The Unwritten Child

Meliyana Jia
Chapter #12

11. Lebih Dekat

Naira yang berumur tujuh tahun menyambut Adhikara di depan pintu. Hingga yang ditunggu-tunggu Naira akhirnya pulang juga. Naira memeluk Adhikara dengan girang, sementara Adhikara hanya balas mengusap kepalanya dan tidak antusias seperti biasanya. Pakaiannya kusut dan rambutnya juga berantakan. 

Naira mengekori Adhikara setelah menutup pintu rumah. Sesekali ia memanggilnya, tapi tidak ada sahutan seolah Naira hanya angin lalu. Ia menghampiri bundanya di meja yang sedang menyiapkan makan malam.

"Bunda, ayah kenapa?" tanya Naira bingung.

Adhikara menaruh tas kerjanya asal di sofa, lalu berjalan gontar menuju kamar. Kirana pun menyadari Adhikara tampak berbeda dari biasanya. Lesu, melangkah tanpa minat, tatapannya juga tak bergairah.

"Mas, makan dulu," ujar Kirana. 

"Nanti," sahut Adhikara nyaris tak terdengar.

"Naira udah nunggu kamu dari tadi."

"Aku udah bilang nanti!" sentak Adhikara.

Suasana langsung hening seketika. Naira mencengkram gelas, tak berani lagi menatap Adhikara. 

Kirana hanya mengerjap, terkejut terhadap bentakan yang keluar dari Adhikara pertama kalinya. Adhikara kini juga terdiam. Seolah baru menyadari nada bicaranya meninggi. Ia menatap Kirana dan Naira bergantian. Dadanya terasa sesak. 

"M ... maaf." 

Namun, Adhikara kembali melanjutkan langkahnya ke kamar. 

Kirana yang menyadari Naira ketakutan pun langsung memeluknya. "Ayah cuma kecapekan, Sayang."

Sementara Kirana bertanya-tanya ada apa dengan Adhikara. Pria yang ia kenal seolah bukan dirinya lagi. Apa Adhikara sedang mengalami masalah di pekerjaannya?

***

Rambut panjang Kirana bergerak mengikuti arah angin. Ia sedang berada di bawah pohon angsana sambil melahap isi halaman demi halaman buku Biologi. Namun, yang didapatkan hanya alis yang berkerut sejak beberapa menit lalu. Ia hanya seorang diri, tadi Naira dan Sasa hendak menemani, tapi Kirana menolak karena butuh konsentrasi penuh menghadapi materi yang jam pelajaran berikutnya akan ulangan harian. 

Sebuah es lilin cokelat tersodor di hadapan Kirana membuat ia mendongak.

"Nih," ujar Arga.

Kirana menyambut pemberian Arga sambil tersenyum. "Makasih."

"Lagi tempur sama Biologi?" kekeh Arga melihat sampul buku yang dibaca Kirana.

"Iya, setelah ini ulangan." Kirana menggerutu. "Aku belum ngerti perbedaan xilem dan floem."

"Mudah."

Kirana semakin mengernyit mencari letak mudahnya. 

Arga menunjuk gambar batang pohon di buku. "Bayangkan aja pohon ini lagi haus."

Penjelasan Arga sontak membuat Kirana semakin hilang arah. Namun, ia menunggu penjelasan Arga berikutnya.

"Xilem adalah kurir galon. Dia nganter air dari akar ke atas."

Kirana berdeham. Masih mencerna ucapan Arga.

"Kalau floem adalah ... kurir warteg. Habis daun masak makanan, tugas floem nganter makanan ke seluruh tubuh pohon."

Kirana menoleh pada Arga, masih menatap tak percaya. Sedetik kemudian tawa Kirana pecah begitu saja. 

"Hahaha!" 

"Kenapa harus kurir galon dan warteg?" tanya Kirana di sisa tawanya.

"Biar mudah dipahami."

Lihat selengkapnya