The Syndrome: Topeng Merah

Marion Drossi
Chapter #47

Harapan untuk Hidup Bersama

PAGI itu, halaman Pengadilan Negeri sudah penuh sebelum matahari benar-benar naik. Wartawan berdesakan di balik pagar besi dengan kamera terangkat tinggi. Di seberang jalan, puluhan orang berdiri berjajar sambil memeluk bingkai foto. Ada foto wisuda, foto KTP yang diperbesar sampai buram, foto seorang gadis tertawa di pantai. Seorang ibu berkerudung abu-abu membentangkan kain putih bertuliskan cat semprot merah: KEMBALIKAN ANAK KAMI. Di bawah kalimat itu, dengan tulisan yang lebih kecil dan lebih goyah: Rina, 19 tahun.

Sintia masuk lewat pintu samping, diapit dua polwan yang sama, yang sudah tiga minggu tak pernah jauh darinya. Farhan berjalan di sebelahnya dengan kemeja putih yang dia bawa dari kampung, kerahnya terlalu longgar untuk lehernya yang kurus. Sejak turun dari mobil, adiknya itu tidak melepaskan tangannya.

“Kak,” bisik Farhan di lorong, “orang-orang itu ... mereka semua keluarganya?”

“Iya.”

“Banyak banget.”

“Seratus sembilan.” Sintia menelan ludah. “Dan polisi bilang masih ada yang belum ketemu.”

Ruang sidang utama berbau kayu tua dan pendingin udara yang terlalu dingin. Kursi pengunjung sudah penuh. Sintia didudukkan di barisan saksi, di samping pengacara berkemeja batik yang beberapa minggu lalu datang membawa amplop cokelat berisi kuitansi SPP Farhan. Mahendra berdiri di dekat pintu, jaket kulitnya dilipat di lengan, matanya mengawasi seisi ruangan.

Di barisan terdepan bangku pengunjung, Sintia mengenali dua wajah. Yang pertama gadis muda dari balik jeruji di lorong bawah tanah. Rambutnya kini dipotong pendek dan rapi, lehernya masih menyisakan bekas merah samar dari besi. Gadis itu mengangguk kecil kepada Sintia, nyaris tak kelihatan. Yang kedua perempuan berkulit sawo matang dengan bekas luka di pelipis. Dia tidak mengangguk, hanya menatap Sintia lama, tanpa ekspresi, lalu memalingkan wajah ke depan.

Sintia menekan telapak tangan ke perutnya. Kebiasaan baru yang belum sempat dia sadari. Lalu pintu di sisi kanan ruangan terbuka, dan ruang sidang mendadak senyap. Stevano Erlangga masuk dengan rompi tahanan berwarna oranye di atas kemeja putih. Kedua tangannya diborgol di depan tubuh. Rambutnya dipotong pendek, nyaris cepak. Tanpa rambut yang dulu tersisir rapi, wajahnya tampak lebih muda dan lebih telanjang. Lelaki di baliho-baliho kota itu sudah tidak ada. Yang berjalan pelan ke kursi terdakwa hanyalah seorang lelaki yang kelelahan.

Dari bangku pengunjung, seseorang meludah ke lantai. Seseorang lain berteriak, “PEMBUNUH!” dan palu hakim mengetuk tiga kali.

Stevano tidak menoleh ke arah suara itu. Dia juga tidak menoleh ke arah Sintia. Sintia tahu itu disengaja. Dia tahu, karena tangan Stevano yang diborgol mengepal di atas pangkuan, dan punggung tangan kirinya, tempat bekas gigitan yang kini tinggal garis pucat, gemetar halus.

Hakim ketua, lelaki beruban dengan kacamata tebal, membuka sidang dengan suara datar yang sudah terlalu sering membacakan nasib orang. Tuntutan jaksa dibacakan ulang: pembunuhan berencana terhadap seratus sembilan perempuan, penyekapan, perkosaan, dan penganiayaan berat. Jaksa menuntut hukuman mati.

Kata itu jatuh ke ruangan seperti batu ke sumur. Dari bangku pengunjung, terdengar isak. Ada pula yang bertepuk tangan, sekali, sebelum ditegur petugas.

“Terdakwa,” kata hakim, “sebelum majelis membacakan putusan, Saudara diberi kesempatan terakhir untuk menyampaikan sesuatu.”

Stevano berdiri. Dia tidak membawa pembelaan tertulis. Pengacaranya sudah memberi tahu Sintia: dia menolak semua pembelaan. Yang dia keluarkan dari saku kemejanya hanyalah selembar kertas bergaris, terlipat empat, penuh tulisan tangan yang rapat.

“Saya tidak meminta keringanan,” katanya. Suaranya tenang, bariton yang dulu membuat Sintia gemetar dalam gelap. “Saya hanya ingin membacakan sesuatu. Ini nama-nama yang saya ingat. Saya menulisnya ulang di sel, karena jurnal saya sudah disita.”

Dia membuka kertas itu.

“Silvi.”

Seorang perempuan tua di barisan belakang memekik pelan, lalu menutup mulut dengan kedua tangan.

“Rina, Dewi, Anggraini, Laras ...”

Nama demi nama. Suaranya tidak pernah meninggi, juga tidak pernah pecah. Setiap kali sebuah nama disebut, ada yang bereaksi di suatu tempat di ruangan itu: tangis yang tertahan, kepala yang tertunduk, bingkai foto yang didekap lebih erat. Sintia menghitung dalam hati sampai dia tak sanggup lagi menghitung.

“Fira.”

Lihat selengkapnya