The Unsung Space

Tera Teraya
Chapter #2

The Island

Setelah gue sampai dengan waktu perjalanan penerbangan selama 2 jam 30 menit, gue sampai di Ambon dan dijemput oleh seorang Supir yang sudah dipesan oleh Elmand. Sang supir lalu mengantar gue ke sebuah Resort di dekat laut. Untuk sampai kesana, membutuhkan waktu sekitar 2 jam. Sambil mengecek smartphone gue, gue tidak melihat ada tanda-tanda Elmand berusaha menghubungi gue, sama sekali. Pikiran gue kosong menghadap ke jalan. Sebenarnya, pikiran gue sudah tenggelam ke hal-hal yang buruk yang dapat terjadi di hubungan kami, namun, gue mencoba untuk tidak memikirkan sesuatu yang mengkonsumsi pikiran gue di waktu-waktu seperti ini.

Gue memperhatikan sang supir mengamati gue melalui kaca spion. Namun, gue tidak berkata apapun kepadanya.

Dalam perjalanan itu, hanya gue yang duduk di kursi penumpang dan sang supir yang fokus menyetir mobil, ditemani dengan suara mesin yang mendominasi suasana pada saat ini.

"Saya pikir, Elmand Mahendra ini seorang laki-laki kak." Kata sang Supir kepada gue dengan logat khas Timurnya.

Gue pun tersenyum menanggapinnya "Ah.. Iya, Elmand, tunangan saya. Saya dengan Maya."

"Oh halo, Kak Maya." Katanya dengan sopan. "Kupikir yang datang ada dua orang, ternyata kaka sendiri ya." Gue mengangguk, berusaha tersenyum walaupun mungkin terlihat dipaksakan.

"Kakak asli Jakarta?" Tanyanya.

"Ah.. iya betul saya dari Jakarta."

"Oh.. sudah lama sekali saya tidak pick-up penumpang asal pulau Jawa di bulan ini." Jelasnya.

"Bapak dengan siapa nama?" tanya gue padanya.

"Ah.. saya Beno.." Jawabnya dengan ramah. "Oke mas Beno, salam kenal."

Mas Beno memperkenalkan beberapa destinasi rekomendasinya dan beberapa destinasi kuliner kepada gue sepanjang jalan. Gue pun mengikuti arus obrolan dengan mas Beno yang menarik. Tak terasa obrolan kami telah membawa gue ke sebuah resort pesanan Elmand. Kami berdua pun turun dari mobil dan mas Beno pun membawakan koper dari bagasi dan mengantarkannya ke lobby. Gue tercengang melihat suasana resort tersebut. Dari jauh gue bisa melihat pemandangan pantai dan beberapa resort lainnya di pinggir pantai tersebut.

"Kak.. Selain bisa menjadi tour guide. Kalau ada masalah, saya bisa mendengarkan juga."

Gue tertawa dan menepuk pundak Beno. "Gue panggil lo Beno aja, gimana? Kayanya umur kita ga jauh ya Ben?" Kataku. Ia lalu mengacungkan jempolnya kepada gue.

☁☁☁

Waktu sudah menunjukan pukul 7 malam, waktunya makan malam. Sore tadi sesampainya gue di resort ini, gue diberi tahu bahwa sekitar jam 7 malam terdapat hiburan malam dari warga setempat serta makan malam di restaurant resort ini. Gue pun bergegas untuk menghampirinya, dan sebelum gue keluar dari kamar, gue mengecek smartphone, dan tidak ada tanda komunikasi dari Elmand sama sekali. Lalu, gue memutuskan untuk mematikan fitur pesan di smartphone gue dan bergegas menggunakan sandal yang gue bawa dari Jakarta.

Setelah gue menutup pintu Resort, gue pun terkaget ada seorang laki-laki di hadapan gue dengan jarak yang tidak jauh dari tempat gue berdiri.

"AAA.." Teriak gue. Ia pun terkaget juga dengan tampang panik. "Ehh.. Maaf-maaf." Katanya.

"Ada apa ya mas?" Tanya gue kepadanya.

Laki-laki itu tampak bingung dengan menggaruk-garukan kepalanya. "Anu.. gue nyari.. Resort nomor 18.."

Lalu gue melihat nomor pada pintu kamar gue, "Loh, ini kamar gue, lo siapa?" Tanya ku kepadanya.

"Terus lo ngapain di kamar gue?" Tanyanya kembali. Lalu dengan bingung gue menjawab "Loh, gue sampai duluan loh."

"Ibu.. Bapak.." Kami pun spontan menengok ke arah suara itu berasal. Seorang wanita datang menghampiri kami sambil berlari-lari sambil melambaikan tangan dan dipegangnya satu kunci kamar. Ia lalu mendekat ke hadapan kami.

