27 Maret 2019 ‒ Sepasang Sepatu
Hari itu seharusnya menjadi rutinitas biasa.
Aku, Alex dan Mathias
memutuskan untuk mampir ke tempatmu
sepulang berolahraga.
Aku tak memikirkan apa pun tentangmu.
atau mungkin aku berpikir terlalu banyak.
Sial--selalu begitu.
Kau membuka pintu.
Mengenakan kaus hitam oversize dan celana pendek.
Kau tersenyum
dan menyuruh kami masuk.
Tapi pandanganku tertuju pada sesuatu.
Sesuatu di samping rak bukumu.
Sepasang sepatu.
Aku yakin itu bukan milikmu.
Ukurannya terlihat cukup besar̶
mungkin seukuran denganku.
Dan aku tahu,
pemiliknya pasti seorang pria.
Aku membeku.
Jantungku berdegup kencang.
Pikiranku berisik,
Namun aku masih tidak mengatakan apa pun.
Alex seakan bisa membaca pikiranku,
“Kau tinggal dengan siapa, Hazel?
Kau tersenyum.
Sial. Senyum itu.
Sederhana.
Manis.
Menghanyutkan.
“Pacarku.” jawabmu.
“Sejak bulan kemarin.”
Aku tertawa.
Terlalu cepat. Terlalu palsu.
Seolah ini adalah lelucon yang lucu.
“Wow, seharusnya kau bilang!
Nanti dia kaget kedatangan pria-pria tampan
seperti kami.”
Semua orang tertawa.
Tapi kau bahkan tak melihat ke arahku.
Aku duduk di sofamu,
kakiku bergetar,
tanganku berkeringat,
mencoba terlihat baik-baik saja.
Kau pun menyuguhkan kopi,
bercerita̶seperti biasa,
memainkan lagu favoritmu.
Tapi mataku tak bisa lepas dari sepatu itu̶
yang terus menghantuiku.
Seolah jadi pengingat,
tentang apa yang tak pernah aku ucapkan,
tentang aku yang memilih menjadi pengecut.
Aku ingin berteriak,
membakar sepasang sepatu bodoh itu,
dan bertanya,
“Pernahkah kau mencintaiku, Hazel?”
Tapi kenyataannya,
aku hanya bisa tersenyum
dan berkata,
“Kita harus sering-sering main ke sini.”
Aku berbohong.
Aku tak ingin datang lagi.
---
8 Juni 2019 ‒ Lebih Baik
Kau bercerita banyak tentangnya.
Tentang bagaimana dia membuatmu merasa
kesepian,
Tidak dihargai,
Seolah kau hanyalah pilihan kedua baginya.
Dan aku mendengarkanmu.
Entah terbawa suasana,
atau memang begini adanya.
Tapi aku kesal,
aku marah.
“Dia memang brengsek,” kataku.
Kau hanya tersenyum pahit.
Seolah kau sudah mendengar cacian itu
ribuan kali.
“Kau pantas mendapatkan yang lebih baik, Hazel.”
Matamu tiba-tiba berbinar,
mungkin kaget,
mungkin bingung,
mungkin... senang?
“Lebih baik dari dia?” tanyamu.
“Lebih baik dari apa yang pernah kau pikirkan tentang
hal-hal baik.”
Seharusnya aku mengatakannya.
Namun aku memilih diam.
Dan mengangguk pelan.
Karena,
apa lagi yang bisa aku katakan?
Apa aku harus bilang bahwa
aku ingin menjadi lebih baik untukmu?
Apa aku harus bilang bahwa aku sudah membayangkan
hidup bersamamu
di saat aku masih memiliki kekasih?
Jadi aku hanya mengatakan itu,