The Unwritten Child

Meliyana Jia
Chapter #6

5. Misi Naira

Di bawah langit bertabur bintang, pasar malam dipenuhi lautan manusia. Di antaranya ada gadis kecil yang jemarinya bertautan erat dengan tangan-tangan yang membuatnya merasa aman. Lampu-lampu bohlam menggantung di antara tenda-tenda pedagang. Aroma jajanan tercium satu per satu saat melewati tenda pedagang. Suasana pasar malam juga dihiasi dengan suara musik dari speaker, canda tawa anak-anak, juga suara para pedagang yang saling bersahutan. 

Sepasang kaki gadis kecil itu berhenti, kedua tangannya menjulur ke atas menarik perhatian orang tuanya. Tingginya hanya sepinggang, membuat ia tidak leluasa melihat pasar malam.

"Sini, naik ke pundak Ayah!" seru Adhikara kemudian mengangkat putrinya. Begitu duduk di pundak ayahnya, Naira tampak lebih gembira. 

"Pegangan, ya, Sayang!" Adhikara menuntun tangan kecil Naira memegang kepalanya.

Kirana yang berada di sebelah hanya terkekeh. Sesekali memegangi Naira dari samping. Begitu mulai melangkah kembali, dunia seakan terasa berbeda. Pepohonan tampak lebih mudah dijangkau tangan Naira, sementara orang-orang terlihat lebih kecil.

Dari kejauhan, bianglala tampak lebih jelas di penglihatannya. Naira menunjuk benda yang berputar pelan dengan lampu warna-warni yang berkelap-kelip sambil berujar, "Ayah, Bunda, ayo, naik bianglala! Cantik sekali!" 

"Bunda mau naik bianglala?" tanya Adhikara.

"Ayo saja."

"Asyik!" Seruan Naira membuat tawa Adhikara dan Kirana terdengar. Interaksi yang cukup membuat orang-orang tau mereka adalah keluarga cemara.

***

Raka menghampiri Naira yang sedang membereskan buku-bukunya ke dalam ransel setelah guru di kelasnya sudah keluar. Namun, Raka datang tanpa ransel, padahal sudah pulang. 

"Nai, kamu pulang duluan saja. Aku ada urusan sama wali kelas, ada tugas." 

"Oh, gitu." Naira mengangguk.

"Kalau tunggu takut kelamaan. Kamu bisa, kan, pulang sendiri?"

"Iya, bisa, kok." 

"Kalau gitu, hati-hati, ya." Sebelum Raka benar-benar keluar dari kelas Naira, ia sempat tersenyum pada Kirana.

Setelah beberapa hari di tahun 1993, Naira mulai terbiasa dengan suasana dan lingkungannya, merasa dirinya sudah cukup beradaptasi. Ia pun memberanikan diri pulang sendirian.

Akhirnya Naira, Kirana, dan Sasa saling melambai di depan gerbang sekolah dan mereka pulang ke rumah masing-masing.

"Sampai jumpa besok!"

"Sampai jumpa!"

Naira akhirnya melangkah di antara siswa-siswi lain yang kemudian berpisah di beberapa titik tertentu. Saat berbelok ke gang sempit menuju rumah Raka, Naira mendapati tiga lelaki bersandar di ujung gang, tidak berpikir yang macam-macam, Naira hanya izin lewat dengan sopan. Namun, tidak diduga salah satu dari mereka malah menghadang.

"Mau ke mana, Neng?" 

Lihat selengkapnya