Kenalin, gue Maya Siswoyo, pegawai biasa aja di kota Metropolitan ini. Gue berusia 28 tahun, gak ada yang spesial dari hidup gue, ya gitu-gitu aja. Same old- same old.
Gue bekerja di salah satu perusahaan media terbesar di Indonesia, dengan tim dan lingkungan kantor yang sehat, seharusnya gue bersyukur sejadi-jadinya, karena, kalau gue boleh narsis, karir gue sangat amat baik dan naik pesat selama gue bekerja. Sekarang, posisi gue adalah sebagai Senior Manager di kantor gue, mempunyai tim yang terbuka dan asik, teman-teman di luar kantor yang gak kalah asiknya. Tapi, gak tau kenapa, otak gue rasanya gak berhenti-berhentinya ingin menyudahi apapun yang gue mulai, termasuk pekerjaan. Rasanya, gue kehilangan gairah di hidup ini.
Salah satu tim gue, Alya sudah berkali-kali ngeluhin sikap gue yang gampang kesulut emosi, sehingga satu tim kehilangan semangatnya juga karena emosi gue yang naik turun. Entah kenapa, itu cukup memukul dan jadi salah satu contoh bahan evaluasi gue sebagai Leader.
Oiya, sebelum terlalu dalam mendeskripsikan soal gue, si Maya ini. Gue mau cerita juga perihal hubungan gue dengan tunangan gue, Elmand Mahendra. Kalau diakumulasikan, hubungan gue dan Elmand sudah berjalan sekitar 3 tahun, dan rencananya kami akan menikah "tahun depan". Tapi entah, gue tidak melihat ada kemajuan persiapan yang signifikan antara hubungan gue dan Elmand ke jenjang yang lebih serius lagi. Kalau menurut teman-teman terdekat gue, sebenarnya gue terlalu intens sama Elmand, sehingga gue tidak melihat effort Elmand. Entahlah, sepertinya gue terlalu dini untuk menganggap hubungan kami sudah hilang "spark" nya.
Elmand mempunyai perusahaan yang bergerak di bidang kreatif yang bersyukurnya selalu banjir orderan sehingga "mungkin" waktunya sama gue terlalu terbatas. Bahkan ketika pulang kantor pun, kita sudah sama-sama lelah, sampai gak ada waktu untuk ngobrol panjang untuk bertukar cerita lagi. Bahkan ya... Gue sampe lupa gue melalui apa hari itu. Anyway, the good thing is, gue masih setiap hari ketemu Elmand dan familiar dengan orang-orang disekitarnya. Kayaknya emang gue lagi butuh space aja. Entah apa, gue belum berhasil mendeskripsikan hal tersebut.
☁☁☁
"May, dari semua cerita lo hari ini, gue yakin banget 1000% lo cuma butuh liburan. You need space. Lo udah 2 tahun kerja disini gak pernah ambil cuti. Saran gue pertengahan bulan depan, lo ambil cuti, karena lagi banyak libur. Go ahead! Gue gak mau ya karena lo burnt out, jadi ngaruh ke kinerja anak-anak lo. You need to breath fresh air yang gak terkontaminasi sama debu-debu Jakarta!" Ujar Mbak Ilfa, sang HRD kantor gue.
Okay, mari bercerita kronologi awalnya kenapa gue bisa masuk ke dalam ruangan Department Human Resources. Inget sebelumnya team gue sempat mengeluhkan sikap gue akhir-akhir ini? Mungkin ini sebabnya, gue terlalu egois untuk gak memikirkan diri gue sendiri sampai mempengaruhi orang lain. Gue terdiam dan memikirkan panjang jawaban Mbak Ilfa sambil membolak-balikan kalendar yang ada di mejanya - sekalian memastikan juga, apakah benar pertengahan bulan depan adalah liburan panjang.
"Lo gak usah khawatir soal anak-anak lo di kantor, gimana plan lo soal Alya mau lo naikin jadi Senior Asscosiate? Ini saatnya lo beri dia kesempatan untuk buktiin bahwa dia bisa, sambil lo ambil cuti untuk beberapa saat. Lo juga jangan khawatir, kan lo bisa kordinasi pekerjaan lo sama GM." Sambung Mbak Ilfa lagi. Gue terdiam dan terpaku melihat wajahnya.
"Lo yakin jawabannya cuma "Butuh liburan", mbak?" Tanya gue kepadanya.
Ia mengangguk sambil tertawa "Yaiyalah. Lo itu burnt out aja, gue gak tau ya apa yang lo alamin di hidup lo secara pribadi, cuma secara profesional, dengan load pekerjaan lo dan bukti bahwa lo gak pernah ambil cuti dan sekarang cranky yang gak berdasar, kayaknya, lo cuma butuh liburan, neng." Candanya.
Aku pun tersenyum lebar mendengar jawabannya "Oke lah, gue akan pikirin solusi dari lo, mbak. Sambil bertanya approval si Boss."
"Aduhhh.. Gue yakin si Boss approved, asal handover dokumen lo ke anak-anak lo jangan berantakan dan bikin nyusahin ya. Kali-kali aja lo mau ngilang, jadi point of contact nya gak di lo semua." Gue tertawa lega mendengar jawaban mbak Maya dan mungkin, ini jawaban yang paling oke. iya, gue ternyata cuma butuh liburan ya?
☁☁☁
Hari ini Jakarta turun hujan deras dan waktu menunjukan pukul 8 Malam. Biasanya, Elmand akan jemput gue di pukul 7 tepat dari kantornya, mungkin karena hujan dan super macet, Elmand sama sekali gak ada kabar. Okay, gue akan coba hubungi Elmand by phone.
Ditolak.
Gue mencoba untuk menghubunginya lagi.
Ditolak.
Okay, gue harus sabar.. dan beberapa detik kemudian, gue melihat notifikasi bahwa Elmand sedang mengetik.. dan yap jawabannya adalah "Aku meeting, tunggu dulu."
Gue menghela napas yang cukup panjang, tanpa membalas Elmand, gue bergegas untuk berjalan ke lobby, dan pulang dengan Taxi.
Entah kenapa, malam ini, gue gak pengen pulang cepat. Lalu, gue memutuskan untuk pergi ke restaurant teman gue, Mia, di daerah Jakarta Selatan. Tanpa berpikir panjang, gue meminta sang supir Taxi mengantarkan gue kesana.