The Unwritten Child

Meliyana Jia
Chapter #8

7. Tentang Raka

Aroma semur ayam memenuhi meja makan sejak senja. Kuah kecokelatan yang masih mengepulkan uap, bercampur dengan wangi pala dan kecap manis yang meresap sempurna. 

"Neng belum pernah coba semur ayam masakan Ibu, kan?" tanya Ibu Raka sambil mengambilkan nasi ke piring Naira.

"Belum pernah, Bu."

"Enak banget, Nai. Kamu harus nambah nasi pokoknya," seru Raka mengacungkan jempol. 

Naira terkekeh kecil melihatnya. 

"Ayo, Neng, makan," ujar ibu Raka setelah meletakkan piring berisi nasi yang mengumpal di depan Naira.

"Iya, Bu, makasih." Naira mengangguk sopan. 

Baru sesuap, mata Naira langsung berbinar.

"Enak, bukan?" tanya ayah Raka lalu tertawa melihat air wajah Naira.

Naira terdiam merasakan semur ayam buatan ibu Raka yang lezat sekali, terlebih mirip dengan masakan Kirana. Hati Naira tercubit kecil, ia jadi rindu dengan masakan bundanya. 

"Enak, Bu," ungkap Naira.

Ibu Raka tersenyum bangga. "Resepnya turun-temurun dari nenek Raka."

"Wah!" seru Naira. Ia mengambil sepotong kentang, menaruh ke piring lalu menghancurkannya dengan sendok hingga bercampur dengan kuah semur sebelum melahapnya bersama nasi.

Raka tidak sengaja melihatnya, membuat ia sedikit terkejut lalu bertanya, "Kamu juga makannya dicampur dulu?"

Naira melihat isi piringnya. "Iya." Di saat yang bersamaan, Naira melihat Raka melakukan hal yang sama. 

"Jarang banget ada yang makan semur kayak gitu."

Naira tersenyum kecil menanggapinya. 

"Neng, nambah lagi nasinya?" tanya ibu Raka melihat isi piring Naira sudah hampir habis.

"Aku nambah, dong!" seru Raka menyodorkan piring terlebih dahulu.

"Ayah juga!"

"Nambah, Bu," timpal Naira membuat penghuni meja makan tertawa bersama. Ternyata semur ayam masakan ibu Raka mampu menambah selera makan.

"Untung aja nasinya Ibu masak porsi lebih."

***

Minggu siang, Naira tiba di depan rumah Kirana sambil memeluk sebuah map berisi tugas kelompok. Alamat rumahnya diberikan Raka, lelaki itu berniat ingin mengantarnya, tapi Naira menolak karena ia bisa ke rumah Kirana sendiri, sebab ia juga sudah terbiasa di suasana lingkungannya. 

Sambil menunggu ketukan pintu Naira direspons, ia memerhatikan sekitar rumah Kirana. Rumah yang cukup idealis untuk keluarga kecil. Pagar besinya bercat krim dengan halaman kecil yang dikelilingi pot bunga melati. 

Pintu terbuka mengalihkan atensi Naira. 

"Hai, Naira!" sapa Kirana tersenyum menyambut Naira.

"Hai, Kirana!"

"Masuk, yuk!"

Naira mengangguk kemudian melangkah masuk. "Permisi." 

Begitu di dalam rumah Kirana, matanya menyapu ke segala penjuru rumah. Ruang tamu yang tidak begitu luas, tapi terkesan hidup. Sofa dengan motif bunga, di sebelah ada rak panjang yang tertata foto keluarga dan beberapa piala milik Kirana. 

"Aku panggil bundaku dulu," ujar Kirana, kemudian mempersilakan Naira menempati sofa sebelum Kirana masuk lebih jauh ke dalam rumah.

Naira mengangguk. Tidak sampai satu menit, Kirana kembali sambil menarik pelan bundanya yang masih memakai celemek.

"Bun, ini Naira!" seru Kirana memperkenalkan sahabatnya. Kirana juga tidak tau sejak kapan ia menganggap Naira sebagai sahabat, mungkin terhitung beberapa hari sejak Naira masuk sebagai siswa baru.

Naira seketika menoleh lalu berdiri, ia menyalim ibu Naira sopan.

"Naira, Bu."

"Cantik sekali teman kamu, Kir," tutur ibu Kirana.

"Iya, Bun, cantik, kan?" sahut Kirana membuat Naira tersipu malu. Hingga akhirnya Naira tersadar yang memujinya adalah bunda dan neneknya sendiri.

Lihat selengkapnya