The Syndrome: Topeng Merah

Marion Drossi
Chapter #53

Melawan Rasa

HASIL toksikologi keluar sembilan hari setelah pemakaman. Mahendra tidak duduk, lantas berdiri di ambang pintu kontrakan dengan jaket kulit yang basah oleh gerimis, menyodorkan selembar kertas yang ujungnya sudah lecek karena terlalu lama digenggam.

“Digoksin,” katanya. “Obat jantung. Dosis yang cukup untuk menghentikan jantung orang sehat dalam beberapa jam, dan hampir tidak meninggalkan jejak kalau tidak dicari dengan sengaja.” Dia menelan ludah. “Kami menemukannya juga di sisa kue lapis di tempat sampah blok sel. Kotak itu tidak pernah dibuka petugas.”

Sintia membaca kertas itu tiga kali. Huruf-hurufnya tidak berubah. Stevano tidak lari. Stevano tidak menyerah. Dia dibunuh setelah salat malam dengan sepotong kue yang dibawa sambil tersenyum oleh lelaki yang memakai wajahnya.

Anehnya, yang pertama kali Sintia rasakan bukan marah. Itu datang belakangan. Yang pertama justru semacam lega yang menyakitkan, lega karena lelaki itu menepati janjinya sampai napas terakhir. Lalu rasa itu terbakar habis oleh amarah yang begitu panas sampai tangannya gemetar.

“Surat penangkapan sudah diajukan,” kata Mahendra. “Tapi kamar hotelnya kosong sejak kemarin. Paspornya belum dipakai. Dia masih di kota ini.”

Keesokan paginya, telepon dari rumah sakit jiwa membuktikan bahwa Mahendra benar.

“Ibu Erlangga sudah dijemput keluarganya, Mbak. Tadi pagi. Kakaknya, katanya, dengan surat ahli waris yang sah. Kami tidak punya alasan menahan.”

Setengah jam kemudian, ponsel Sintia bergetar. Nomor tak dikenal. Sebuah foto perempuan tua berambut putih duduk di sofa beledu merah yang berdebu, memeluk boneka beruang, menatap kamera dengan mata kosong. Di belakangnya, Sintia mengenali tirai jendela itu. Rumah tua berpilar di tepi sungai, tempat semuanya dimulai.

Di bawah foto ada satu baris pesan. Mom ingin bertemu menantunya. Datang sendiri.

Sintia yang dulu akan langsung berlari. Sendirian tanpa alas kaki, menembus gelap seperti ngengat mengejar cahaya, seperti malam ketika dia mengejar bunyi mesin di tengah hutan dan berakhir dikepung. Sintia yang dulu percaya bahwa menolong seseorang berarti mengorbankan dirinya sendirian.

Kali ini dia menekan nomor Mahendra.

“Aku nggak mau lari sendirian lagi, Pak,” katanya, suaranya bergetar tapi jelas. “Tapi Ibu nggak punya siapa-siapa selain aku. Dia mau aku datang, kan? Biar aku datang. Tapi jangan biarkan aku sendirian di sana.”

Mahendra diam lama. Lalu dia menghela napas berat, napas lelaki yang sudah dua puluh tahun membenci rencana seperti ini. “Kamu masuk duluan, karena dia pasti mengawasi jalan. Tim saya menyusul dari arah sungai.” Dia menyerahkan perekam kecil yang sama, yang dulu memutar suara Stevano dari ruang kunjungan lapas. “Kalau keadaan memburuk, sebut nama Silvi. Itu tanda untuk kami.”


Garis polisi kuning di pagar rumah tua itu sudah robek, berkibar lemah diterpa angin sore. Gerbang berkarat masih menjerit saat didorong. Tanah halaman masih retak-retak, ilalang masih setinggi pinggang, dan tirai jendela lantai atas masih bergeser pelan, seperti dulu, seolah rumah itu tidak pernah tahu bahwa pemiliknya sudah mati.

Di dalam, ruang tamu diterangi satu lampu minyak. Ibu duduk di sofa beledu merah, bersenandung nina bobo yang sumbang, memeluk bonekanya. Dia tidak menoleh.

Dan dari kursi di seberangnya, lelaki itu bangkit berdiri. Kemeja putih. Rambut hitam yang baru dicat, kali ini sampai ke akar. Tasbih kayu melilit di pergelangan kirinya, persis milik Stevano, padahal Sintia tahu tasbih Stevano tersimpan di laci kontrakannya.

“Kamu datang.” Suaranya rendah, tenang, berat. “Saya tahu kamu akan datang.”

Saya.

Untuk satu tarikan napas, hanya satu, tubuh Sintia mengkhianatinya. Kakinya maju setengah langkah. Dadanya berdesir, rindu yang berbulan-bulan dia kubur tiba-tiba menyeruak, dan sebagian dirinya yang paling lelah berbisik, biarkan saja. Pura-pura saja. Bukankah ini yang kamu mau? Wajah itu, suara itu, kemeja putih itu. Kenapa harus peduli siapa yang ada di dalamnya?

Lalu bayinya menendang keras, tepat di bawah tulang rusuk.

Sintia menggigit bibirnya sampai terasa asin. Dan dia teringat suara ibunya, suara yang sejak berbulan-bulan lalu menjadi pagar di dalam kepalanya: Tidak semua yang terasa seperti kasih sayang adalah kasih sayang.

“Kamu bukan dia,” bisiknya. “Kamu cuma belajar ngomong kayak dia.”

Lihat selengkapnya