The Syndrome: Topeng Merah

Marion Drossi
Chapter #48

Menuju Kebahagiaan yang Sebenarnya

LIMA bulan setelah palu hakim diketuk, perut Sintia sudah tak bisa lagi disembunyikan di balik kemeja longgar. Ia kini tinggal di sebuah kontrakan dua petak di pinggir kota, tiga gang dari sekolah Farhan. Dindingnya bercat hijau muda yang mulai pudar, mirip warna ruang tunggu di pengadilan, dan setiap kali hujan, atap sengnya berbunyi seperti ribuan jari yang mengetuk. Dia bekerja menjahit di rumah, menerima permak celana dan baju seragam dari tetangga. Uangnya tidak banyak, tetapi setiap rupiahnya bersih, dan Sintia menghitungnya setiap malam.

Farhan kini kelas tiga SMA. Uang sekolahnya sudah lunas sampai lulus. Sintia sudah menceritakan semuanya pada adiknya, tentang dari mana uang itu datang. Farhan diam lama sekali malam itu, lalu berkata pelan, “Aku tetap mau lulus, Kak. Biar uang itu nggak sia-sia. Biar ada satu hal baik yang keluar dari semua ini.” Sejak itu, Farhan belajar sampai larut. Sintia tidak pernah lagi menyuruhnya tidur.

Setiap Minggu pagi, Sintia naik angkot dua kali ke rumah sakit jiwa di ujung kota, membawa rantang berisi sup ayam jahe. Ibu Stevano kini mau makan, sedikit-sedikit, asalkan disuapi. Bonekanya masih didekap di lengan kiri. Dia masih memanggil boneka itu Vano. Tetapi pada kunjungan bulan lalu, untuk pertama kalinya, tangan keriput itu terulur dan menyentuh perut Sintia yang membulat.

“Istri Vano,” bisiknya. “Cucu saya, ya?”

Sintia tidak menjawab. Dia hanya menggenggam tangan itu dan membiarkannya tetap di sana.

Sebulan sekali, Sintia menempuh perjalanan empat jam dengan bus antarkota menuju lembaga pemasyarakatan tempat Stevano menjalani hukumannya. Antre di depan gerbang bersama ibu-ibu yang membawa kantong plastik berisi rokok dan mi instan. Menyerahkan KTP, digeledah, menunggu namanya dipanggil. Pertama kali, tubuhnya gemetar melihat jeruji di setiap lorong. Sekarang, dia sudah bisa berjalan melewatinya tanpa menghitung.

Ruang kunjungan itu berupa aula panjang dengan meja-meja plastik dan kipas angin yang berdecit. Stevano selalu duduk di meja paling ujung, di bawah jendela. Rambutnya kini dipangkas cepak seperti semua narapidana lain. Kulitnya lebih gelap karena bekerja di bengkel kayu lapas. Tidak ada lagi jas hitam, tidak ada lagi pantofel mengilap. Hanya kaus biru pudar dan sandal jepit. Dan untuk pertama kalinya, menurut Sintia, dia terlihat seperti manusia.

“Bagaimana Mom?” Selalu itu yang pertama dia tanyakan.

“Mau makan. Dia pegang perutku bulan lalu.”

Stevano menunduk. Tangannya mengetuk-ngetuk meja dengan pelan. Kebiasaannya kalau sedang menahan sesuatu. “Dia ... ingat?”

“Dia bilang cucu.”

Stevano tidak menjawab. Matanya yang kuning keemasan berkaca-kaca, dan dia memalingkan wajah ke jendela, ke langit yang terpotong-potong oleh jeruji. Lalu dia bercerita, seperti setiap kali Sintia datang. Tentang bengkel kayu tempat dia bekerja dari pagi sampai asar. Tentang seorang narapidana tua yang mengajarinya menyerut papan tanpa membuat serat kayunya pecah. Tentang ustaz yang datang setiap Kamis malam, yang tidak pernah bertanya apa yang sudah ia lakukan, hanya mengajarinya membaca huruf-huruf yang dulu ia anggap omong kosong.

“Saya belajar sujud,” katanya suatu kali, suaranya nyaris tenggelam oleh decit kipas angin. “Dahi saya menyentuh lantai. Lantai yang sama dengan lantai sel saya. Rasanya ... aneh. Seperti meletakkan sesuatu yang terlalu berat.” Dia tertawa kecil, kaku. “Saya belum tahu apakah Dia mendengar. Tapi kepala saya diam. Bukan diam yang dulu. Ini semacam diam yang lain.”

Sintia mengerti. Dia pernah merasakan diam yang sama, di gubuk reyot itu, malam ketika dia pertama kali kembali berdoa.

“Kamu tahu,” kata Stevano pada kunjungan bulan kelima itu, “waktu di rumah tahanan dulu, saya pernah membayangkan semuanya. Kabur lewat jendela, menelepon seseorang, tiket pesawat ke negara yang jauh, atas nama orang lain. Kamu, saya, dan dia,” matanya turun ke perut Sintia, “di rumah kecil dekat pantai. Saya membayangkannya sampai detail. Warna gordennya, bau garamnya.”

“Lalu?”

“Lalu saya sadar itu bukan kebahagiaan. Itu cuma pelarian.” Dia tersenyum. “Bahagia yang sebenarnya mungkin begini. Saya di sini, membayar. Kamu di sana, hidup. Dan dia ...” Tangannya berhenti mengetuk meja. “Dia lahir tanpa harus menanggung apa pun dari saya.”

Sintia menggigit bibir. “Itu bukan kebahagiaan. Itu keadilan.”

“Mungkin untuk orang seperti saya, adil adalah satu-satunya bahagia yang pantas.”

Lihat selengkapnya