LAMA Sintia berdiri di balik pintu itu, telapak tangannya menempel pada daun pintu triplek yang dingin oleh gerimis. Di luar, lelaki itu tidak mengetuk lagi, hanya menunggu, dengan kesabaran yang sangat dia kenal.
Tiga jam yang lalu, Sintia menyentuh pipi yang dingin di bawah lampu neon kamar jenazah. Sekarang wajah yang sama berdiri di teras kontrakannya, basah oleh hujan, bernapas.
Kalau ada yang datang dengan wajah saya, jangan buka pintu.
Sintia memejamkan mata. Kalimat itu masih segar, seperti tinta yang belum kering. Maka dia mundur selangkah, lalu teringat sesuatu yang lebih tua dari kalimat itu, tujuh hari di gubuk bambu, kepala yang berat di pangkuannya, dan janji yang ia ucapkan pada dirinya sendiri, bahwa ia tidak akan pernah lagi membiarkan orang lain memutuskan apa yang nyata untuknya.
Dia ingin melihat sendiri. Maka Sintia memasang rantai pengaman, rantai kecil berkarat yang dipasang Farhan minggu lalu setelah wartawan kedua mengetuk malam-malam. Baru setelah itu dia membuka pintu, sejengkal saja.
Lampu teras yang kuning dan berkedip-kedip jatuh tepat di wajah lelaki itu. Sintia menahan napas.
Mata kuning keemasan itu, hidung mancung yang menukik, rahang yang tegas, dagu yang lancip. Bahkan bekas luka kecil di dekat alis, entah bekas apa, ada di tempat yang sama. Hanya rambutnya yang membuat Sintia ragu. Di bawah lampu kuning itu warnanya hitam, tetapi saat dia menoleh, ujung-ujungnya memantulkan sesuatu yang lebih terang, seperti pasir basah.
“Sintia.” Dia tersenyum. “Akhirnya.”
“Kamu … siapa?”
“Kamu tahu siapa aku.” Suara bariton itu, berat dan sedikit serak. “Aku Vano. Dan aku pulang.”
Aku.
Sintia mencengkeram kusen pintu. Selama berbulan-bulan, di gubuk, di bawah pohon mangga, di balik jeruji sel dan meja plastik ruang kunjungan, Stevano tidak pernah sekali pun menyebut dirinya “aku” di depannya. Selalu “saya”. Kaku, sopan, seperti lelaki yang belajar bicara dari rapat dewan direksi. Bahkan saat menangis. Bahkan saat sekarat oleh demam.
“Vano sudah meninggal,” bisik Sintia. “Aku baru dari kamar jenazah.”