The Syndrome: Topeng Merah

Marion Drossi
Chapter #44

Senyuman yang Sirna

SINTIA tidak tahu sudah berapa kali pertanyaan yang sama diulang padanya. Ruangan itu sempit, berdinding krem yang catnya mengelupas di sudut, dengan satu kipas angin yang berputar malas di langit-langit. Di atas meja, segelas teh yang sudah dingin, map setebal kamus milik Mahendra, dan sebuah foto yang ditaruh terbalik. Sintia tidak pernah membaliknya.

Sejak teriakan perintah penangkapan itu di halaman kantor polisi, dia tidak lagi diperlakukan sebagai korban saja. Kini dia saksi kunci, yang dijaga dua polwan di depan pintu, siang dan malam, supaya tidak lari lagi.

“Sejak kapan Anda bersamanya, Mbak Sintia? Di mana saja dia menyekap Anda? Apa Anda pernah melihat dia membunuh?”

Sintia diam. Seorang psikolog didatangkan, perempuan berkacamata dengan suara selembut kapas, yang lebih banyak mendengarkan daripada bertanya. Namun, Sintia tetap diam. Bukan karena dia ingin melindungi Stevano. Setidaknya, itu yang terus dia katakan pada dirinya sendiri. Dia diam karena setiap kali mulutnya terbuka, yang ingin keluar adalah dua cerita sekaligus: tentang topeng merah dan lubang berisi tulang, juga tentang mangga dan kemeja putih yang disampirkan di bahunya. Dan dia tidak tahu bagaimana menceritakan keduanya tanpa terdengar gila.

Psikolog itu menuliskan sesuatu di buku catatannya. Dari tempatnya duduk, Sintia hanya bisa membaca satu kata, digarisbawahi dua kali: Stockholm.

Kabar-kabar datang kepadanya sepotong-sepotong, seperti remah roti di jalan setapak. Ibu Stevano kini dirawat di rumah sakit jiwa milik pemerintah; kata seorang polwan, perempuan tua itu menolak melepaskan bonekanya, bahkan saat dimandikan. Lelaki berambut keriting dari Marina selamat, tetapi tulang wajahnya retak di tiga tempat, dan dia kini juga berstatus tersangka. Polisi sudah menghubungi rumah nenek di kampung. Farhan, kata mereka, akan datang dengan bus pertama minggu depan.

Farhan. Sintia menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Bagaimana caranya menjelaskan kepada adiknya bahwa uang SPP yang dia terima beberapa bulan terakhir berasal dari tangan yang sama dengan yang menggali lubang itu?

Tiga minggu kemudian, tanggal sidang ditetapkan. Keluarga para korban sudah mendaftar untuk hadir, puluhan nama, dan Mahendra bilang masih ada keluarga lain yang menelepon setiap hari dari kota-kota berbeda, bertanya apakah foto anak perempuan mereka ada di antara yang ditemukan.

Sehari sebelum Stevano dipindahkan ke rumah tahanan, Sintia diizinkan menemuinya sekali lagi. Mungkin karena dia berjanji akan bicara sesudahnya. Mungkin karena psikolog itu menganggap pertemuan ini perlu. Sintia tidak bertanya.

Sel itu ada di ujung lorong, berbau keringat, karbol, dan tembok yang tak pernah kering. Cahaya masuk hanya dari jendela kecil berjeruji di dekat langit-langit. Jeruji. Sintia teringat perempuan-perempuan di lorong bawah tanah, enam puluh pasang mata yang menatapnya dari balik besi berkarat, dan perutnya mengejang.

Kini Stevano yang duduk di balik jeruji itu, bersandar ke dinding, dengan kaus tahanan berwarna oranye yang terlalu kecil untuk bahunya. Perban di perutnya sudah diganti perban rumah sakit yang putih bersih. Bekas gigitan di punggung tangan kirinya kini hanya garis pucat yang samar.

“Vano.”

Pelan sekali Stevano mengangkat kepala. Untuk sesaat, matanya yang kuning keemasan tampak kosong, seperti mata yang dulu menatap layar televisi gelap di istananya. Lalu dia melihat siapa yang datang, dan sesuatu kembali ke wajah itu.

Senyum lelah yang sama seperti malam pertama mereka bertemu.

Sintia tidak sadar kakinya melangkah. Tahu-tahu dia sudah berlutut di depan jeruji, dan tangan Stevano terulur melewati celah besi untuk menangkap jemarinya.

“Jangan menangis,” kata Stevano pelan. Seperti dulu, tetapi bukan seperti dulu. Kali ini terdengar seperti permohonan. “Semua ini akan segera berakhir.”

“Berakhir seperti apa?”

“Seperti yang seharusnya.” Stevano menatap tangan mereka yang bertaut di antara besi. “Bukan akhir yang sedih. Bukan juga yang bahagia. Hanya ... yang adil, kalau Dia memang adil.”

Lihat selengkapnya