Pintu kaca Malhouse Diner berbunyi pelan ketika Nala mendorongnya hingga terbuka. Udara hangat bercampur aroma kopi yang baru diseduh, kentang goreng, dan daging panggang langsung menyambutnya, kontras dengan dinginnya angin Seattle yang masih menempel di mantel panjangnya.
Tempat itu nyaris lengang. Hanya ada beberapa pelanggan yang tersebar di sudut-sudut ruangan, ditemani lampu-lampu kuning redup dan dentingan lagu jazz lawas yang mengalun pelan dari pengeras suara.
Bukan pemandangan yang aneh untuk pukul dua dini hari.
Nala merapatkan mantelnya, mencoba menyuntikkan keberanian ke dalam dadanya yang berdesir halus. Pandangannya memindai seisi ruangan yang remang, hingga akhirnya tertambat pada satu titik di pojok kanan dekat jendela basah oleh sisa hujan.
Meja nomor tiga.
Pria itu sudah ada di sana.
Dengan satu tarikan napas panjang untuk menetralkan detak jantungnya yang mendadak tak beraturan, Nala melangkah mendekat. Tanpa basa-basi, tanpa menyapa, ia langsung menarik kursi kayu di seberang pria itu dan duduk di sana.
Pria itu terkejut. Pandangannya terangkat seketika dari layar ponsel dan sepiring cheeseburger berukuran jumbo yang baru tersentuh separuh.
"Cheeseburger? Really? At this hour?" gumam Nala sambil meraih buku menu yang tergeletak di sudut meja. Kekehannya terdengar hambar, lebih mirip sindiran daripada candaan.
Pria di depannya mengunyah perlahan, menatap Nala dengan kilat jenaka di matanya yang berwarna cokelat.
"You can never go wrong with a cheeseburger, Nala. Especially..."
Pria itu mencondongkan tubuhnya melintasi meja, tatapannya mengunci mata Nala dengan kerlingan menggoda, "...when you're extremely exhausted after doing something... you know."
Nala mencibir sambil mendorong bahunya menjauh menggunakan ujung buku menu.
"Ewh, get over yourself, man."
Tawa pria itu akhirnya pecah, rendah dan renyah, bergema halus di sudut diner yang sepi. Bagi pria itu, melihat sikap cuek Nala untuk menutupi atmosfir kecanggungan adalah hiburan terbaik di tengah malam yang dingin seperti ini.
"Jadi, ada apa?" Pria itu memperbaiki posisi duduknya, bersandar santai. "Kamu tidak memanggilku ke sini hanya untuk memakiku lagi atas apa yang terjadi kemarin itu, kan? Kepalaku masih berdenyut sekali meskipun kejadiannya sudah seminggu berlalu. Kamu belajar dari mana sih, punya bakat memukul kepala orang dengan tas tanganmu seperti itu?"