Inspiration Song : KyoungSeo - 120BPM (Versi Korea) dan First Kiss - 初キスでハートは120BPM. (Versi Jepang).
Lagu ini memiliki dua versi yaitu versi bahasa Korea dan bahasa Jepang. Tapi keduanya sama-sama enak didengar, dan secara makna juga artinya sama.
Tokoh : Aluna, Bumi & Saga
────୨ৎ────

"Genggam tanganku sebelum lagu ini berakhir. Aku ingin menyamakan tempo dan berjalan bersamamu."
‧₊˚♪ 𝄞₊˚⊹
"Kamu selalu begini, Al! Egois, nggak pernah ngertiin posisi aku!" Saga setengah membentak. Matanya menatap tajam dengan kilat amarah yang sudah berbulan-bulan ini menyiksa hubungan mereka.
Aluna merasakan dadanya sesak. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh membasahi pipi. "Aku yang egois, Ga? Atau kamu yang udah nggak punya waktu lagi buat aku?" Suaranya bergetar hebat, menahan seluruh rasa sakit dari hubungan yang setiap hari hanya diisi pertengkaran.
"Tuh, kan... sekarang kamu malah nyalahin aku," tangkis Saga cepat, enggan mengalah.
"Nyalahin apa? Aku cuma bilang kamu udah gak punya waktu buat aku, bener, kan?"
"Udahlah... capek. Capek aku ngadepin cewek egois kaya kamu!"
Aluna mengangguk cepat, "Oke... kalau kamu kayak gitu, Ga. Emang kamu pikir aku nggak capek? Aku juga capek, Saga!" Suara Aluna akhirnya meninggi. Napasnya memburu saat dia membalas tatapan Saga dengan sisa-sisa keberanian yang ia punya.
Melalui kalimat yang bergetar itu, Aluna ingin menegaskan satu hal: dalam hubungan yang perlahan hancur ini, bukan hanya Saga saja yang merasa lelah. Aluna pun sudah berada di titik nadirnya.
Saga tidak menjawab. Laki-laki itu hanya mendengus kasar, menyunggingkan senyum sinis yang penuh rasa muak. Lalu pergi meninggalkan Aluna, seolah sudah tidak ada lagi yang perlu didebatkan dalam hubungan mereka.
Aluna runtuh. Ia berjongkok dan menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut. Bahunya berguncang hebat, tenggelam dalam tangis yang tak lagi mampu ia tahan.
"Udah nangisnya?" Suara yang tiba-tiba terdengar dari atas kepalanya itu membuat tangis Aluna tersendat. Sebelum dia sempat mendongak, sebuah saputangan bersih sudah terulur di depan wajahnya, ditemani aroma familier yang sangat ia kenal.
Bumi. Sahabatnya sejak SMA yang entah bagaimana bisa tahu Aluna di sini.
Aluna segera bangkit dan mengambil saputangan itu untuk ia usap pada wajah yang kini sudah basah oleh air mata.
"Udah, ya? Jangan nangis. Cowok kayak dia nggak layak dapet air mata kamu," hiburnya dengan suara berat yang menenangkan, juga senyuman hangat yang ia bagikan.
"Ayo pulang, ini udah mulai malam," ajak Bumi yang sosoknya saat ini benar-benar Aluna butuhkan.
Mereka berjalan berdampingan, ditemani lampu sorot yang mulai menerangi jalanan yang mereka lalui.
"Sebenarnya... apa yang kamu lihat dari cowok itu?" Pertanyaan Bumi yang tiba-tiba itu seketika membuat Aluna terdiam dan berpikir ulang tentang hubungannya dengan Saga.
Aluna menunduk, meremas jemarinya sendiri. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Sebab, Saga yang ia kenal dulu adalah sosok yang begitu baik dan penuh perhatian. Saga yang selalu berhasil membuat Aluna merasa menjadi perempuan paling bahagia lewat setiap momen kebersamaan mereka. Namun, itu dulu.
Sudah beberapa bulan terakhir ini hubungan mereka terasa sudah kedaluwarsa. Saga menjadi mudah kesal untuk hal-hal kecil. Ia tidak lagi membagi banyak waktu pada Aluna, hingga perlahan namun pasti, jarak di antara mereka mulai terasa membentang teramat jauh.
Bumi menghela napas panjang, "A-ah... memang ya cinta itu cepat berubah." Bumi menatap Aluna dengan senyuman tipisnya, sebuah senyuman sarat rasa prihatin namun berusaha menenangkan.
"Sekarang, mending kita cari tempat santai. Aku temenin kamu minum sampai kamu ngerasa mendingan," ajak Bumi. Belum sempat Aluna memberikan jawaban, pria itu sudah menarik lembut pergelangan tangannya.
Saat jemari Bumi melingkari pergelangan tangannya, Aluna merasakan sebersit rasa hangat yang mendadak menjalar di dadanya. Rasa hangat itu perlahan mengikis sesak akibat tangisannya tadi.
Malam itu, mereka berakhir di sebuah kedai kecil di pinggir jalan. Dengan samar sebuah lagu terdengar, membuat ketegangan dalam hati Aluna melunak.
Di atas meja, beberapa botol minuman sudah kosong.
Kepala Aluna mulai terasa berat. Efek alkohol perlahan menguasai kesadarannya, membawa kembali bayangan pertengkaran hebatnya dengan Saga beberapa jam lalu. Namun, setiap kali matanya mulai berkaca-kaca, matanya akan menangkap sosok Bumi yang duduk tepat di seberangnya.
