Suara yang sejak tadi memanggil namanya berkali-kali akhirnya menyadarkan gadis itu yang menatap lurustanpa berkedip. Ia mengerjap bingung seolah nyawanya baru terkumpul sepenuhnya.
"Naira, kamu kenapa, Sayang?" Sentuhan lembut mendarat di pipi Naira.
Naira tampak masih linglung, ia juga tidak tau kenapa. Namun, rasanya ia seperti melewatkan sesuatu yang penting. Ia tersadar akan buku album di pangkuannya, menempati tepi ranjang bersama Kirana, bundanya. Hingga ia merasa nyawanya telah terkumpul.
"Masih pengin lihat foto-fotonya?"
Naira ingat tadi ia dan Kirana sedang menjelajahi dua album foto lama secara bergantian yang ditemukan bundanya setelah belasan tahun hilang saat membersihkan gudang tadi. Lantas Naira baru bisa melihat foto Kirana di masa mudanya sekarang. Album tersebut berisi foto-foto Kirana bersama orang tuanya, dari Kirana berusia lima tahun hingga lulus kuliah. Satu lagi fotonya hanya beberapa, yang isinya foto saat Naira lahir ke bumi. Salah satu yang ia ingat jelas adalah saat berumur lima tahun, di mana di dalam foto tersebut Kirana menggendong Naira dan ayahnya merangkul mesra pinggang bundanya. Kini, mereka menjelajahi di memori lama Kirana berupa foto ketika SMA, sepertinya sebaya dengannya saat ini.
"Bunda cantik banget, nggak beda sama sekarang," ujar Naira kagum. Baginya Kirana sekarang yang sudah kepala empat tidak jauh beda dengan Kirana remaja.
Kirana terkekeh. "Bisa aja anak Bunda. Makasih, Sayang."
Naira tertawa geli setelah mendapat kecupan di pipinya.
"Kamu pengin lihat foto Bunda dan Ayah waktu masih sekolah?" tawar Kirana mendapatkan anggukan antusias dari Naira.
Namun, belum sempat bernostalgia, suara keras dari arah dapur mengejutkan mereka.
"KIRANA!" Suara teriakan ayah Naira.
Buru-buru Kirana dan Naira keluar dari kamar setelah Naira meletakkan album di atas ranjang. Di hadapan mereka ada seorang pria sebaya Kirana bertubuh tinggi, sedikit gempal, kumis tipis yang seperti tak terawat di area bawah hidung dan dagu, serta aroma sisa asap rokok menyeruak ke indra penciuman.
"Kenapa, Mas Dhika?"tanya Kirana, melihat kursi yang terjatuh di lantai sebab dibanting.
Kirana dan Naira pun menjerit kaget dan berjengit mundur kala piring-piring berisi lauk berupa tempe dan tahu melayang dari meja makan ke arah mereka lalu jatuh ke lantai hingga menghasilkan suara nyaring. Makanan pun berceceran di lantai, serpihan kaca berserakan, bahkan hingga melukai kaki Kirana.
"KAMU PIKIR AKU SELERA MAKAN?!" bentak Adhikara.
Tidak begitu terkejut, karena memang bukan yang pertama kalinya. Namun, tetap saja hati Kirana dan Naira hancur berkali-kali dibuatnya.