The Unsent Letters

Vania Faustin
Chapter #1

The Coward Years

17 Oktober 2017 ‒ Wine


Aku mengantarkanmu pulang

untuk yang kesekian kalinya.


Namun entah mengapa aku masih juga belum pergi.

Helm masih terpasang,

mesin motor masih menyala.


Aku duduk di sana untuk beberapa menit.

Seperti orang bodoh̶

masih mengingat

bagaimana lenganmu melingkar erat di tubuhku,

bagaimana kau menyandarkan kepalamu di bahuku.


Dan aku berkata pada diriku sendiri,

“Mungkin aku mabuk.”


Ya.

Pasti gara-gara alkohol sialan itu.

Karena ini hanya malam biasa.

Hanya rutinitas pertemanan biasa.


Ini tidak nyata.

Ini bukan cinta.

Aku tidak berkhianat.

Hanya mabuk.

Ya, tidak lebih.


Haha. Aku membual.

Karena nyatanya̶

aku sepenuhnya terjaga.


Cukup sadar untuk mengingat

nama-nama kucing peliharaanmu

yang kau ceritakan saat aku

meneguk wine di gelas ketigaku.


Cukup sadar untuk memelankan laju motorku

agar waktu berputar lebih lambat

dan kita bisa berbincang lebih banyak.


Namun lebih mudah menyalahkan minuman itu.

Lebih mudah untuk mengatakan:

“Aku mabuk berat semalam.”

“Aku tak bermaksud mendekatimu.”

***


19 November 2017 - Ramen


Kau bertanya padaku,

“Kau suka makanan pedas, Grey?”


Aku menjawab,

“Tidak. Aku suka makanan manis.”


Lalu kau tersenyum,

“Seperti parfummu, ya.

Harum vanilla dan coklat.”


Sial,

Kau memperhatikanku.


Tak pernah ada yg mengatakan itu sebelumnya.

Bahkan Iris sekalipun.


Bagiku,

itu adalah momen yang berharga.

Bukan momen romantis,

namun terasa...

nyata.


Lalu kita bicara tentang makanan.

Kau bilang suka semuanya.

Apa saja.

Asalkan hangat,

dan tidak kurang garam.


Aku tertawa.

Ya, kau selalu membuatku tertawa.


Dan aku berkata,

“Kapan-kapan kita harus makan di kedai ramen

favoritku, ya!.”


Aku tahu,

seharusnya aku tak pernah mengatakan itu.

Tapi aku mau.

Dan aku bersungguh-sungguh.


Bukan ajakan kencan.

Lihat selengkapnya