2 Mei 2018 - Kita Bukan Teman
Pada akhirnya aku harus berkata jujur padamu,
bahwa aku sudah bersama Iris selama dua tahun.
Kau hanya tersenyum̶
seperti biasanya.
Kau bilang,
“Ya, Grey.
Aku bilang padanya kalau kita hanya teman.”
Hanya.
Teman.
Tapi kita bukan teman, Hazel.
Teman tak pernah saling berpeluk.
Tak pernah sengaja belajar gitar sampai jari berdarah.
Tak pernah memberikan vinyl terakhir.
Tak pernah berkendara delapan mil
hanya untuk memberikan mie instan di jam tiga pagi.
Aku menatap kedua matamu.
Masih lembut,
indah.
Masih melihatku̶
seseorang yang bahkan tak pantas mendapatkan
maaf darimu.
***
9 Mei 2018 - Di Ujung Jalan
Aku memanggilmu sahabat
hanya untuk membuat diriku sadar
bahwa hubungan kita tak lebih dari itu.
Aku berusaha̶
benar-benar mencoba
melukis jarak,
menjaga kesetiaan pada janji yang kubuat.
Sampai pada hari itu,
aku melihatmu berdiri di ujung jalan.
Bingung,
Sendirian,
dan itu membuatku hancur.
Lalu aku mendekatimu.
tanpa pikir panjang menyuruhmu naik ke motorku.
Kau menatapku heran.
Tetapi tetap naik
dan percaya pada si pembohong ini.
Ya̶selalu begitu.
Aku menurunkanmu di ujung jalan lain.
Kau berterima kasih.
Aku tak menjawab.
Hanya tersenyum dan pergi.
Karena aku telah berjanji
pada diriku,
pada kekasihku,
untuk menjauh
dan berhenti peduli.
Namun dalam tiga puluh detik yang singkat,
aku kembali berkhianat.
***
28 Mei 2018 - Penyangkalan
Aku bilang pada temanku
bahwa kau cantik,
manis,
humoris.
Kupikir mungkin dia akan cocok denganmu.
Tapi dia hanya tertawa,
dan menolak untuk berkenalan denganmu.
“Kenapa?”
“Karena kau jelas-jelas menyukainya, Grey.”
Aku tertawa̶
terlalu keras.
Terlalu cepat.
Tawa yang terasa seperti ketakutan.
“Kau tahu aku punya pacar.”
Kali ini dia tidak tertawa.
Dia hanya menatapku sambil berkata̶
“Ya, dan kau terobsesi dengan gadis ini.”
“Kau menceritakannya setiap hari.”
“Kau bahkan tahu buku apa yang sedang ia baca
minggu ini.
Lalu aku terdiam.
Karena ia tidak salah.