The Unwritten Child

Meliyana Jia
Chapter #3

2. Dunia Yang Tidak Sempat Naira kenal

Naira memutuskan untuk berada di rumah Raka sementara. Ia bersembunyi dari Raka dan orang tuanya, juga bersembunyi dari dunia yang tak ia kenali. Kini semua jadi jelas, rumahnya hilang tanpa jejak karena di tahun 1993 belum ada perumahan di dekat danau. Namun, yang tidak masuk akal adalah bagaimana mungkin Naira melintasi waktu hingga berada di tahun yang bahkan di mana ia belum ada di bumi.

Naira mengingat-ingat kejadian sebelum ia jatuh ke danau yang membuat ia berada di dunia yang berbeda. Gadis misterius adalah bayangan pertama yang terlintas. Apa ada hubungannya dengan gadis semalam? Naira mengeluarkan jam saku pemberian gadis misterius yang ia simpan di saku celana. Apa jam ini juga yang membawanya ke tahun 1993? Mengingat jarum jam tersebut sempat bergerak mundur sebelum ia jatuh ke danau karena tergelincir kayu dermaga yang licin. Ribuan pertanyaan terus berkecamuk di dalam kepala.

Namun, jam tersebut tidak bergerak lagi meskin sudah ia ketuk-ketuk perlahan. Apa rusak karena terkena air? Jika memang jam itu yang membawanya ke sini. Maka yang membawanya pulang juga sama, bukan? Naira bergegas keluar dari kamar menghampiri Raka.

"Naira, kamu gapapa?" tanya Raka ragu. Ia merasa Naira benar-benar aneh, berbicara melantur mengenai tahun 2017. 

"Kamu mau ke mana?" Alih-alih menjawab, Naira justru balik bertanya kala ia melihat Raka telah lebih rapi ketimbang tadi.

"Ke pasar, mau ambil hasil dagangan kue ibuku. Mau ikut?"

Naira mengangguk tanpa suara. 

Naira melangkah berdampingan dengan Raka di pasar yang terasa asing walau tempat sama dengan pasar pada masanya. Angin di siang hari bercampurkan aroma rempah, ikan asin, dan tanah yang masih basah karena hujan semalam, disambut oleh indra penciuman Naira. 

Naira memerhatikan sekeliling pasar. Ia tidak melihat adanya pembeli ataupun penjual yang sibuk memainkan benda pipih di tangan, yang ada hanya suara riuh dari penjual dan pembeli yang saling tawar-menawar. Lapak-lapak penjual yang terbuat dari kayu didirikan dengan jarak berdekatan satu sama lain. Di belakang lapak, ada salah satu kios yang menjual kaset-kaset musik yang digantung berjajar. 

Arah yang berlawanan terdapat penjual majalah yang sedang menata tumpukan tabloid dengan sampul wajah artis-artis yang tampak asing bagi Naira. Mungkin beberapa hanya pernah ia lihat di dalam foto lawas. Hingga atensi Naira teralihkan oleh suara gaduh dari kerumunan orang-orang yang sedang menyaksikan tayangan televisi di depan toko elektronik. 

Naira merasakan sensasi aneh yang tidak mampu ia jelaskan. Mungkin seperti melihat dunia yang tidak sempat ia kenal dan hanya mampu diimajinasikan berdasarkan cerita seseorang, kini mampu ia lihat dan rasakan sendiri. Suasananya berbeda dengan masanya, yang di mana orang-orang sibuk berjalan sambil memainkan ponsel, tidak seperti di sini, mereka terasa lebih dekat. 

Mereka berhenti di salah satu toko kue, tempat di mana ibu Raka menitip dagangannya di sana. Penjaga toko sedang menghitung hasil jualannya. Sementara Naira, sibuk memandang sekeliling. Orang-orang yang berlalu lalang di masa itu tampak asing. Tidak ada yang ia kenal dan tidak ada yang mengenalinya juga. 

Hingga netra Naira jatuh pada toko jam di arah jam sembilan. Seketika teringat dengan tujuan awal yang sempat terlupakan karena suasana yang membuatnya merasa terenyuh. 

"Raka, aku mau ke toko jam Mang Ucep dulu, ya," ujar Naira langsung bergegas membelah lautan manusia tanpa persetujuan Raka yang berteriak memanggilnya tanpa dihiraukan.

Naira melangkah masuk ke toko jam dengan nuansa 1990-an. Toko yang sampai di masanya masih ada dengan penjaga sekaligus pemilik yang sama. Naira menatap berbagai macam jam dinding, weker, jam tangan yang dipajang di masing-masing tempat. Rata-rata model jamnya jadul bagi Naira. Berbeda sekali dengan jam-jam yang dijual di tahun 2017 mendatang. 

Seorang pria paruh baya menghampirinya. 

"Ada yang bisa dibantu?" sapa Mang Ucep.

Naira mengalihkan perhatiannya dari jam-jam yang ia lewati hingga berada di hadapan Mang Ucep. Sedikit terhenyak karena penampilan Mang Ucep yang ia kenal berbeda sekali, jauh lebih muda dari Mang Ucep yang sudah beruban di tahun 2017. Hal yang diketahui Naira, Mang Ucep sudah terkenal selama puluhan tahun. Siapa pun akan memanggilnya dengan sebutan "mang."

"Mang, bisa perbaiki jam ini?" tanya Naira menyodorkan jam saku. 

Lihat selengkapnya