Inspiration Song : Yasashii Hitotachi - Hoshi no Arika
Tokoh : Hayato & Runa
────୨ৎ────

"Mungkin bentuk cinta paling sederhana adalah ketika kita bisa menjadi tempat aman bagi setiap lelah yang ingin ia lepaskan."
‧₊˚♪ 𝄞₊˚⊹
Jalanan aspal hari itu terasa dingin, akibat hujan sedari siang. Sisa-sisa air menggenang di beberapa sudut jalan. Bau tanah basah yang khas masih menguar kuat di udara.
"Hayato!"
Panggilan itu membuyarkan lamunan pria usia dua puluh tujuh tahun itu. Ia tersentak, menghentikan langkah kakinya. Uap tipis mengalir dari sela bibirnya saat ia mengembuskan napas panjang, sebelum akhirnya menoleh ke arah sumber suara.
Seorang wanita yang usianya tak terpaut jauh darinya berlari kecil menghampirinya. Langkah kakinya menimbulkan cipratan air dari genangan aspal.
"Maaf ya!" serunya setengah terengah, langsung berhenti tepat satu langkah di depan Hayato.
Hayato memandangi wajah wanita itu yang sedikit memerah karena dingin dan lelah berlari. Ia memiringkan kepalanya, mencoba mencerna situasi. "Untuk apa?" tanyanya.
"Sepertinya hari ini aku terlalu banyak mengeluh," sahut wanita itu diiringi kekehan kecil, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu, berusaha mencoba mencairkan keheningan di antara mereka.
Hayato mendengus menahan tawa, lalu pura-pura berpikir sembari meletakkan jari tangan di dagunya. "Hmm, kalau dipikir-pikir, memang iya sih. Telingaku juga kayanya hampir copot karena mendengar ceritamu sejak tadi siang."
"Ih, Hayato!" Wanita itu mencubit pelan lengan jaket Hayato, cemberut, namun matanya berkilat geli. "Aku kan benar-benar kesal tadi!"
"Iya, iya, aku tahu," Hayato tertawa lepas, suara tawanya memecah keheningan jalanan basah itu. Ia menatap Runa dengan binar hangat yang sulit disembunyikan. "Tapi setidaknya, kamu terlihat jauh lebih hidup saat sedang mengomel seperti itu dibanding saat melamun sendirian."
"Maksudmu hidup? Aku memang terlihat kayak zombie, ya?" gerutu Runa. Cubitannya di lengan jaket Hayato terasa semakin kuat.
"Bukan begitu," bela Hayato sambil tersenyum geli. "Ya, maksudku, kamu bisa lebih ekspresif. Kamu juga merasa lebih lega, kan, setelah menumpahkan semua kekesalanmu tadi?"
Runa tertegun, membuat cubitannya di lengan Hayato perlahan melonggar. Ia buru-buru memalingkan wajahnya yang mendadak terasa panas, pura-pura sibuk memandangi riak air di genangan aspal.
"Runa, tidak ada larangan untuk mengeluh," ucap Hayato. Ia menatap Runa lekat-lekat, menyunggingkan senyum tipis yang meneduhkan. "Kamu boleh mengeluhkan apa pun yang kamu mau padaku."
Runa tetap sibuk memandangi jalanan aspal. Menyembunyikan perasaan malunya.
Setiap kali pulang kerja, Runa selalu mengawali percakapan dengan permintaan maaf. Katanya, ia terlalu banyak mengeluh hari itu. Padahal bagi Hayato, mendengarkan semua cerita itu bukanlah beban. Justru di situlah ia merasa dipercaya.
Runa mungkin tidak pernah tahu, betapa leganya Hayato setiap kali wanita itu memilih membiarkan sebagian dari rasa lelahnya singgah kepadanya.