MARSITAH menjerit dengan mata memelotot. Ember cuciannya jatuh, dan sarung-sarung basah hanyut beberapa meter sebelum tersangkut di akar pohon. Di hilir sungai, di antara bebatuan besar yang licin oleh lumut, seonggok tubuh lelaki tersangkut telentang. Kemeja putihnya robek dan berwarna cokelat lumpur. Sebelah kakinya telanjang. Sebelahnya lagi masih bersepatu pantofel hitam yang mengilap, seolah tidak tahu bahwa pemiliknya baru saja dibanting arus.
Berbondong-bondong orang Kampung Orasusah datang. Kampung itu terletak empat jam ke hilir dari rumah tua di tepi sungai, terlalu jauh untuk mendengar kabar apa pun dari kota. Mereka berdiri di tepian dengan mulut menganga, dan tak ada yang berani turun.
“Panggil Pak Kades!” teriak Pak RT, lelaki berambut gondrong bergelombang.
Pak Kades Hasan datang tergopoh-gopoh, janggut putihnya bergoyang. “Astagfirullah. Ayo, bantu saya.” Bersama tiga lelaki, dia menyeret tubuh itu ke tepi, lalu menempelkan dua jari ke leher yang dingin.
Lama. Sangat lama.
Lalu dahinya berkerut. “Masih ada,” bisiknya. “Lemah sekali, tapi masih ada.”
Warga saling pandang. Marsitah, yang paling dekat, memperhatikan hal yang tak diperhatikan orang lain, rambut lelaki itu hitam, tetapi di dekat kulit kepalanya, pada akar-akarnya yang basah, warnanya pirang keemasan seperti cat yang luntur.
Mereka membawanya ke rumah Pak Kades dengan tandu dari sarung dan bambu. Tiga hari dia tidak sadarkan diri. Istri Pak Kades mengompres keningnya, membersihkan luka robek di pelipis dan memar di sepanjang rusuk. Di hari keempat, matanya terbuka.
Kuning keemasan seperti mata elang.
“Bapak siapa?” tanya Pak Kades pelan. “Dari mana? Keluarga Bapak di mana?”
Lelaki itu menatap langit-langit bambu lama sekali. Bibirnya pecah-pecah. Ketika akhirnya bicara, suaranya bariton, tenang, dan sopan, sangat sopan.
“Saya ... tidak ingat, Pak.” Jeda. Lalu, sudut kanan bibirnya terangkat sedikit, sangat sedikit sampai tak seorang pun di ruangan itu menyadarinya. “Tapi orang-orang biasa memanggil saya Vano.”
-II-
Sintia kehilangan bayinya delapan hari setelah malam di tebing. Dokter bilang itu bisa terjadi pada siapa saja, terlebih setelah guncangan sehebat itu, tangan yang mencengkeram, tanah basah yang licin di bibir jurang, ketakutan yang menekan perut berjam-jam. Dokter bilang itu bukan salahnya. Sintia mengangguk, menandatangani kertas-kertas, lalu pulang ke kontrakan dua petak dan duduk di samping ayunan kayu jati yang belum dicat.
Ayunan itu sudah selesai. Pak Darmo dari lapas mengirimkannya dua hari sebelumnya, dibungkus terpal biru dengan secarik kertas bertulisan tangan Stevano yang ditemukan di bengkel kayu. Jangan dicat. Biar seratnya kelihatan.
Sintia mengayunnya pelan dengan ujung jari.
Kriet. Kriet. Kriet.