Inspiration Song : AKMU - How can I love the heartbreak, you're the one I love.
Tokoh : Jae & Aera
────୨ৎ────

"Barangkali akhir terbaik untuk kita bukanlah hidup bersama, melainkan saling merelakan."
‧₊˚♪ 𝄞₊˚⊹
Ada masa dimana kita begitu yakin tentang cinta yang menetap. Cinta yang akan selalu berada dipihak kita, juga cinta murni yang akan berkorban melakukan apapun demi seseorang yang dicintainya.
Namun, semua itu ternyata hanya sebuah harapan yang kita bangun tentang cinta. Begitu pun dengan Aera. Ia begitu mengharapkan sebuah kisah cinta yang bisa benar-benar menjaganya dari kekalutan dunia.
"Aku rasa kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini, Ra," Suara Jae nyaris tenggelam oleh deru kendaraan yang melintas. Tidak keras, tidak pula bergetar. Justru karena terdengar begitu tenang, kalimat itu terasa semakin menyakitkan.
Aera menggeleng pelan. "Jae... aku tahu kamu lagi cape sama hubungan ini. Tapi aku yakin kita masih bisa memperbaiki semu—"
"Memperbaiki apa lagi, Ra?" potong Jae. Untuk pertama kalinya, nada suaranya meninggi. Aera terdiam, terkejut melihat lelaki yang selama ini selalu sabar kini kehilangan kendali.
"Ra," Jae mengembuskan napas panjang, seolah seluruh tenaganya habis hanya untuk mengucapkan kalimat berikutnya. "Aku.... aku udah coba. Aku udah berusaha untuk mempertahankan hubungan ini, Ra. Tapi nggak bisa."
"Nggak bisa kenapa? kamu bahkan gak pernah cerita apapun padaku," ungkap Aera penuh sesak.
"Itu karena ka—" ucapan Jae terjeda, ia ragu untuk bisa melanjutkan perkatannya itu.
"Karena... apa, Jae?" tanya Aera penuh ketakutan.
Jae menghela napas sesaat, "Udah ya, Ra." Jae menunduk, lalu melanjutkan dengan suara yang jauh lebih pelan. "Kita selesai." Jae kembali menatap Aera penuh keyakinan atas apa yang baru saja ia ucapkan.
Aera menggeleng kuat kepalanya, menekankan bahwa ia tidak ingin semuanya berakhir. "Nggak... nggak Jae. Aku nggak mau." Suaranya pecah. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh, membasahi pipi tanpa sempat ia usap. Napasnya mulai tak beraturan.
"Jae apa yang bisa aku lakuin biar kamu yakin sama hubungan ini yakin sama aku dan kamu enggak pergi gitu aja ninggalin aku? Aku kurang apa Jae? Apa kamu udah enggak suka lagi sama aku apa kamu udah ada yang la—" Kata-kata meluncur dari bibir Aera begitu cepat, tumpang tindih tanpa jeda, seolah ia sedang berkejaran dengan waktu agar Jae tidak berbalik pergi.
"Aera!" potong Jae tegas. Suaranya yang meninggi seketika memutus kalimat Aera yang mulai kehilangan kendali. Jae menarik napas berat, menatap perempuan di depannya dengan tatapan terluka. "Aku enggak mau kita saling menyakiti lebih lama lagi."
Di sekeliling mereka, kendaraan terus melaju, meninggalkan deru yang memenuhi jalanan. Namun tidak menghalangi Aera untuk bisa mempertahankan hubungannya dengan Jae.
Aera menggigit bibirnya. "Kalau aku berubah?"
Jae menggeleng pelan. "Ini bukan lagi tentang siapa yang harus berubah," suaranya begitu lirih, membuat suasana semakin kelam bagi Aera.
"Tapi aku maunya sama kamu, Jae." Tangis Aera semakin sesak.
Jae menatap Aera untuk waktu yang terasa sangat singkat, tetapi cukup lama untuk mengingat setiap garis wajah yang pernah menjadi tempatnya berbagi kisah.
"Udah ya, aku capek." Ucap Jae singkat. Namun, bagi Aera, dua kata itu terdengar seperti pintu yang perlahan ditutup dari sisi yang tak lagi bisa ia jangkau.
"Semua hari bahagia yang pernah kita lewati..." Jae menarik napas pelan. "Simpan saja sebagai kenangan. Jangan jadikan alasan untuk kita bertahan."
Sesaat, mereka hanya saling memandang.
Tidak ada lagi penjelasan. Tidak ada lagi kata-kata yang mampu mengubah keputusan itu.
Jae berbalik.
Langkah pertamanya terasa berat, seolah sebagian dari dirinya masih ingin tetap tinggal. Namun langkah kedua, ketiga, dan seterusnya membawanya semakin jauh dari perempuan yang selama ini menjadi tempat ia pulang.
"Jae!" Suara Aera memecah riuh jalanan. "Kamu jahat!"
Tangisnya pecah begitu saja. Air mata mengalir tanpa henti, sementara sesak di dadanya terasa semakin sulit ditahan.
Jae tetap berjalan.