"Sudah, gak usah dipikirin. Cowok masih banyak, Aluna." hibur Bumi malam itu.
"Makasih ya, Bumi." balas Aluna singkat, sebelum ia tak sadarkan diri karena terlalu membawa beban di kepala.
‧₊˚♪ 𝄞₊˚⊹
Denting alarm terdengar. Aluna meraba nakas di samping tempat tidurnya, mematikan dering yang memecah keheningan pagi. Aluna mendudukkan diri di tepi ranjang, memijat pelipisnya yang masih agak berdenyut. Menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar yang masih remang.
Saat ia melirik ke samping, pandangannya tertuju pada sebotol air putih dan sebungkus obat pereda nyeri yang tertata rapi di atas meja kecilnya, di sisinya ada selembar memo kecil dengan tulisan tangan yang sangat ia kenal:
"Diminum obatnya kalau pusing. Jangan lupa sarapan, ya." — Bumi.
Aluna menyentuh kertas itu, dan tanpa sadar, seulas senyum tipis terbit di bibirnya. Desiran hangat yang ia rasakan semalam kembali hadir, bahkan terasa lebih nyata di bawah sinar matahari pagi yang mulai menerobos celah gorden.
Bumi bukan pacarnya. Pria itu hanyalah sahabat yang selalu tahu kapan harus hadir tanpa perlu diminta. Namun pagi ini, sembari mendekap memo kecil itu di dadanya, Aluna tahu ada sesuatu yang telah bergeser di dalam hatinya. Detak jantungnya tidak lagi beritme sendu meratapi Saga, melainkan mulai mengetuk irama baru.
Sejak kapan ia mulai menantikan kehadiran pria itu? Aluna tidak tahu pasti. Yang ia tahu, ia tidak sedang mabuk saat menyadari bahwa Bumi kini telah mengambil alih seluruh pikirannya.
Hari-hari Aluna mulai berubah. Bayangan Saga kini mulai memudar dalam kepalanya. Ia tidak lagi terbangun dengan rasa cemas, juga tak lagi mengharapkan laki-laki itu untuk kembali. Hubungan yang toxic itu benar-benar sudah selesai, dan Aluna akhirnya bisa bernapas lega.
Sebagai gantinya, ada nama baru yang kini menetap di kepalanya. Bumi.
‧₊˚♪ 𝄞₊˚⊹
Sore itu, langit kota berubah warna menjadi jingga keemasan. Aluna duduk di bangku taman kota, menunggu Bumi yang berjanji menemaninya mencari buku setelah jam kerja selesai.
Senyuman yang tanpa Aluna sadari merekah dari bibirnya.
"Nggak... nggak... aku sama Bumi cuma sahabatan," gumamnya menyangkal.
Dari kejauhan, Bumi terlihat sedang berjalan ke arahnya. Pipi Aluna mendadak terasa panas, menyisakan rona merah yang menjalar hingga ke daun telinga. Dia tidak tahu ekspresi apa yang akan ia tunjukan pada Bumi.
"Aluna!" panggil Bumi sambil melambaikan tangannya.
Tatapan mereka beradu. Aluna menggigit bibir bawahnya, berusaha keras menahan senyum yang keras kepala ingin terbit di wajahnya.
"Udah lama nunggunya, ya? Maaf ya agak telat, tadi jalanan macet banget soalnya," kata Bumi begitu sampai di depan Aluna.
"Enggak kok, aku juga baru nyampe," sahut Aluna, berusaha menyembunyikan gugupnya.
Bumi terkekeh pelan, lalu mengusap puncak kepala Aluna dengan gemas. "Bagus deh. Yuk, kita pergi, mumpung belum malam."
Sentuhan ringan di kepalanya itu sukses membuat Aluna terpaku. Seharusnya, perlakuan seperti itu biasa saja bagi sepasang sahabat. Namun bagi Aluna yang sekarang, setiap perhatian kecil dari Bumi terasa seperti sengatan listrik ringan yang membuat jantungnya berpacu tidak keruan. Detaknya mencapai 120BPM.
Saat mereka mulai berjalan beriringan menyusuri trotoar, Aluna sengaja memperlambat langkahnya, menatap punggung tangan Bumi yang menggantung bebas di samping tubuhnya. Ada keinginan untuk meraih jemari itu, rasanya seperti Aluna sedang membayangkan bagaimana mereka bisa saling bergandengan tangan.
Aluna menggelengkan kepalanya pelan, seolah takut hatinya akan memberontak. Ia takut, jika ia melangkah terlalu jauh, ia akan merusak persahabatan indah ini.
"Kenapa, Al?" Bumi menoleh, menghentikan langkahnya untuk menatap Aluna yang tampak kebingungan dengan tingkahnya sendiri.
"Ah... nggak apa-apa." Aluna tertawa garing, menyunggingkan senyum kikuk yang justru membuat Bumi makin menaikkan sebelah alisnya heran.
"Udah sampe, yuk masuk." Bumi menepuk pelan pundak Aluna, membuyarkan sisa-sisa kepanikan di kepala wanita itu.
"Ah... iya, ayo," jawab Aluna kikuk. Ia segera melangkah mendahului Bumi demi menyembunyikan wajahnya yang pasti sudah sewarna kepiting rebus.