The Syndrome: Topeng Merah

Marion Drossi
Chapter #54

Akhir Alternatif 1: Akhir Bahagia

SIVA bangun lebih dulu daripada matahari, seperti biasa. Sintia mendengarnya dari dapur, bunyi telapak kaki kecil di lantai semen, lalu bunyi yang sudah tiga tahun menjadi lagu pagi di rumah kontrakan itu.

Kriet. Kriet. Kriet.

Ayunan kayu jati itu berdiri di sudut kamar, di bawah jendela yang menghadap gang. Kayunya tidak pernah dicat. Seratnya masih kelihatan, cokelat keemasan, berliku seperti peta sungai. Pak Darmo, kepala bengkel kayu di lapas, menyelesaikannya dari gambar yang ditinggalkan Stevano, lalu mengantarnya sendiri naik bus empat jam, dua minggu sebelum Siva lahir. “Dia titip pesan di pinggir kertasnya, Mbak,” kata lelaki tua itu waktu itu, menunjuk tulisan tangan kecil-kecil di pojok gambar. “Jangan dicat. Biar seratnya kelihatan.”

Siva sudah terlalu besar untuk tidur di ayunan itu. Sekarang dia memakainya sebagai kapal, kereta, istana, kadang-kadang sebagai tempat menyimpan boneka-boneka kainnya. Dia mendorongnya dengan kedua tangan, dan setiap derit kayu ia sambut dengan tawa.

Dulu bunyi itu membuat Sintia gemetar. Kursi goyang di ruang gelap, balai-balai bambu di tengah hutan. Sekarang, bunyi yang sama hanya berarti satu hal, bahwa anaknya sudah bangun, dan pagi baru dimulai.

“Mama! Kapalnya mau berangkat!”

“Sarapan dulu, Kapten.”

Siva Erlangga berusia tiga tahun, dengan rambut hitam sepunggung yang selalu kusut di pagi hari, bibir tipis seperti ibunya, dan sepasang mata kuning keemasan yang setiap kali menatap Sintia membuat napasnya tertahan sepersekian detik. Si untuk Sintia. Va untuk Vano. Nama belakangnya, Erlangga, Sintia biarkan tetap ada. Bukan untuk mengenang siapa pun yang membuat nama itu terkenal di koran-koran, tetapi karena anaknya berhak tahu dari mana ia berasal, dan berhak menjadi orang pertama dalam keluarga itu yang membuat nama tersebut berarti sesuatu yang lain.

Sintia masih menjahit. Pesanannya kini cukup banyak sampai dia bisa menyewa satu mesin lagi dan membayar tetangga sebelah untuk membantu. Farhan kuliah di kampus negeri di kota, jurusan teknik sipil. Dia pulang setiap Sabtu, membawa cucian kotor dan cerita tentang dosen yang galak, lalu menghabiskan sore dengan menggendong Siva di bahunya sambil berkeliling gang. Uang kuliahnya dibayar dari rekening yang diurus pengacara berkemeja batik itu, sisa harta Erlangga yang tidak disita negara dan tidak sempat diklaim siapa pun. Farhan pernah ingin menolaknya. Sintia memintanya menerima. “Dia minta kamu kuliah,” katanya. “Anggap saja itu satu-satunya utang dia yang bisa kita tagih.”

Revano tidak pernah ditemukan. Sungai itu hanya mengembalikan sebelah pantofel hitam, dan setelah satu tahun, polisi menutup pencariannya. Kadang-kadang, di malam-malam yang terlalu sunyi, Sintia masih terbangun dan menatap rantai pengaman di pintu depan. Tetapi tidak pernah ada ketukan. Lama-lama, dia berhenti menunggu.

Lihat selengkapnya