Seorang gadis berambut sedada lurus terkapar di atas papan kayu dengan tubuh basah kuyup kini terbatuk hingga mengeluarkan air dari mulutnya. Matanya terbuka menampakkan bola mata indahnya. Pandangannya masih buram, nyawanya belum terkumpul sepenuhnya. Namun, ia menyadari seseorang sedang menepuk-nepuk pipinya, walau belum diketahui bagaimana wajahnya dan siapa.
"Akhirnya sadar juga!" seru suara khas lelaki.
Perlahan, indra penglihatan Naira mulai jernih, ia bisa melihat sosok di hadapannya yang sama basah kuyup. Ia belum ingat jelas apa yang terjadi.
"Kamu kenapa bisa tenggelam?" tanya lelaki tadi.
Mendengar "tenggelam", Naira baru mengingat dirinya tadi jatuh karena terpeleset dari dermaga lalu tenggelam di danau. Ia beranjak dengan sisa tenaganya, dilihatnya jam saku tadi masih berada di genggamannya. Terakhir, jam saku itu sempat bergerak mundur, lalu sekarang tidak bergerak seperti pertama kali gadis misterius itu memberikannya.
"Aku terpeleset. Makasih udah nolongin aku," ujar Naira begitu menyimpulkan sendiri jika lelaki di depannya basah kuyup karena menyebur ke danau untuk membawanya ke daratan.
"Sama-sama. Untung aja ada aku. Lagian kamu ngapain malam-malam di danau sendirian? Nggak takut?" tanyanya.
Alih-alih menjawab, justru Naira balik bertanya. "Kamu lihat perempuan selain akudi sini, nggak? Wajahnya babak belur."
"Perempuan? Nggak," jawab lelaki itu setelah yakin.
Naira masih penasaran dengan gadis tadi.
"Aku Raka."
Naira menatap tangan yang terulur di depannya. Ia baru memusatkan perhatian sepenuhnya pada Raka. Lelaki bertubuh tinggi semampai, kulit sawo matang, dan rambut hitam yang dipotong pendek, walau beberapa helai rambut jatuh menutupi dahinya kala angin bertiup. Tidak lama kemudian ia menjabatnya.
"Naira."
"Rumahmu di mana? Ayo, aku antar pulang. Jangan sampai masuk angin."
Naira mengangguk. "Rumahku dekat, kok." Ia beranjak dibantu Raka. Begitu berbalik, Naira celingak-celinguk, kebingungan.
"Kenapa?" tanya Raka.
"Rumahku ....?" Naira mengerjap, mengucek mata, mungkin ia salah lihat. Namun, usahanya sia-sia. Rumah yang seharusnya berada sekitar lima puluh meter di belakang dermaga tidak ada. Sekali lagi, tidak ada! Begitu juga dengan rumah-rumah di sebelah rumah Naira. Pemandangan perumahan yang seharusnya ada justru lenyap digantikan oleh rerumputan liar.
Jantung Naira seakan berhenti berdetak. Ia bingung, apa yang terjadi dengan rumahnya? Ke mana rumahnya?
"BUNDA?!" Naira memanggil Kirana sambil melangkah maju. Raka mengikuti dengan heran dari belakang.
"Kamu ke sini sama bunda kamu?" tanya Raka, tapi tak dihiraukan oleh Naira yang berjalan cepat tanpa arah.
"BUNDA DI MANA?!" Naira mulai panik, bingung, tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Rasanya benar-benar campur aduk hingga ia tidak tau bagaimana harus menjelaskan perasaannya sekarang.
"Naira, rumah kamu di mana?" Raka menyejajarkan langkah mereka.
"Rumah! Rumahku di sini! Kenapa nggak ada?!"
Raka menggaruk tengkuk yang tak gatal. "Nai, lo tadi habis tenggelam, kayaknya salah ingat, deh. Di sini nggak ada perumahan."
Naira menoleh, matanya membulat, nyaris lepas dari rongganya. "Hah?! Nggak mungkin! Rumah aku di sini!" Naira menunjuk tempat yang ia pijak saat ini.
"Perumahan adanya di depan sana, Nai." Raka menunjuk arah lain.
Naira menggeleng tak habis pikir. "Aku tau aku habis tenggelam, tapi aku nggak amnesia," lirihnya.
"Iya, gimana, ya?" Raka ikut bingung. Ia berusaha mencari solusi, bagaimanapun juga, Naira bisa masuk angin jika terus-terus di sini.
"Hm ... gimana kalau lo ke rumah gue dulu? Nggak jauh, kok. Lo perlu ganti pakaian, lo bisa pinjam pakaian ibu gue. Lo bisa masuk angin."
Naira yang napasnya tak beraturan hanya mengikuti Raka dengan pasrah, sesekali ia menoleh ke belakang. Ia tidak salah, di sini memang rumahnya yang seharusnya ada. Kepalanya terasa berdenyut memikirkan hal yang tidak masuk akal.
Setiba di rumah Raka, ibunda Raka langsung menyambut dengan khawatir melihat seorang gadis yang dibawa Raka dan mereka basah kuyup.