TERIAKANNYA memantul dari batang-batang bambu, dari tebing di belakang ceruk, dari pohon beringin tempat para polisi itu muncul, lalu kembali kepadanya sebagai gema yang terdengar asing, seperti suara perempuan lain.
Bulu jingga di pangkal anak panah itu bergetar setiap kali Stevano menarik napas. Napasnya makin pelan. Kelopak matanya turun separuh, naik lagi, lalu turun. Sebelum benar-benar terpejam, bibirnya bergerak.
“Jangan … menangis.” Suaranya hampir tak terdengar. “Saya … di sini.”
Bukan perintah. Itu semacam permintaan, dan Sintia, yang dulu dibungkam dengan kalimat yang nyaris sama di gubuk berbau apak itu, justru menangis lebih keras.
Tangan kiri Stevano terkulai di genggamannya. Masih hangat. Masih ada denyut di pergelangannya, lemah tapi teratur. Bius, bukan peluru. Sintia mengulang kata itu di kepalanya seperti doa: bius, bukan peluru.
Sepatu-sepatu bot berlumpur mengepung mereka. Seragam hitam, rompi, senjata yang moncongnya tidak pernah turun meski lelaki di tanah itu sudah tak bergerak. Mahendra berdiri di belakang barisan, map tebal terselip di ketiaknya, hidung lancipnya memerah oleh dingin pagi.
“Amankan perempuan itu.”
Dua tangan menarik lengan Sintia. Genggamannya terlepas. Kepala Stevano terkulai ke tanah basah, ke atas daun-daun bambu yang luruh semalam, dan Sintia melihat seseorang memasang borgol di pergelangan tangan yang baru saja dia pegang.
Borgol. Besi yang mengunci. Sintia teringat rantai di gubuk reyot, gembok di kaki Fira, jeruji di lorong bawah tanah. Seharusnya ini terasa seperti keadilan. Seharusnya.
“Kamu sudah aman sekarang,” kata seorang polisi muda sambil menyampirkan selimut di bahunya, di atas kemeja putih yang bukan miliknya.
Aman. Sintia hampir tertawa. Dia membiarkan dirinya digiring ke mobil, sementara dua polisi wanita membantu Ibu turun dari mobil yang kacanya pecah. Perempuan tua itu masih mendekap bonekanya, masih bersenandung, seolah tidak ada yang berubah. Bagi dirinya, mungkin memang tidak ada.
Di jok belakang, Sintia mendengar dirinya sendiri berbisik, “Nggak ada tempat yang aman.” Kalimat itu seharusnya selesai di situ. Tapi lidahnya menambahkan, nyaris tanpa izin: “Selain di dekatnya.”
Sintia membekap mulutnya sendiri. Ngeri.
Dia tahu hari ini akan datang. Dia sendiri yang meminta Stevano untuk tidak lari, di depan api tiga batu, di bawah tebing, dengan suara yang dia kira teguh. Tapi tidak secepat ini. Tidak saat lelaki itu baru saja belajar berkata, “Itu namanya belenggu, bukan kasih.”
Suara ibunya datang pelan dari sudut ingatan: Tuhan tidak menghukum dengan tangan iblis. Lalu kalimat yang belum pernah dia dengar, tapi terasa seperti milik ibunya juga: Tuhan pun tidak menghapus utang hanya karena yang berutang sedang menangis.