Rintikan hujan seolah mengurung para siswa di gedung sekolah. Mereka yang berencana menikmati rindangnya pohon angsana, batal. Rata-rata hanya berada di kelas, kantin, atau perpustakaan. Naira baru saja keluar dari perpustakaan setelah mengembalikan novel yang pernah ia pinjam beberapa waktu lalu bersama Arga. Kini ia baru saja meminjam buku pelajaran untuk materi tambahan. Tadinya bersama Kirana, tapi gadis itu duluan ke kelas karena buru-buru ingin ke toilet.
Naira membuka halaman buku di sepanjang jalan sambil membaca. Koridor di sekitar perpustakaan cukup sepi membuat ia tidak takut menabrak seseorang. Angin bertiup cukup kencang, begitu membalikkan halaman berikutnya secarik kertas yang terselip di buku terbang begitu saja.
"Eh!"
Naira menggapai kertasnya, tapi tidak dapat, justru terbang ke ujung koridor. Langkah kecil Naira mengejarnya. Namun, seseorang berbelok dari koridor lain. Tidak sengaja kertas itu menghadang wajahnya.
Naira melotot lucu sambil menutup mulutnya.Antara tidak menyangka dan merupakan kejadian lucu.
Lelaki itu menyingkirkan kertas yang kini ditatapnya.
"Arga?" panggil Naira.
"Punya kamu?" tanya Arga, terkekeh sambil memberikan kertas tadi saat mereka sudah mengikis jarak.
"Iya, maaf, ya, nggak sengaja." Naira menyengir kuda sembari meraih kertas yang diserahkan Arga, lalu menyelipkan kembali ke halaman semula dan menutup sampulnya.
"Nggak masalah. Kamu dari perpustakaan?" Arga melirik perpustakaan melalui jendela.
Naira mengangguk. "Iya, habis balikin novel, terus pinjam buku ini." Ia menunjuk buku yang berada di pelukannya.
Naira tidak sengaja melihat sisi tangan Arga yang terluka. "Ga, tangan kamu kenapa?"
"Oh, ini?" Arga melirik luka di tangannya. "Jatuh di kompleks rumah waktu main basket sama anak-anak."
"Udah obatin?" Naira meringis melihat luka lecet sepanjang lima senti itu.
"Nggak pernah obatin kalau lecet doang."
Naira menatap garang. "Kamu bilang lecet doang? Bisa infeksi tau! Ayo, obatin dulu di UKS." Tanpa persetujuan Arga, Naira menarik tangan lelaki itu yang kini tertegun.
Sesampai di UKS, Naira menyuruh Arga untuk duduk di sisi ranjang. Sementara ia mencari kapan dan cairan antiseptik di kotak P3K. Setelah ketemu, ia menghampiri Arga yang memperhatikannya sejak tadi.
"Nai, sebenarnya nggak perlu. Aku udah biasa sama luka kecil."
"Luka sekecil apa pun bisa infeksi kalau dibiarkan, Ga. Bahaya." Naira membersihkan luka di tangan Arga dengan telaten. Sesekali Arga meringis kecil.
"Tahan dikit," titah Naira.
"Iya, Nai."
Tanpa Naira sadari, Arga terus menatapnya teduh.
"Udah." Hingga kegiatan Naira selesai, pandangan mereka bertemu.
"Makasih."
Naira mengangguk. "Kamu pernah tolongin aku waktu pingsan, jadi kali ini anggap aku balas budi."
"Nggak perlu balas budi, Nai." Senyuman menawan Arga mengunci pergerakan Naira.
Maniknya terus beradu dengan manik Arga. Entah kenapa sekarang jantung Naira berdegup lebih cepat. Perasaan yang tak bisa ia jelaskan. Jika saja sedetik lagi Naira masih menatap Arga, ia jamin sudah terhipnotis. Buru-buru Naira mengerjap dan melihat arah lain. Ia mengembalikan cairan antiseptik ke kotak P3K.
Bel tanda masuk berbunyi, Naira langsung pamit duluan pada Arga dan buru-buru keluar dari UKS membuat Arga bertanya-tanya.
"Naira kenapa? Kok nggak bareng aja ke kelasnya?"
***
Jam istirahat kali ini, pinggir lapangan dipenuhi siswa-siswi yang sedang menonton pertandingan basket. Naira, Kirana, dan Sasa berada di barisan ketiga dari bawah tribun untuk memberikan dukungan pada Raka, Arga, Wawan, dan Adhi. Tim basket SMA Bhakti Persada akan mengikuti pertandingan basket antarsekolah minggu depan, lantas mereka menggunakan kesempatan latihan basket pada jam istirahat hari Sabtu.