The Unwritten Child

Meliyana Jia
Chapter #10

9. Keraguan

Sebelum ke rumah Kirana, teman-temannya pulang ke rumah terlebih dahulu untuk meminta izin orang tua karena tidak ingin mereka cemas jika anaknya pulang lebih lambat dari biasanya. Sementara Sasa langsung ke rumah Kirana sebab orang tuanya sedang berada di luar kota. 

Baru saja mengganti pakaian dna hendak berangkat ke rumah Kirana, telepon rumah Raka berdering. Langkah Raka dan Naira yang baru saja melewati ruang tamu terhenti. Raka berbalik menuju telepon rumah yang masih menunggu jawaban. 

Raka mengangkat telepon genggamnya ke telinga. "Halo?"

"Raka, kamu lagi senggang?"  tanya ayah Raka dari seberang.

"Baru mau keluar, Yah. Kenapa?" balas Raka.

"Bisa tolong bantu ayah di toko dulu?

"Sekarang, Yah?" Raka melirik Naira yang sedang menunggunya.

"Iya, hari ini barang-barang pada datang, lalu truk semen juga datang lebih cepat. Pak Jono sama Mas Galang lagi kewalahan. Ayah lagi sibuk urus jumlah stok, kalau salah catat, besok sulit.

Raka melirik kantong plastik berisi obat-obatan di tangannya. Ia sedikit menghela napas. "Iya, Yah. Raka ke sana sekarang." Raka kemudian menaruh telepon genggamnya kembali. Lalu menghampiri Naira yang menatap penuh tanya.

"Aku nggak jadi ke rumah Kirana."

"Kenapa?"

"Ayahku minta tolong bongkar barang di toko. Aku menyusul kalau sempat."

Naira mengangguk mengerti. Ayah Raka punya toko bahan bangunan dan beberapa kali ia sudah melihat Raka ke toko untuk membantu ayahnya sepulang sekolah. 

"Oh, gitu. Ya udah, gapapa."

"Aku titip buat Kirana, semoga cepat pulih," ujar Raka menyerahkan kantong plastik ke Naira yang menyambutnya sambil mengangguk dengan senyuman tipis.

"Aku akan sampaikan ke Kirana."

"Kamu hati-hati di jalan, ya. Toko ayahku nggak searah sama rumah Kirana."

"Aku tau," kekeh Naira. 

Mereka melangkah keluar dari rumah lalu berpisah di jalan utama.

Naira tiba di depan rumah Kirana. Begitu memanggilnya, bukan Kirana yang menghampiri, melainkan Sasa.

"Nai, ayo, masuk," ajak Sasa. 

Naira mengangguk. Tiba di kamar Kirana, ternyata sudah ada Arga, Wawan dan Adhi yang selesahan di karpet beludru.

"Kirana," sapa Naira memeluk Kirana yang beranjak dari sofa. 

Matanya sayu, hidungnya memerah. Naira bisa menerka jika Kirana terserang flu. 

"Nai, makasih, udah besuk aku." 

Naira mengangguk kecil. Ia menyerahkan kantong plastik pada Kirana. 

"Obat dari Raka, semoga cepat pulih katanya.," tutur Naira.

"Terima kasih," ujar Kirana menyambut pemberian Naira. 

"Raka nggak jadi datang, Nai?" tanya Wawan.

"Raka tadi mau datang, tapi ke toko ayahnya dulu. Kalau sempat dia nyusul," ungkap Naira.

Mereka meng-oh-kan ucapan Naira. 

"Si Cantik udah datang?" Ibu Kirana datang dari arah dapur.

Lihat selengkapnya