The Syndrome: Topeng Merah

Marion Drossi
Chapter #51

Imitasi

DUA puluh tujuh tahun yang lalu, di sebuah rumah sakit swasta di pusat kota, seorang dokter kandungan memutar layar monitor ke arah pasangan yang duduk tegang di depannya. Di layar hitam-putih itu, dua titik kecil berdenyut berdampingan.

Kembar. Dua anak laki-laki.

Perempuan itu menutup mulut dengan kedua tangan dan menangis. Lima tahun dia menunggu. Suaminya, lelaki Eropa berambut pirang dengan aksen yang tak pernah benar-benar hilang meski sudah lama menjadi warga negara Indonesia, tertawa renyah, tawa yang kelak akan diingat salah satu anaknya sebagai bunyi paling hangat sekaligus paling dingin di dunia.

“Akhirnya akan ada yang meneruskan nama saya,” katanya. “Dua sekaligus.”

Dua bulan kemudian, bayi-bayi itu lahir, terpaut lima menit. Matanya sama-sama kuning keemasan, hidungnya sama-sama lancip. Hanya rambut yang membedakan mereka: yang lahir lebih dulu pirang seperti ayahnya, yang lahir kemudian hitam seperti ibunya.

Sang ayah menamai yang pirang Revano. Yang berambut hitam Stevano. Tetapi di rumah, ibunya memanggil keduanya dengan nama yang sama, nama yang lebih pendek dan lebih hangat: Vano. “Biar adil,” katanya sambil tertawa. Dia tidak tahu bahwa kelak nama itu akan menjadi satu-satunya hal yang mereka perebutkan.

Mereka tumbuh dengan segalanya, rumah besar di kompleks perumahan elite, mainan yang dikirim dari luar negeri, bahasa Inggris dengan ayah dan bahasa Indonesia dengan ibu. Sampai usia delapan tahun, mereka melakukan segalanya berdua, bermain berdua, belajar berdua, tidur di ranjang yang sama meski kamar mereka ada dua.

Lalu Revano menemukan dunia di luar pagar. Dia ramah, mudah tertawa, punya lima teman yang menunggunya setiap sore di taman dekat kompleks. Stevano tidak bisa, atau tidak mau, mengikutinya. Dia tetap di ruang keluarga, dengan permainan video yang dibelikan ibunya untuk dimainkan berdua.

“Contoh kakakmu,” kata ayahnya suatu sore, tanpa menurunkan koran. “Dia mengerti bahwa dunia ada di luar rumah. Kamu harus belajar darinya, kalau mau jadi pewaris saya.”

“Dia baru sembilan tahun, Mas,” kata ibunya.

Sejak sore itu, ruang keluarga lebih sering diisi suara pertengkaran daripada suara permainan. Ayahnya makin jarang pulang dan makin sering menyebut nama Revano di meja makan. Stevano mulai percaya bahwa rumah itu retak karena dirinya.

Suatu sore dia menemukan ibunya menangis sendirian di sofa. Ayahnya baru saja pergi dengan pintu dibanting. Revano lewat di belakang sofa, melihat ibunya menangis, lalu tetap memakai sepatunya dan keluar.

“Maafkan Vano, Bu,” bisik Stevano sambil memeluk ibunya.

“Bukan salahmu, Nak.” Ibunya mengusap rambut hitamnya. “Bukan salah siapa-siapa.”

Namun Stevano sudah keluar pintu. Taman itu ada di seberang jalan kompleks. Revano duduk di bangku, tertawa bersama teman-temannya. Ketika melihat adiknya, dia tersenyum dan menghampiri.

“Ada apa?”

Lihat selengkapnya