The Syndrome: Topeng Merah

Marion Drossi
Chapter #46

Sebelum Hukuman Dijatuhkan

MALAM sebelum vonis dibacakan, rumah tahanan itu lebih sunyi dari biasanya. Hanya ada dengung lampu neon di lorong, tetes air dari pipa yang bocor, dan sesekali batuk seseorang dari sel di ujung.

Sudah sepekan Stevano tidak melihat Sintia. Pertemuan terakhir mereka hanya di ruang sidang, terpisah dua baris kursi dan seorang polwan. Sintia duduk di bangku saksi dengan suara bergetar tetapi tidak berhenti, bercerita tentang beringin, gubuk reyot, topeng merah, lubang di balik gerbang besi, persis seperti yang Stevano minta. Dia tidak mengurangi apa pun. Stevano mendengarkan semuanya dengan kepala tegak, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya dia merasa bangga pada seseorang tanpa ingin memilikinya.

Jaksa menuntut hukuman mati. Seratus sembilan perempuan tercatat, kata jaksa itu, dan tim forensik masih menggali. Besok pagi, majelis hakim akan memutuskan.

Malam itu, petugas berkumis yang biasa mengantar makanan datang terlambat dan berbau arak. Dia meletakkan nampan, lalu tidak langsung pergi. Dia berjongkok di depan jeruji, menyodorkan selembar koran yang sudah lecek.

“Lihat, nih. Pacarmu masuk koran.” Di halaman depan ada foto Sintia, buram, diambil dari jauh saat dia keluar dari pintu belakang pengadilan. Judulnya dicetak tebal: SAKSI KUNCI DIDUGA HAMIL ANAK SANG PEMBUNUH. “Kasihan. Anaknya nanti dipanggil apa, ya? Anak iblis?”

Tangan Stevano melesat keluar jeruji sebelum dia sempat berpikir. Leher petugas itu ada di genggamannya. Kulitnya hangat dan berdenyut. Koran terjatuh. Petugas itu megap-megap dengan mata membelalak, kakinya menendang-nendang lantai. Dan di kepala Stevano, semuanya mendadak diam. Diam yang dia kenal. Diam yang dulu datang pada malam ayahnya mati.

Jangan jadi dia.

Suara itu bukan suara Sintia, bukan juga suaranya sendiri. Pelan, nyaris seperti seseorang yang berdoa di ruangan sebelah.

Maka jari-jari Stevano terbuka satu per satu. Petugas itu terjengkang ke belakang, terbatuk-batuk, lalu lari terbirit-birit menyusuri lorong tanpa menoleh. Di lantai, tepat di luar jeruji, ada sesuatu yang dia tinggalkan: seikat kunci di gelang logam, yang terlepas dari ikat pinggangnya saat dia terjatuh.

Stevano menatap kunci itu lama sekali. Lalu tangannya menjulur, perlahan, dan meraihnya. Logam itu dingin dan berat. Salah satu kunci bertanda merah dengan cat kuku, kunci sel. Dia tahu, karena dia sudah sepekan menghafal bunyi setiap kunci yang diputar petugas di gembok itu.

Dia bisa membayangkan semuanya. Gembok yang terbuka tanpa suara. Lorong yang dia lalui sambil menempel dinding. Gerbang utama dengan kawat berduri dan pecahan kaca di puncaknya, yang akan merobek telapak tangannya, tetapi dia sudah pernah merasakan sakit yang lebih buruk. Jalanan kota yang basah. Gang sempit dengan tikus dan kucing yang mengais tong sampah, seperti gang tempat dulu dia menemukan seorang perempuan kelaparan. Dan di ujung semua itu, sebuah pintu yang dia ketuk dengan sisa tenaga, dan suara yang dia rindukan lebih dari apa pun.

Dia bahkan bisa mendengar kalimat yang akan diucapkan di depan pintu itu. Sintia, saya pulang. Untukmu dan anak kita.

Stevano memejamkan mata, menggenggam kunci itu sampai giginya menancap di telapak tangan.

Itu bukan pulang, pikirnya. Itu lari. Dan dia sudah berjanji di depan api tiga batu: kalau kamu memang ingin menebus, jangan lari. Bahkan kalau aku yang memintamu lari.

Lihat selengkapnya