The Unwritten Child

Meliyana Jia
Chapter #7

6. Pelanggaran

Tubuh Naira terus terseret ke dasar danau. Perlahan matanya terbuka, betapa terkejutnya Naira begitu mengetahui dirinya terbungkus air. Ia tidak tau apa yang sudah terjadi, yang ia ingat hanya ketika Kirana bersamanya sebelum ia mimisan dan akhirnya kehilangan kesadaran. Ia meronta, berusaha menggapai sesuatu guna mencapai permukaan. Namun, sia-sia, justru ia semakin jauh dari bibir danau. Napasnya hampir habis, pandangan mulai kabur. 

Tidak sengaja menghirup air danau membuat dirinya semakin panik tak keruan. Kejadian yang sama persis seperti saat ia tenggelam malam itu. 

Di antara riak air yang mulai menghitam, samar-samar Naira melihat jam saku melayang di hadapannya. Ia yakin tadi tidak membawa jam saku saat bertemu dengan Kirana. Jarum jam tersebut berputar berlawanan arah sendiri seperti beberapa waktu lalu dan semakin cepat. Hingga suara detak jarumnya memenuhi kepala Naira.

Naira merasa dunianya berhenti, tidak ada suara apa pun di sekitar termasuk riak danau yang ia ciptakan sebab meronta ataupun gelembung yang keluar dari indra pernapasannya. Sunyi. 

Namun, suara yang tidak diketahui berasal dari mana terdengar jelas oleh Naira.

"Kamu tidak bisa mengubah masa depan dengan kata-kata. Masa depan tidak boleh diungkapkan pada siapa pun yang kamu temui atau tubuh kamu yang akan menanggungnya."

Naira memandang sekitar, tidak ada siapa pun selain dirinya. 

Suara itu kini menghilang. Hingga Naira merasa tersedot sesuatu. 

"Naira, bangun!"

Tubuh Naira tersentak, ia membuka mata dengan napas tersenggal. Ia mendapati dirinya berada di ranjang beralaskan bantal di UKS. Di sebelahnya ada Kirana dan Arga, tampak Arga baru saja menyimpan minyak kayu putih di kotak P3K yang berada di UKS setelah digunakan untuk membangunkannya dengan aromanya. 

Arga tadi kebetulan melewati kelas mereka dan tak sengaja melihat Naira pingsan di sebelah kelas dan tepat Kirana meminta pertolongan.

"Nai, kamu tadi mimisan terus pingsan," jelas Kirana khawatir. Tangan Kirana menggenggam sapu tangan yang terdapat bercak darah yang Naira duga adalah darahnya tasi yang dibersihkan oleh Kirana.

Melihat arah pandang Naira, Kirana merasa perlu menjelaskannya. "Oh, ini tadi aku bersihkan, sapu tangannya bersih."

Naira menatap Kirana dengan tatapan yang sulit diartikan. Mimpi tadi ... kenapa terasa begitu nyata? Apa memang bukan sekadar mimpi? Melainkan sebuah peringatan untuknya? 

"Kamu masih pusing?" tanya Arga menghampirinya. 

"Kirana, Arga, makasih, ya. Aku udah gapapa, kok. Kayaknya kecapekan aja," balas Naira tersenyum tipis.

"Kalau kamu masih pusing, bilang, ya," ujar Kirana.

Naira mengangguk. Ia melihat tatapan teduh serta rasa khawatir yang tersirat dari manik Kirana, sama seperti tatapan Kirana di masa depan kepadanya. 

Seseorang masuk ke UKS dengan langkah tergesa-gesa. Raka mengalihkan perhatian mereka dengan langkah gusarnya. 

"Naira, kamu gapapa? Kenapa bisa pingsan?" Raka tak kalah khawatir. Mengingat Naira mempunyai riwayat amnesia membuat ia kian menjadi.

"Aku gapapa, Raka." Mendengar jawaban Naira membuat Raka bisa bernapas lega setelah beberapa menit yang lalu panik sekali.

"Kamu tau dari mana, Ka? Aku sama Arga belum sempat kasih tau siapa-siapa," lontar Kirana. Usai membawa Naira ke UKS, mereka sibuk berusaha membangunkan Naira.

"Dari Adhi, dia tadi baru datang dan nggak sengaja lihat Arga bawa Naira ke UKS dalam keadaan pingsan. Jadi, aku langsung ke sini."

Kirana mengangguk sambil meng-oh-kan penjelasan Raka.

"Makasih, ya, kalian udah tolong Naira," lanjut Raka.

"Sama-sama." Arga dan Kirana serempak.

Saat itu juga, Naira menyadari bahwa kejadian tadi bukan mimpi semata, melainkan sebuah jawaban dari pertanyaannya selama ini menghantuinya. Jawabannya kini tak lagi ragu, adalah memang benar-benar sebuah kesempatan untuk mengubah masa depan, tapi tidak bisa dijalankan sesuka hati. Melainkan sebuah perjalanan waktu yang terikat oleh aturan yang belum ia pahami sepenuhnya.

***

Jam pelajaran terakhir hampir usai, suara gemuruh saling bersahutan di langit. Suasana kelas menjadi lebih gelap. Beberapa menit kemudian, bel tanda pulang berbunyi, bersamaan dengan hujan yang mulai turun. Beberapa siswa berhamburan keluar dari kelas, ada yang membawa payung, ada juga yang tidak sehingga menerobos rintik hujan

Naira menghampiri Raka di kelasnya karena lelaki itu sedang mendapat jadwal piket kelas. Jadi mereka pulang sedikit terlambat.

"Raka, kamu bawa payung?" tanya Naira pada Raka yang sibuk merapikan barisan meja di kelas.

"Bawa, Nai. Cukup, kok, buat berdua," balas Raka.

"Syukurlah." Naira tersenyum tipis lalu menghabiskan waktu memandangi hujan sambil bersandar di sisi pintu kelas. 

Selesai piket kelas, Raka pun mengambil ransel di mejanya kemudian menghampiri Naira. 

"Ayo, pulang."

Naira mengangguk. "Yuk." Ia melangkah beriringan dengan Raka di sepanjang koridor yang sudah cukup sepi, hanya tersisa beberapa siswa dengan urusan masing-masing.

Hujan turun kian deras. Kilat sesekali menyambar membuat Naira tersentak.

"Kamu takut petir?" tanya Raka.

"Nggak, kaget aja," balas Naira. 

Raka terkekeh. "Kirain takut." 

Lihat selengkapnya