mereka mau mendengar.” Sintia menelan ludah. “Dan kalau mereka nggak mau, kamu tetap harus berdiri di depan mereka.”
Lama Stevano menatapnya. Bukan dengan mata elang kuning keemasan yang dulu menimbang dan memilih, tapi dengan mata yang lelah, merah, dan untuk pertama kalinya bingung.