Berada di bawah pohon angsana pinggir lapangan saat jam istirahat adalah tempat terbaik yang pernah ada di sekolah ini. Angin yang bertiup pelan memberikan sensasi sejuk pada siswa-siswi yang nongkrong di bangku panjang yang tersedia. Begitu halnya dengan Naira, Kirana, dan Sasa yang menikmati teduhnya suasana sambil menyantap sarapan dari rumah yang mereka bawa masing-masing.
"Habis!" decak Sasa kesal menatap botol minumnya, kemudian ia beranjak. "Aku beli minuman di kantin dulu, ya."
Naira dan Kirana mengangguk. Kini hanya tersisa mereka berdua. Sejujurnya, tidak sedikit hal yang ingin sekali Naira tanyakan pada Kirana, mengenai Adhikara. Namun, ia bingung harus memulai dari mana, takut dicurigai.
"Kir, buat kamu," ujar Naira mengoper sepotong perkedel pada kotak bekal Kirana.
"Eh, makasih, Nai," balas Kirana, lalu mengoper balik sesendok tempe bilis pedas masakan ibunya.
"Buat kamu," kekehnya.
Naira tertawa pelan. "Makasih, Kir."
"Ngomong-ngomong ...." Naira menjeda ucapannya, Kirana menoleh menunggu kalimat berikutnya.
"Kamu punya orang yang disuka, nggak?" tanya Naira menyengir.
Kirana tersenyum lalu menunduk malu. Hal itu membuat Naira semakin penasaran, ia pikir ada.
"Tumben kamu nanya soal gebetan," balas Kirana.
"Aku pengin tau soalnya." Naira memandang binar pada Kirana. Di masa depan, tatapan itu yang selalu membuat Kirana luluh padanya.
Kirana menghela napas. "Karena kamu udah aku anggap sahabat, aku kasih tau, deh. Tapi nggak aku sebut namanya."
"Iya ...."
"Ada." Kirana mengulas senyumannya. Naira mengerjap, menerka-nerka siapa seseorang yang disukai Kirana. Apa dia adalah Adhikara?
"Siapa?" tanya Naira penasaran.
"Ada aja," jawab Kirana misterius, lalu melanjutkan makannya yang belum selesai.
"Kasih tau, dong, dia di sekolah ini?" Naira berusaha menggali lebih jauh.
Kirana berpikir sejenak, lalu mengangguk, ia merasa tidak masalah memberitahu pada Naira.
Naira tertegun. Di sekolah ini? Apa ada kemungkinan dia adalah ayahnya?
"Di kelas kita?" pancing Naira.
"Bukan." Jawaban Kirana cukup memberikan petunjuk walau tidak begitu kentara.
Sasa kembali dengan sebotol mineral di tangannya. "Bahas apa, nih?" Ia kembali ke bangku.
"Naira tanya aku soal orang yang aku suka," jawab Kirana.
"Oh ...."
"Kamu tau siapa, Sa?" tanya Naira.
"Aku nggak tau juga, Kirana nggak mau cerita. Cuma tau ada aja pokoknya," jelas Sasa.
Naira berdeham. Sulit jika Kirana tidak mau memberitahu siapa orangnya.
"Kalau kamu, Nai?" tanya Sasa.
Naira tertawa. "Nggak ada."
"Aku pikir ada," sahut Kirana, ia menyendoki perkedel yang belum ia sentuh. Begitu masuk ke mulut, matanya berbinar. "Nai, perkedelnya enak banget!" serunya.
"Ibunya Raka yang masak, Kir."
"Aku dengar ibuku disebut," celetuk seseorang menginterupsi mereka bertiga.
Raka, Arga, Wawan, dan Adhi baru saja bergabung di bawah rindangnya pohon.
"Kirana bilang perkedel masakan ibu kamu enak," jelas Naira.
Raka sedikit mengerjap, jadi Naira membagikan perkedelnya pada Kirana? "Makasih, Kir," kekehnya.