The Unwritten Child

Meliyana Jia
Chapter #15

14. Kenyataan

Di bawah langit gemintang, alun-alun kota menjadi lautan manusia. Lampu warna-warni yang menggantung menghiasi sepanjang jalan masuk. Sisi kanan dan kiri jalan berjajar stan makanan dan minuman. Aroma sate ayam, jagung bakar, bercampur menjadi satu di udara. Selain makanan dan minuman, juga ada stan kerajinan tangan.

Para pengunjung yang berlalu lalang melihat satu per satu stan makanan, ada yang menjual sate, jagung bakar, rambut nenek, bakso, mie ayam, batagor, siomay, gorengan dan masih ada beberapa makanan yang tidak bisa diingat satui per satu. Sementara minuman, ada yang menjual es puter, es doger, es cendol, es campur, es kelapa muda, dan teh botol kaca. 

Suasana pentas seni kota adalah yang pertama kalinya bagi Naira, sebab di masa depan sudah tidak pernah diadakan lagi, hanya pasar malamnya saja yang menjual berbagai makanan dan minuman. Ia merasa beruntung dapat merasakan suasana pentas seni yang hanya pernah ia dengar saja di masa depan. 

Naira dan Raka tadi sempat bersama ayah dan ibu Raka sebelum mereka berpencar karena Naira dan Raka hendak bertemu dengan teman-temannya. Mereka belum membeli apa-apa karena memang membingungkan untuk dipilih. Ingin rasanya membeli semua yang ada. 

Hingga Naira berkumpul dengan teman-temannya setelah bertemu di jalan masuk utama. Mereka kembali menjelajahi sepanjang jalan. Di ujung sana, sebuah panggung megah dan lampu-lampu sorot menjadi pusat perhatian, suara pembawa acara menggema di alun-alun kota. Mereka sedang berdiskusi tentang jajanan yang akan mereka beli.

"Mau beli apa, Nai?" tanya Arga yang berjalan di sebelahnya. 

"Bingung, lihat dulu," kekeh Naira.

Arga mengangguk lalu tertawa kecil.

Kirana yang berada di belakang Naira dan Arga hanya bisa melihat kedekatan mereka dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Jauh dalam lubuk hati Kirana, ia yakin bukan sekadar pertemanan biasa. Ada perasaan lebih dari itu. Namun, berkali-kali juga hati kecilnya menolak pernyataannya sendiri.

"Nai, mau beli es cendol?" tawar Raka.

"Mau." Naira mengangguk.

Mereka menghampiri stan es cendol yang sedang mengantre. Masing-masing memesan es cendol yang diwakilkan oleh Raka. Setelah mendapatkan pesanan mereka kembali menyusuri jalan. 

Naira merasakan segarnya es cendol yang ia beli. Rasanya mirip dengan es cendol yang ia beli ketika bersama ayah dan bundanya di masa depan. Ternyata, sebuah rasa juga menyimpan sebuah memori, ya? Pikirnya.

"Beli sate, yuk," ajak Kirana.

Mereka berbondong-bondong menghampiri stan penjual sate. Masing-masing membeli satu dua tusuk sate. 

Begitu sudah di tangan masing-masing, Naira langsung mengigit satenya. "Enak banget!" Matanya berbinar.

"Mau beli lagi?" tanya Arga.

"Nggak, deh. Takut kenyang duluan sebelum beli yang lain," kekeh Naira.

Usai menghabiskan sate dan cendol, mereka melirik jajanan lain. 

"Eh, es puter!" seru Sasa sambil menuju bapak tua yang berada di balik gerobak kayu sedang memutar tabung es dengan tuas di samping. 

"Mau!" sahut Kirana.

"Wah, rakus sekali gadis-gadis itu!" Adhi menggeleng-gelengkan kepala sambil mengikuti arah langkah mereka.

"Rakus-rakus gitu kamu juga ikutan beli," ledek Wawan.

Raka tertawa. Adhi hanya mendelik.

"Tujuh, Pak," ujar Kirana. 

"Rasa apa, Neng? Mau yang cone, roti, atau gelas?" tanya bapak penjual es puter.

"Cokelat, cone, Pak," jawab Kirana lalu menanyakan teman-temannya.

"Durian, Cone," sahut Sasa.

"Aku juga," timpal Wawan.

"Kelapa yang cone," celetuk Arga.

"Cokelat, gelas," jawab Raka.

"Aku yang cokelat pakai gelas," celetuk Adhi.

"Kelapa yang cone," ujar Naira.

Kirana mengangguk lalu memesankan satu per satu.

"Justru lo yang rakus," sindir Arga menyenggol lengan Adhi.

"Biar," balas Adhi mengejek.

Satu per satu pesanan jadi, yang mendapat duluan segera mencicipi. Rasa dingin langsung memenuhi mulut.

"Hm, enak!" seru Naira, di pasar malam masa depan, tidak ada yang menjual es puter lagi.

"Nai, mau coba yang cokelat?" tawar Kirana.

"Boleh!" Naira mencoba rasa cokelat yang tak kalah enak.

Lihat selengkapnya