The Unwritten Child

Meliyana Jia
Chapter #13

12. Lebih Dekat

Setelah melakukan registrasi, Arga menemani Naira mengambil hasil pemeriksaan.

"Dari hasil pemeriksaan, semuanya bagus. Tidak ada cedera kepala yang menyebabkan gangguan permanen."

Naira tersenyum kikuk.

"Terkait hilang ingatan yang sempat disampaikan, saya akan menjelaskan sedikit. Amnesia tidak selalu disebabkan oleh benturan. Beberapa kasus, tekanan psikologis atau trauma berat juga dapat menyebabkan hilang ingatan sementara."

"Saya pikir Ibu kamu akan ikut, jadi bisa saya jelaskan langsung pada beliau. Namun, jika berhalangan hadir, tolong sampaikan padanya. Yang penting, jangan memaksa untuk mengingat, biarkan ingatan kamu kembali sendirinya."

"Baik, Dok," jawab Arga.

"Terima kasih, Dok," ujar Naira dan Arga serempak.

Dokter menutup map laporan yang berisi hasil pemeriksaan lalu diserahkan pada Naira. Kemudian mereka pamit.

"Udah kubilang kamu akan baik-baik aja," ujar Arga.

"Iya," kekeh Naira. Jauh lebih lega karena dokter tidak menemukan hal janggal.

***

"Nai, gimana hasilnya?"

"Naira baik-baik aja, Ka," jawab Arga tersenyum, alih-alih Naira yang menjawab.

"Syukurlah."

"Dokter bilang jangan memaksa Naira untuk mengingat, biarkan ingatan Naira kembali sendiri," jelas Arga.

Raka mengangguk mengerti.

Arga menyeletuk, "Kalian lapar, nggak?" Ia menatap Naira dan Raka bergantian.

"Lumayan, nih. Belum makan dari siang," sahut Raka mengusap-usap perutnya yang sedikit keroncongan.

"Kebetulan di dekat Bakso Wahyu, ajak Naira makan di sana, yuk," usul Arga.

"Ide bagus!" Raka menjentikkan jari. "Nai, kita makan bakso dulu, yuk. Kamu harus cobain bakso Mas Wahyu. Enak banget!"

Naira hanya mengangguk setuju, ia juga sedang lapar. Mereka bertiga pun keluar dari rumah sakit beriringan, menyusuri trotoar yang membentang di sepanjang jalan. Tidak sampai lima menit, mereka tiba di gerobak dengan tulisan "Bakso Wahyu" di pinggir jalan.

"Mas, baksonya tiga," ujar Arga memesan.

"Makan sini?" tanya Mas Wahyu yang sibuk menyajikan bakso di mangkuk.

"Iya."

"Silakan," ujar Mas Wahyu mempersilakan mereka menempati kursi yang tersedia.

Sementara Naira tampak masuk ke dunianya sendiri. Ia memerhatikan sekitar, gerobak bakso Mas Wahyu dengan beberapa meja dan kursi yang tersedia dilengkapi perlindung terpal dari panas maupun hujan. Ternyata awal Bakso Wahyu merintis seperti itu.

Di masa depan, Naira juga cukup sering makan di Bakso Wahyu bersama Kirana dan Adhikara, dulu. Namun, bedanya tidak lagi menggunakan gerobak, melainkan sebuah bangunan. Bakso Wahyu memang terkenal lezat, nyaris para pembeli menjadi langganan.

Dulu, Adhikara suka sekali mengajak Naira dan Kirana makan di Bakso Wahyu. Memori mengenai suasana saat mereka makan pun menyeruak di pikiran dan hati Naira. Canda tawa seolah terdengar jelas, bayangan seakan nyata di depannya.

"Tiga bakso, ya," ujar Mas Wahyu datang membawakan tiga mangkuk bakso dengan asap yang masih mengepul.

"Makasih, Mas," balas Raka.

Sajian Bakso Wahyu selalu sama sejak dulu, pikir Naira.

"Ayo, Nai, dicoba baksonya. Jamin suka," kekeh Arga sambil meraih botol kecap di meja kemudian menuangkan sedikit ke mangkuknya.

"Pakai kecap?" tawar Arga.

Naira mengangguk. Arga menuangkan kecap untuk Naira, melihat tindakan Arga, Raka pun menimpal.

"Kamu suka saos, kan?" Belum sempat Naira menjawab, Raka sudah menuangkan saos ke mangkuk Naira.

"Ka, Naira belum jawab udah main tuang," celetuk Arga.

"Aku suka, kok," jawab Naira tersenyum.

"Kamu, kan, biasanya di rumah waktu Ibu masak bakso kamu suka pakai saos, jadi aku tau," ujar Raka kemudian menatap Arga.

Naira seketika mengenyit memandang Raka.

"Ka? Ibu kamu belum pernah masak bakso."

"Hah? Eh? Kayaknya adik sepupuku," bingung Raka.

Naira ikutan bingung, pasalnya jumlah saos yang diberikan Raka sekitar dua sendok makan sesuai seleranya. Mungkin hanya kebetulan adik sepupu Raka dan Naira menyukai hal yang sama.

Setelahnya mereka melupakan topik tersebut. Mereka mulai melahap bakso masing-masing.

Naira meniup baksonya yang masih panas. Begitu masuk ke mulutnya, Arga langsung menanyakan rasanya.

"Enak?"

Naira tau bagaimana rasa bakso Mas Wahyu, rasanya juga selalu sama, tentu saja .... "Enak."

"Harus sering-sering makan di sini," sahut Raka, lalu menambahkan saos ke mangkuknya.

"Pesanan satu mangkuk bakso."

Naira, Raka dan Arga menoleh serentak begitu Mas Wahyu meletakkan semangkuk bakso yang entah punya siapa.

Lihat selengkapnya