KAMAR jenazah lapas itu lebih dingin daripada yang Sintia bayangkan. Lampu neonnya berkedip sekali setiap beberapa detik, seperti mata yang mengantuk. Bau formalin bercampur karbol menempel di tenggorokan, dan di sudut ruangan sebuah kipas angin tua berputar tanpa alasan, menggerakkan ujung kain putih yang menutupi satu-satunya ranjang besi di sana.
Mahendra berdiri di dekat pintu dengan jaket kulit yang sama, kedua tangan masuk ke saku. Dia tidak berkata apa-apa ketika petugas menyingkap kain itu sampai ke dada.
Wajah itu tidak berubah. Rahang tegas, hidung yang menukik, rambut cepak yang mulai tumbuh. Kelopak matanya tertutup rapat, menyembunyikan kuning keemasan yang dulu membuat Sintia gemetar. Dan di bibirnya, senyum yang kata petugas tadi pagi tampak tenang.
Sintia menyentuh pipinya yang dingin seperti dinding sel, seperti besi jeruji, seperti sungai di belakang rumah tua itu.
“Vano?” Suaranya keluar terlalu kecil. “Kamu bercanda, kan? Kamu cuma capek. Kamu bilang di sana kamu susah tidur.”
Tak ada jawaban. Hanya kipas angin yang berdecit, dan bayi di perutnya yang tiba-tiba diam, seolah ikut menahan napas.
“Serangan jantung,” kata Mahendra pelan, akhirnya. “Itu dugaan dokter lapas. Tidak ada tanda kekerasan. Teman satu blok bilang dia salat malam seperti biasa, lalu tidur. Waktu apel subuh, dia sudah begini.” Dia diam sebentar. “Kami tetap akan minta autopsi. Saya tidak suka kebetulan.”
Sintia tidak mendengar sisanya. Dia mengguncang bahu dingin itu sekali, lalu sekali lagi, lebih keras.
“Bangun. Bangun, Vano! Kamu belum selesai membayar semuanya! Kamu janji nggak akan lari!” Suaranya pecah di dinding keramik. “Ini lari namanya! Kamu dengar? INI LARI!”
Petugas itu melangkah maju, tetapi Mahendra mengangkat tangan, menahannya.
Sintia memukul dada itu dengan kepalan tangannya. Dada yang dulu menindihnya di ranjang penuh kecoak, dada yang kemudian menjadi tempatnya bersandar di depan api tiga batu. Dia tidak tahu sedang memukul yang mana. Mungkin keduanya.
“KENAPA, TUHAN?!”
Teriakan itu memantul, lalu habis. Yang tersisa hanya isak, dan tubuhnya yang merosot sampai lututnya menyentuh lantai yang dingin.
Dulu, di depan keranda ibunya, dia juga pernah bertanya seperti ini. Lalu dia memunggungi Tuhan bertahun-tahun, dan tak satu hari pun terasa lebih ringan karenanya. Dia tahu itu. Dia tahu jalan itu tidak membawanya ke mana-mana. Namun malam ini, untuk sesaat, dia ingin melangkah ke sana lagi.
“Aku tahu dia bukan milikku,” bisiknya, dahi menempel pada tepi ranjang besi. “Aku tahu dia milik-Mu. Mereka semua milik-Mu. Silvi, Rina, perempuan-perempuan di lubang itu. Aku cuma ... aku cuma ingin dia sempat melihat anaknya. Sekali saja. Apa itu terlalu banyak?”