The Syndrome: Topeng Merah

Marion Drossi
Chapter #52

Konfrontasi

PEMAKAMAN umum di pinggir kota itu sepi pagi itu. Hanya ada lima orang yang berdiri di sekeliling lubang tanah merah, di antaranya Sintia, Farhan, Mahendra dengan jaket kulitnya yang tidak pernah diganti, pengacara berkemeja batik, dan seorang ustaz tua yang membaca doa dengan suara serak. Tak ada karangan bunga. Tak ada nama perusahaan di pita duka. Lelaki yang dulu wajahnya terpampang di baliho-baliho kota dikuburkan seperti orang yang tidak punya siapa-siapa.

Sintia tidak menangis waktu jenazah itu diturunkan. Dia sudah menangis di kamar jenazah, di angkot, di kamar mandi kontrakan pukul tiga dini hari. Yang tersisa kini hanya tangan yang menekan perut, tempat bayinya menendang pelan seolah ikut mendengarkan doa.

Ketika tanah terakhir ditimbun dan nisan kayu sementara ditancapkan, STEVANO ERLANGGA, ditulis dengan cat putih yang belum kering, Farhan menyentuh lengannya.

“Kak.” Suaranya rendah. “Di sana.”

Di bawah pohon kamboja, dua baris makam dari mereka, seorang lelaki berdiri dengan jas hitam dan pantofel mengilap yang terlalu bagus untuk tanah becek. Rambutnya disisir rapi ke belakang, hitam, kecuali di dekat telinga, tempat warna pirang mulai tumbuh dari akarnya. Dia memegang payung hitam padahal langit tidak hujan.

Mahendra sudah bergerak setengah langkah. Sintia menahannya dengan satu tangan.

“Biar saya,” katanya. “Bapak lihat saja dari sini.”

Revano tidak bergerak saat Sintia mendekat. Dia membiarkan perempuan itu berjalan sampai jarak dua langkah, lalu tersenyum, senyum dengan sudut kanan bibir terangkat dan alis kiri ikut naik. Di siang hari, tanpa lampu jalan dan bayangan pintu, Sintia bisa melihat dengan jelas betapa senyum itu dilatih. Seperti orang yang mempelajari tanda tangan orang lain dari selembar cek.

“Kamu datang ke pemakaman adik yang kamu bilang mencuri namamu,” kata Sintia.

“Aku datang ke pemakaman satu-satunya keluarga yang tersisa.” Revano melipat payungnya. “Selain Ibu. Dan kamu. Dan dia.” Matanya turun ke perut Sintia.

Sintia menahan dorongan untuk mundur. “Kenapa rambutmu hitam?”

“Supaya kamu tidak kaget.” Dia menyentuh pelipisnya, dekat bekas luka kecil di ujung alis. “Supaya waktu kamu melihatku, kamu melihat yang kamu rindukan. Aku datang untuk membantumu, bukan untuk menyakiti.”

“Membantu apa?”

“Semua.” Revano merentangkan tangan sedikit, seolah pemakaman itu adalah ruang pamer. “Pengacara Stevano sudah memberitahumu? Akta kematianku dibatalkan pengadilan minggu lalu. Secara hukum, aku hidup lagi. Dan dengan meninggalnya Stevano, aku satu-satunya ahli waris Erlangga yang sah. Perusahaan, rumah, rekening. Semua yang dia rebut dari Ayah kembali ke tempatnya.”

Di belakang Sintia, pengacara berkemeja batik itu menunduk. Dia memang sudah mengatakannya, semalam, dengan suara yang hati-hati.

Lihat selengkapnya