"Pekenalkan saya Dhia, saya petugas penginapan disini.. Mohon maaf pak Kenneth, seharusnya bapak di kamar 19, bukan 18. Mohon maaf ibu Maya atas ketidaknyamanannya." Lalu, dengan senyum yang lebar, pria bernama Kenneth ini menunduk dan mengambil kunci kamarnya. "Gak apa, Terimakasih Dhia." Ia lalu menatap gue dan berkata "Maaf ya ganggu." Lalu ia pergi meninggalkan kami dan bergegas ke arah penginapannya, tepat disebelah kamar gue.

"Ibu Maya, saya mohon maaf sekali lagi." Kata Dhia. Gue mengelus pundaknya sambil tersenyum.

"Kenapa dia bisa dapat kunci kamar saya?" Tanya gue kepadanya.

"Iya bu, seharusnya kamar nomor 18 mendapat 2 kunci kamar, karena reservasinya untuk 2 orang, namun, yang datang hanya ibu Maya saja. Jadi, kesalahan saya adalah tidak teliti untuk memberikan kunci kamar nomor 19 kepada pak Kenneth." Jelasnya kepada gue.

"Saya minta tolong ya, Dhia. Mohon dijaga baik-baik kunci kamar saya yang satu lagi, saya tidak mau orang asing mengakses kamar saya. Saya titip itu saja."

"Baik bu Maya." Jawab Dhia dengan lantang.

Tak lama, gue mendengar pintu kamar Kenneth tertutup, ia lalu bergegas ke arah restaurant.

"Ibu Maya, silahkan datang ke Restaurant kami ya.." Gue pun menggangguk dan meninggalkan Dhia menuju ke Restaurant.


☁☁☁


Setelah makan malam, gue memutuskan membawa satu buah kelapa dan menyeruput airnya di pinggir pantai, sambil mendengarkan Live Music yang samar-samar terdengar dari pantai. Gue melepas sandal dan duduk di salah satu kursi kayu berwarna biru dan menyeruput air kelapa sambil memandang deburan ombak di hadapan gue.

Tak lama, gue mendengar suara pijakan kaki di pasir menuju kursi kosong di sebelah gue, gue pun menengok ke arahnya.

ini Kenneth dari kamar 18 ya? Tanya gue dalam hati, tanpa bertanya kepadanya.

Ia lalu duduk dan membakar rokok dan menghisapnya.

"Gue minta maaf ya atas apa yang terjadi sebelum makan malam." Katanya. "Kenalin, gue Kenneth."

"Gue Maya. Aman aja, gak apa-apa ada kesalahan teknis aja kok."

Kenneth pun menghisap rokoknya kembali, lalu berkata, "Oiya May, kayanya kita pernah ketemu deh." Jelasnya kepada gue. Gue pun memperhatikan wajah Kenneth dan berusaha mengingat kembali wajahnya. Kenneth memiliki mata yang agak sipit dengan warna bola mata agak coklat muda, kulit sawo matang dan tinggi kurang lebih 185 cm atau lebih, brewok yang agak tebal dengan model rambut bald fade. Gue mencoba mengulang memori di otak dan gue tidak juga kunjung mengenalinya.

"Ah gak inget, siapa sih lo?" Tanyaku dengan serius kepadanya. Ia lalu tertawa, "Gue kayanya pernah jadi klien lo. Gue Kenneth Andrian Wolter, lo pernah manggil gue Pak Wolter." Gue pun langsung spontan mengingatnya.

"Ya ampun, pak Wolter. Astagaaaaaa, lo dulu rambutnya ponian ala-ala Korea gitu loh Pak." Ia lalu tertawa dengan keras.

"Gausah manggil gue pak Wolter bisa gak sekarang? Kenneth aja lagi, santai-santai." aku pun mengangguk menanggapinya sambil tertawa kecil.

"Lo masih di perusahaan susu itu pak?" Tanya gue kepadanya.

"Enggak May. Yaah.. Sekarang kerja remote aja, gue bener-bener capek sama hiruk-pikuk Jakarta. Oiya, Anyway, kok lo bisa sih lupa sama gue? Gue aja inget sama lo deh May, walaupun kita kerja bareng 1 tahun yang lalu, loh." Tanyanya memastikan.

"Sumpah ya, gue tuh terkadang pengingat yang handal, tapi kadang juga gue bisa jadi pelupa yang handal juga. Gue tuh inget lo mungkin ya.. Kalau rambut lo masih ala-ala K-pop kaya dulu. Gila ya, dengan rambut aja gue bisa lupa sama lo." Jelas gue padanya, Kenneth pun tertawa.

"Lo kesini sendiri May?" Tanyanya kepada gue. Gue mengangguk sambil menyeruput air kelapa ditangan gue.

Lihat selengkapnya