The Syndrome: Topeng Merah

Marion Drossi
Chapter #45

Mempertahankan Cinta

“JADI, kenapa Anda meminta kami meringankan hukumannya?”

Mahendra tidak berteriak. Dia hanya meletakkan bolpoinnya di atas map setebal kamus itu, lalu menatap Sintia dengan mata lelah seorang lelaki yang tiga bulan terakhir tidur di kursi kantornya. Di dinding di belakangnya tertempel peta hutan di hulu sungai, penuh paku pines merah. Sintia tidak perlu menghitung untuk tahu jumlahnya.

Sintia sudah bicara. Sejak pertemuan di sel itu, dia menceritakan semuanya, seperti yang Stevano minta: gubuk reyot, topeng merah, rumah tua berpilar, lubang di balik gerbang besi, jurnal bersampul kulit di atas meja jati. Petugas yang mengetik keterangannya sampai dua kali meminta izin keluar ruangan. Tetapi di ujung keterangannya, Sintia menambahkan satu kalimat yang membuat seisi ruangan menoleh: Saya mohon agar dia tidak dihukum mati.

“Dia menculik lebih dari seratus orang, Mbak Sintia.” Suara Mahendra tetap datar. “Yang selamat pun, sebagian besar tidak bisa tidur tanpa lampu menyala. Ada yang menjerit setiap kali mendengar bunyi rantai. Ada yang tidak mau bicara sama sekali.”

“Saya tahu, Pak.” Sintia menatap kedua tangannya di pangkuan. Di pergelangannya masih ada bekas tali yang samar, sisa malam pertama di gubuk itu. “Saya salah satunya.”

“Lalu kenapa?”

Sintia membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Kalimat yang muncul pertama di kepalanya adalah kalimat yang dia benci: karena aku mencintainya. Dia tidak mengucapkannya. Dia tidak yakin itu benar, dan dia lebih tidak yakin lagi bahwa itu adalah alasan yang pantas diucapkan di ruangan yang dindingnya penuh paku pines merah.

Di atas meja, laporan psikolog itu tergeletak terbuka. Sintia sudah membacanya diam-diam saat Mahendra keluar sebentar. Dua istilah ditulis dengan tinta biru: Stockholm Syndrome untuk dirinya, dan di bawahnya, dengan tanda tanya, Lima Syndrome untuk Stevano, kecenderungan penyandera untuk ikut terikat secara emosional pada sanderanya. Sintia membaca kalimat itu tiga kali. Rasanya seperti melihat isi kepalanya dibedah dan diberi nama dalam bahasa yang tidak dia kenal.

“Bukan karena saya ingin dia bebas,” katanya akhirnya. “Saya mau dia dihukum. Seumur hidup kalau perlu. Tapi kalau dia mati ...” Sintia mencari kata yang tepat. “Kalau dia mati, dia berhenti membayar. Mati itu terlalu gampang, Pak. Saya sudah bilang itu ke dia di hutan. Orang-orang yang dia sakiti berhak melihat dia menanggung semuanya, hari demi hari, dengan mata terbuka.”

Mahendra menatapnya lama. “Itu bukan alasan yang biasa saya dengar dari korban.”

“Saya juga bukan korban yang biasa, kan, Pak? Itu yang ditulis di laporan itu.”

Untuk pertama kalinya, sudut bibir Mahendra bergerak sedikit, bukan senyum, lebih mirip pengakuan. Dia mengambil selembar kertas lain dari dalam map dan menyodorkannya pelan ke seberang meja.

“Hasil pemeriksaan dari rumah sakit kemarin.” Dia berdeham. “Positif.”

Sintia menatap satu kata itu. Positif. Kecurigaannya di depan sel, haid yang terlambat, mual setiap pagi, kini punya bentuk, cap rumah sakit, dan tanda tangan dokter.

Lihat selengkapnya