The Unwritten Child

Meliyana Jia
Chapter #5

4. Alasan Dan Tujuan Naira

Naira cukup sering menemani Kirana yang tidur sendiri di kamarnya karena sang ayah tak kunjung pulang. Kirana dengan senang hati menyambut putri kesayangan yang berniat menemani malamnya. 

Naira berbaring di sebelah Kirana dengan tangan yang ia jadikan sebagai bantal, mereka berhadap-hadapan dan saling memandang satu sama lain.

"Bunda, Naira boleh nanya sesuatu?" tanya Naira.

"Nanya apa, Sayang?"

"Bunda cinta sama ayah?" Pertanyaan Naira membuat Kirana tertegun. Beberapa saat kemudian ia tersenyum tipis sambil menyisir rambut Naira dengan jemarinya.

"Kenapa Naira nanya seperti itu?" balas Kirana.

Naira menghela napas pelan. "Ayah selalu sakitin Bunda, apa Ayah bikin cinta Bunda ke Ayah hilang? Apa Bunda nyesal menikah dengan Ayah?"

"Bunda tidak akan nyesal selama ada Naira di hidup Bunda." Jawaban Kirana membuat Naira berusaha mencernanya.

"Bunda sama Ayah ketemu di mana, sih? Bunda belum pernah cerita sama Naira." Naira ingin tau lebih jauh tentang pertemuan Kirana dan Adhikara. Karena selama ini Kirana tidak pernah menceritakan apa pun soal pertemuan mereka.

Kirana terkekeh pelan. "Bunda sama Ayah dulu satu sekolah."

"Wah! Jadi udah kenal lama, dong? Terus gimana, Bun? Ayo, cerita, Naira penasaran." Naira tampak begitu antusias ingin mendengarkan kisah Kirana dan Adhikara.

Kirana yang baru saja hendak bercerita pun tertunda karena suara gebrakan pintu kamar yang dibuka oleh Adhikara. Pria itu berjalan sempoyongan dengan mata sayup ke arah ranjang, membuat Kirana dan Naira terpaksa beranjak dari ranjang dan menuntun Adhikara yang hampir roboh.

"Ayah! Kenapa mabuk-mabukan lagi, sih?" kesal Naira berusaha menahan bobot badan Adhikara.

"Ah! Berisik kamu!" balas Adhikara sambil mengibas tangannya.

"Mas, pelan-pelan." Kirana dan Naira menuntun Adhikara duduk di ranjang, tapi sedetik kemudian tubuhnya jatuh ke ranjang dengan mata terpejam dan meracau tak jelas.

***

Sepanjang jam pelajaran pertama sekaligus hari pertama Naira sekolah di SMA Bhakti Persada tidak berjalan dengan lancar, ia sama sekali tidak fokus dengan materi. Pandangannya sering kali jatuh pada punggung Kirana. Pikirannya jauh berkelana tanpa arah. Hingga bel tanda jam istirahat berbunyi membuat Naira buyar seketika. Ia baru tersadar sepenuhnya ketika Bu Rani sudah keluar dari kelas dan siswa-siswi berhampuran meninggalkan bangku.

Ternyata sekolah yang tidak asing bagi Naira sejak di gerbang tadi karena Naira pernah melihat foto lama di album yang sempat Kirana perlihatkan. Lantas, jika Naira satu sekolah dengan Kirana, ia juga satu sekolah dengan Adhikara, bukan? 

Lagi-lagi Naira buyar karena seseorang memanggilnya.

"Hai, aku Kirana." 

Naira menatap lama tangan yang terulur di hadapannya, ditatap bundanya dengan sorot yang sulit dijelaskan. Yang jelas, Kirana di depannya saat ini adalah KIrana yang belum menyimpan luka dan berteman air mata di setiap malamnya. 

Naira tersadar, buru-buru membalas jabatan tangan Kirana dengan perasaan berkecamuk. 

"Naira."

"Salam kenal, ya," ujar Kirana semringah membuat Naira ikut tersenyum. 

"Aku Sasa, salam kenal!" Teman sebangku Kirana juga membalikan badan ikut berkenalan dengan Naira. Tidak hanya mereka beberapa siswa dan siswi yang masih berada di kelas menghampiri Naira dan berjabat tangan dan saling menyebutkan nama masing-masing. 

Namun, dari sekian yang berkenalan dengan Naira, belum ada nama "Adhikara" yang terlontar.

Lihat selengkapnya