The Unsent Letters

Vania Faustin
Chapter #4

The Softest Place Iʼve Ever Landed

29 Juni 2020 - Aku Bersungguh-sungguh.


“Aku tidak tahu bagaimana hidupku

jika kita tidak pernah bertemu.”

Aku mengucapkannya lantang.

seolah kata-kata itu tak menyimpan makna.


Kau terdiam,

menatapku dengan seribu tanya.


Aku tertawa, lalu berkata,

”Jika kau tidak ada,

mungkin aku tak akan pernah mendengar

playlist payahmu di tengah hujan.”

Seolah itu hanya lelucon,

seolah itu benar-benar lucu.


Kau tersenyum,

meski bukan senyumanmu yang biasanya

Dan aku tahu,

kau mengerti kesungguhan di balik ucapanku.


Tapi aku memilih merusak suasana,

seperti aku yang terbiasa

merusak segalanya.


---


6 Februari 2020 ‒ Kau Tak Tahu


Aku mengalami minggu yang buruk.

Pikiranku kacau,

Kepalaku rasanya seperti mau pecah.

Kesehatan ayahku menurun,

aku bertengkar dengan kakakku,

dan ibuku menangis diam-diam setiap malam.


Aku tak ingin pulang ke rumah.

Aku juga tak ingin pergi ke tempat iris.


Lalu aku mengirimkan pesan padamu̶

seperti yang biasa kulakukan.

Pesan sederhana.

“Kau sibuk?”


Kau membalasnya dua menit kemudian.

“Tidak.

Kenapa? Mau kopi?”


Dan begitu saja.

Kita duduk berdua di spot yang kau suka.

Meja di pojok, lantai dua.


Kau bahkan tak bertanya aku kenapa.

Kau hanya menunggu.

Aku pun akhirnya bicara.


Kau mendengarkanku.

Maksudku,

Kau tak mendengarkanku

seperti layaknya orang-orang̶

yang memancarkan simpati dari matanya

tetapi sesekali terdistraksi oleh ponselnya.


Kau mendengarku seperti lagu.

dengan saksama,

tidak terlalu serius,

namun tak juga terlalu acuh.


Kau tak mencoba untuk menyembuhkanku.

Kau hanya bilang,

“Kau tak harus selalu jadi yang paling tegar, Grey.”


Aku tak menjawab.

Aku hanya melihat ke arah jari-jarimu

yang menggenggam erat gelas kopi,

Cincinmu sesekali berdering saat bersentuhan

dengan keramik.


Kau terlihat sangat tenang.

Dan aku pikir̶

mungkin aku butuh teman sepertimu di hidupku.


Ya.

Itu yang aku katakan pada diriku sendiri.

Teman.

Hanya teman.


Dan,

alih-alih berterima kasih,

alih-alih mengakui bahwa kau membuatku tenang,

alih-alih mengatakan “jangan pernah tinggalkan aku,”

aku berkata̶

“Kau harus menulis buku.”

“Kau sangat pandai merangkai kata.”

“Orang-orang pasti akan menyukainya.”


Kau tersenyum.

Menyesap kopimu

dan bilang,

“Benarkah?

Terima kasih, Grey.

Itu adalah hal terbaik yang pernah kau katakan padaku.”


Tapi kenyataannya tidak.

Kau belum pernah dengar

yang terbaik,

yang terindah,

karena aku tak akan pernah bisa mengatakannya.


---


25 April 2020 ‒ Sejak Saat Itu


Aku tak pernah menyangka

bahwa malam itu akan mengubah hidupku̶

sepenuhnya.

Malam di mana seseorang memanggil namamu;

Hazel.


Kita bahkan tak pernah saling berkenalan.

Hanya memulai obrolan ringan,

tentang musik country yang kau sukai.


Dan aku?

Aku bilang bahwa aku tak pernah percaya diri.

Aku bahkan tak pernah bergabung ke band mana pun,

padahal kau pikir̶

aku sangat mahir bermain gitar.


Aku lebih senang tak terlihat̶

mendengarkan,

menonton,

memendam perasaanku sendiri.


Namun kau tak pernah membiarkan hening menyusup

di antara kita.

Kau selalu punya bahan obrolan.

Entah itu tentang musik,

tentang serial 90-an,

atau bahkan tentang masa lalu.

Dan anehnya,

aku suka semua topik obrolan yang kau pilih.


Kita tak pernah berkencan.

Kita tak pernah mengakui bahwa kita bukan teman.

Tapi kau tersenyum saat aku bertanya merk senar gitar

apa yang kau sukai.

Dan kau tertawa saat aku bilang aku benci vodka.

Lalu berkata,

“Kau hanya belum menemukan playlist yang cocok

untuk diputar sambil minum vodka, Grey.”


Ternyata,

aku sudah jatuh

sejak hari pertama kita bertemu.


Malam itu,

di bawah sinar rembulan yang terang,

aku menemukanmu̶

gadis yang memuja musik,

mencintai vodka,

dan mungkin̶

menyukai

aku.


---


14 Mei 2020 ‒ Kau Tak Datang


Kau bilang akan menemuiku di toko buku itu.

Pukul enam sore.

Tempat yang sama̶yang sering kita kunjungi saat

sedang bosan.


Aku sampai di sana lebih cepat.

Pukul 5.45 sore.


Aku memesan dua gelas kopi hitam.

Tiga gula dan krim untukku

dan flat back untukmu.


Aku menunggu.

Menyalakan sebatang rokok.

Lalu yang kedua.

Lima belas menit sudah.

Kau masih juga belum datang.


Tiga puluh menit kemudian.

Akhirnya aku mengecek ponselku.

Satu pesan.

“Grey, aku kecelakaan.”

Terkirim pukul 6:01 sore.


Dan aku̶

membeku.

Jantungku seolah berhenti berdetak.


Aku tak tahu harus melakukan apa.

Apakah aku harus meneleponmu?

Atau cukup membalas pesanmu?

Atau aku harus menemuimu?


Tidak.

Tidak.

Nyatanya, aku tak melakukan apapun.

Aku hanya menatap layar ponselku lekat-lekat.

Membaca ulang pesan yang kau kirimkan.


Aku menyalakan rokok lagi.

Lalu lagi.

Dan lagi.

Sampai tak tersisa lagi.


Dan langit berubah gelap

dan barista mulai membereskan meja.

9:12 malam.

Aku masih duduk di sini.


Kau terluka.

Dan aku tak melakukan apa-apa.

Aku bahkan tak pernah membalas pesanmu.


Karena aku terlalu takut.

Lihat selengkapnya