The Unwritten Child

Meliyana Jia
Chapter #4

3. Masa Yang Berbeda

"Apa Naira terbentur saat tenggelam sampai lupa ingatan?" tanya ibu Raka pada ayah Raka. Saat Naira berdiam diri di kamar tadi, Raka sudah memberitahu orang tuanya jika Naira mengaku lupa di mana tempat tinggalnya.

"Aku rasa begitu, Bun," balas ayah Raka sambil menyesap rokok di kursi rotan kesayangannya yang berada di ruang keluarga.

"Kasihan sekali anak itu," lirih ibu Raka.

"Mereka udah pulang," timpal ibu Raka begitu melihat Raka dan Naira kembali dari pasar. Kedua remaja yang baru saat memasuki rumah langsung menyalim ibu Raka dan ayah Raka bergantian.

"Ludes, Bu." Raka menyerahkan tempat dagangannya beserta sejumlah uang pada bundanya.

"Syukurlah! Terima kasih, Raka, udah bantu ibu ambil hasil jualan ke pasar."

"Udah jadi kewajiban aku, Bu."

"Oh, iya, Bunda udah masakin makan siang buat kamu, Neng juga. Ayo, kita makan siang dulu." Ibu Raka mengangguk pada Naira dengan senyuman khasnya mengajak Naira makan siang bersama. 

Sebenarnya Naira tidak enak hati jika terus menumpang. Namun, jika tidak menumpang, ia akan makan apa dan di mana? Naira terus memutar otak diam-diam memikirkan cara kembali ke masa depan. Berharap bertemu dengan gadis misterius yang memberikan jam saku padanya yang mungkin saja akan membawanya kembali. 

Naira mengisi kursi yang tidak ditempati siapa pun di meja makan, di sebelah ada Raka, dan di hadapannya ada ibu Raka dan ayah Raka. Aroma sayur bening dan ikan tumis di meja makan begitu menggugah selera. Ia menunduk sopan saat ibu Raka mengambilkan nasi ke piring.

"Jangan sungkan, ya. Makan sepuasnya," ujar ibu Raka.

"Makasih, Bu, Pak, Raka." Naira memandang mereka berbinar satu per satu.

Suasana menjadi hening, hanya terdengar suara peralatan makan yang saling beradu. Raka melirik Naira melalui ekor mata, sebelum akhirnya ia memecahkan keheningan. 

"Bu, Yah, aku boleh bicara sesuatu?" tanya Raka.

"Bicara apa?" tanya ayah Raka.

"Naira, kan, sebaya sama aku, sayang banget kalau Naira nggak sekolah karena musibah yang menimpanya."

"Maksud kamu?" tanya ibu Raka.

"Gimana kalau Naira sementara sekolah bareng aku? Kasihan kalau diam di rumah. Mungkin dengan sekolah, ada kegiatan yang buat ingatannya balik," jelas Raka.

"Tapi untuk sekolah butuh identitas, sementara Naira nggak punya," balas ayah Raka, tidak menolak, tapi memang benar yang dikatakan beliau.

"Aku tau, Yah, Bu. Justru, aku punya rencana ajak Naira ke sekolah dan bicarakan ini ke Pak Hanung. Kalau sekolah mau bantu Naira, aku akan bantu urus." Pak Hanung, staf tata usaha sekaligus teman ayah Raka. 

Ayah Raka diam beberapa detik.

Naira meraih gelas kemudian meneguk air guna menghilangkan kecanggungan. 

"Naira pengin sekolah?" tanya ibu Raka.

Naira menoleh dan mengerjap. Ia mengigit bibir bawahnya sebelum menjawab. "Hm ... jika memungkinankan, saya mau, Bu, Pak."

Ayah Raka akhirnya buka suara. "Baik, kalau begitu. Besok Ayah ikut kalian ke sekolah, Ayah akan bicarakan ke Pak Hanung terlebih dahulu. Mudah-mudahan kepala sekolah nanti juga memberikan keringanan untuk Naira masuk sekolah tanpa data diri."

"Tapi kayaknya saya nggak bisa, saya nggak bawa uang ke sini." 

"Untuk biaya, Neng nggak perlu pikirkan dulu, biar Ibu yang urus, Neng bisa balikin kalau udah punya uangnya," balas ibu Raka mengenggam tangannya yang bebas di atas meja.

Naira tersenyum haru, entah kenapa hatinya tersentuh. Untuk pertama kali sejak Naira membuka mata setelah tenggelam di danau, ia seperti merasakan sesuatu yang sudah lama lenyap dari hidupnya, makan malam dengan keluarga lengkap dan obrolan penuh arti. 

***

Sang surya telah menampakkan diri di ufuk timur beberapa saat yang lalu. Langit cerah memberikan semangat kepada para penghuni bumi di sebagian wilayah untuk beraktivitas kembali. Naira baru saja tiba di sebuah SMA tempat Raka menempuh pendidikan. Naira berjalan di sebelah Raka dengan jemari yang saling bertautan, di sebelah Raka ada ayah Raka yang menepati janji untuk ikut ke sekolah Raka. 

Mengingat Naira tidak punya pakai lebih, ia dipinjamkan ibu Raka pakaian lamanya yang masih layak. Ibu Raka rela bangun subuh-subuh sekali untuk membongkar lemari berisi pakaian lamanya yang lebih kecil. 

Lihat selengkapnya