6 Januari 2022 ‒ Hancurnya Harap
Sudah lewat tengah malam ketika aku meneleponmu--
seperti biasanya.
Untuk beberapa saat,
aku merasa sangat bahagia.
Karena akhirnya aku bisa mencintaimu dengan cara yang benar.
Lalu kau mengatakan sesuatu.
Penuh keyakinan,
seolah itu akan membuatku senang.
"Aku akan menikah bulan depan.
Tanggal satu Februari."
Kau mengatakannya seolah itu bukan apa-apa.
Seolah kau tak pernah tahu bahwa ini akan menjadi hari di mana
aku mengubur dalam-dalam semua mimpiku.
Aku terdiam untuk beberapa detik.
Hanya mendengar suara napasmu dari seberang telepon.
"Aku harap kau datang."
katamu.
Aku tersenyum.
Walaupun kau tak pernah tahu itu.
"Akan kuusahakan."
Itu yang aku katakan padanya.
Tapi aku tak akan berusaha datang.
Aku tahu aku tak akan datang.
Karena melihatmu mengucap janji suci dengannya,
akan membunuh apa pun yang tersisa dari anganku tentang cinta.
Setelah mengakhiri pembicaraan itu,
nada telepon terdengar memekikkan telinga--
seolah menjadi musik pengiring
dari perayaan matinya harapku untukmu.
Aku menatap bayanganku di layar ponsel. Dan membisikkan namamu.
Untuk sekadar memastikan̶
apa ini benar-benar menyakitkan?
Nyatanya benar.
Akan selalu menyakitkan.
---
7 Januari 2022 ‒ Kau Tahu
Aku masih terjaga sejak semalam.
Matahari sudah bersinar terang, dan ini terasa salah̶
terlalu cerah
untuk duniaku yang baru saja runtuh.
Suaramu masih bergema di antara dinding-dinding,
tenang dan bengis̶
dalam satu tarikan napas yang sama.
"Aku akan menikah."
Seolah cinta memiliki akhir,
dan aku baru saja mendapatkannya.
Tentu saja, bukan akhir yang bahagia.
Cangkir kopiku tak tersentuh.
Rokok pun terbakar lama hingga tersisa abunya.
Dan playlist favorit kita
terus menerus memutar lagu̶
mengingatkanku pada hari pertama kita bertemu.
Aku hampir saja mengirimkan pesan padamu.
Nyaris berkata,
"Jangan menikah dengan orang lain, Hazel."
Tapi aku tak melakukannya.
Aku membuka laptop lamaku̶
yang pernah kau tertawakan karena tuts keyboardnya hilang sebagian.
Aku membuka sebuah tulisan yang pernah kau buat untuk karya tulis kita.
Sebuah puisi̶
tulisan yang belum kau selesaikan.
Di bait terakhirnya tertulis,
“Mungkin di kehidupan yang lain, kita bisa bersama.”
Kupikir kau tahu.
Kupikir kau selalu tahu.
---
24 Januari 2022 ‒ Tak Tahu Diri
Tujuh hari lagi,
kau akan berjalan di altar.
Tujuh hari lagi,
kau akan sepenuhnya menjadi milik seseorang,
berdiri di ruangan yang penuh bunga dan senyum kebahagiaan.
Dan aku
meneleponmu,
bertanya tentang proyek sialan itu.
"Hey, aku mau bertanya tentang proyek kita bulan lalu.
Sepertinya aku menghilangkan catatan terakhir yang kau buat."
Omong kosong.
Aku bisa menemukannya jika aku mau.
Tapi aku hanya ingin mendengar suaramu.
Kau mengangkat telepon setelah dering ketiga.
Kau terdengar cukup kaget,
seolah tak menyangka bahwa aku akan menelepon.
"Grey?"
“Aku sedang memeriksa revisi,”
jawabku.
Seolah tak menghitung hari.
Seolah tak pernah terbangun di jam 2 pagi--
mengutuk takdir.
Dan ketika kau menjawab,
terlalu tenang,
terlalu ramah--
seperti biasanya.