The Unwritten Child

Meliyana Jia
Chapter #9

8. Ada Apa Dengan Kirana?

Langit sore mulai memperlihatkan keindahannya, kejinggaan mulai menghiasi langit kala sang surya kian mendekati ufuk barat. Angin berembus pelan membuat dedaunan bergerak.

Naira mendorong sepeda merah muda kecil beroda dua ke halaman rumah yang penuh rerumputan. Adhikara mengikuti dari belakang. Sementara Kirana memandang dari teras. 

Naira mulai naik ke atas sadel dengan usaha yang ia kerahkan. 

"Ayah ajari Naira, ya!" seru Naira dengan lantang. 

"Tentu, putrinya Ayah!" sahut Adhikara yang bersiap memegang belakang sepeda.

"Ayo, anak Bunda keren!" sorak Kirana girang membuat Naira terkikik.

Kedua kaki mungil Naira mulai mengayuh. Roda-roda kecil mulai berputar perlahan.

"Ayah jangan lepas, ya!" pinta Naira.

"Iya, Sayang."

Suara Adhikara membuat Naira cukup merasa aman. Ia terus mengayuh pelan ke depan. Walau sesekali terhenti karena sebelah kaki Naira refleks menyentuh tanah kala sepeda mulai oleng. Sementara Adhikara mengiring sepeda dari belakang. Kayuh demi kayuhan membuat sudut bibir Naira kian merekah. Kecepatan sepeda bertambah, Naira merasa tidak akan jatuh karena ayahnya menjaga dari belakang.

Namun, tanpa Naira sadari, tangan Adhikara perlahan lepas . Naira masih melaju bersama sepedanya. Melihat Naira sudah bisa naik sepeda tanpa dipegang, Kirana sontak tepuk tangan dengan semringah.

"Anak Bunda pintar!"

"Ayah, Bunda, Naira bisa naik sepeda!" seru Naira, ia menoleh sedikit ke belakang. Matanya membulat kala melihat tidak adanya Adhikara yang seharusnya memegangi sepeda membuat Naira panik lalu oleng.

"Ayah!"

Suara hantaman terdengar di telinga mereka. Sepeda Naira jatuh ke samping. Naira jatuh di atas hamparan rumput. Lututnya sedikit kotor, tetapi tidak meninggalkan luka parah. Lantas Adhikara dan Kirana segera menghampiri Naira.

"Nai, ada yang luka?" panik Kirana.

Naira menggeleng, tapi matanya mulai berkaca-kaca.

"Ayah kenapa nggak pegangin sepeda Naira?" tanya Naira.

"Ayah pengin tunjukkin kalau anak Ayah ternyata bisa," balas Adhikara. 

Naira diam dengan air mata yang menggenang, sekali kedip saja mungkin akan menciptakan dua anak sungai di pipinya.

"Barusan Naira bisa kayuh sendiri," celetuk Kirana.

Naira terdiam mencerna ucapan Kirana. Ia tidak tau sejak kapan Adhikara melepas pegangannya, tapi tadi ia benar-benar sudah mengayuh sendiri.

"Naira udah bisa naik sepeda?" tanya Naira ragu.

"Iya, kamu lebih berani dari yang kamu kira." Adhikara mengelus pipi Naira. 

"Anak Ayah mau coba lagi?" Adhikara mengulurkan tangannya.

Senyum Naira perlahan kembali mengembang, ia menyambut genggaman Adhikara tanpa ragu.

Di bawah langit yang memeluk senja, Adhikara kembali mendorong sepeda putrinya. Barangkali, yang diajarkan Adhikara saat itu bukan sekadar menjaga keseimbangan di antara dua roda, melainkan cara berdamai dengan jatuh, lalu bangkit dan yakin untuk kembali melanjutkan perjalanan. 

***

Naira baru saja menutup pintu rumah sepulang dari rumah Kirana. Di ruang tamu ia mendapati Raka, Arga, Wawan, dan Adhi yang juga sedang mengerjakan tugas kelompok. Bertepatan saat melihat Naira melangkah masuk, Arga berdiri. 

"Arga udah mau pulang?" tanya Naira.

"Belum, mau ke toko buku beli map," jawab Arga.

"Oh, kebetulan, aku juga mau ke toko buku, sekalian bareng aja, gimana?"

"Wah, boleh!"

"Kalau gitu, aku simpan barang-barangku dulu, ya." Naira bergegas ke kamar untuk menyimpan ransel dan map-map yang ia bawa. Setelahnya ia menghampiri Arga.

"Raka, aku ke toko buku sama Arga, ya," pamit Naira.

"Laporan diterima!" sahut Raka.

Naira dan Arga pun meninggalkan perkarangan rumah Raka. Mereka berjalanan menuju toko buku yang tak jauh dari rumah. Sesampai di sana, mereka menyusuri rak demi rak.

"Kamu baca novel, nggak?" tanya Arga.

"Baca, kamu?" 

"Baca juga."

"Nggak nyangka, biasanya cowok jarang baca," kekeh Naira.

"Biasanya pinjam di perpustakaan sekolah. Tapi selesainya butuh berbulan-bulan."

"Kenapa?"

"Kalau teman-teman sekelas aku yang perempuan tau aku pinjam novel, mereka selalu pinjam dari aku, bukannya pinjam langsung ke perpustakaan."

Lihat selengkapnya