Sore itu, rumah Raka lebih ramai dan meriah dari biasanya. Di meja makan tersedia berbagai makanan seperti tumpeng, ayam goreng, semur ayam, mie goreng, perkedel, dan kerupuk udang. Sementara di halaman belakang rumah tertata meja panjang yang nanti akan dipenuhi kue-kue seperti kue tart, bolu, lapis legit, risoles, lemper, dan bakwan, serta disajikan minuman sirup melon dan teh manis.
"Selamat ulang tahun, Raka!"
"Jadi anak yang berbakti, ya!"
Raka tersenyum mengucap terima kasih sambil menyalim satu per satu tamu yang datang.
Di sudut halaman belakang, Naira, Kirana, dan Sasa, sibuk menata piring dan gelas. Sementara Arga, Wawan, dan Adhi membawa satui per satu piring berisi kue-kue dan minuman dari dalam rumah ke meja panjang.
"Raka! Sini, Nak!" panggil ayah Raka dari pintu yang menghubungkan halaman belakang.
Raka menyahut, "Iya, Yah?" Ia bergegas menghampiri.
"Ayo, ikut Ayah," ujar ayah Raka tersenyum.
Tanpa bertanya, Raka mengekori ayahnya ke halaman depan rumah. Di lihatnya sang ayah berhenti di sebelah benda tertutup terpal terparkir rapi.
"Ini apa, Yah?"
Ayah Raka menyibak kain terpal perlahan. Sebuah Honda GL Pro berwarna hitam mengilap terpampang di hadapan mereka. Raka membelalak kaget.
"Yah?"
"Selamat ulang tahun, Nak," ujar ayah Raka.
"Ini buat aku?" tanya Raka masih tak percaya.
Ayah Raka mengangguk. "Ayah tau kamu selalu jalan kaki ke sekolah, ke toko juga jalan kaki. Sekarang kamu udah tujuh belas tahun, udah bisa punya SIM. Anggap saja ini hadiah dari Ayah sebagai tanda kalau Ayah percaya sama kamu."
Raka memandang motor itu dan ayahnya bergantian. Matanya mulai berkaca-kaca. "Ayah, ini mahal banget." Tidak perlu ia tanyakan berapa harganya, tentu ia sudah bisa menebaknya.
Ayah Raka hanya tertawa kecil. "Uang bisa dicari, Ka. Anak Ayah yang paling penting."
Raka menghambur memeluk ayahnya erat. Ibu Raka yang menyaksikan dari teras hanya tersenyum haru sambil mengusap sudut matanya yang mulai berair.
Teman-teman Raka juga menyaksikan momen haru tersebut.
"Udah, jangan nangis. Nggak malu sama teman-teman?" ledek ayah Raka.
Semua yang mendengar hanya tertawa.
"Wah, Raka, sekarang udah punya motor!" seru Adhi.
"Besok bonceng kami satu per satu, Ka!" tawa Sasa.
"Selamat, Ka. Yang perlu kamu ingat, nggak boleh kebut-kebutan," peringat Kirana.
Raka mengangguk sambil tersenyum, ia memberi gaya hormat pada mereka.
"Laksanakan!"
Naira sempat menatap lama motor baru Raka, tapi kemudian ia mengalihkan atensinya pada Raka sambil mengucap selamat.
Setelah pemberian hadiah ulang tahun dari orang tua Raka, mereka kembali ke halaman belakang. Para tamu pun mulai menikmati hidangan yang tersaji.
"Ka, kalau makanannya nggak habis, aku bawa pulang, ya," celetuk Adhi membuat yang lain tertawa seketika.
"Iya, kamu dapat jatah tukang habiskan," balas Raka.
Naira yang sedang menemani Kirana menuangkan minuman dari wadah besar ke dalam gelas menoleh belakang karena suara tawa teman-temannya. Melihat Arga, sebuah ide melintas di dalam benaknya.
"Kir, aku ambil gelas dulu, ya. Takut ada yang nggak kebagian," alibi Naira.
"Eh? Nai, ini udah ... cukup." Naira sudah melenggang sebelum Kirana menyelesaikan ucapannya.
Sebelum benar-benar masuk mengambil gelas, ia menghampiri Arga.
"Ga, tolong temani Kirana sebentar, aku mau ambil gelas."
Arga mengangguk lalu menghampiri Kirana. Melihatnya, Naira tersenyum, lalu masuk ke dalam rumah untuk mengambil beberapa gelas. Sekembalinya Naira ke halaman belakang, ia mengernyit hanya mendapati Arga di meja panjang.
"Ga, Kirana mana?" tanya Naira meletakkan nampak berisi gelas-gelas di meja.
"Oh, tadi aku suruh istirahat aja, biar kita yang tata minumannya."
Naira menyapu pandangan mencari Kirana yang ternyata bergabung dengan Raka dan yang lainnya. Kirana juga sempat melihat Naira dan Arga lalu mengalihkan wajahnya.
Naira mengaduh dalam hati. Terpaksa Naira harus menata beberapa minuman lagi di meja bersama Arga, yang tentu bukan tujuannya.
Hingga akhirnya Naira menyadari sesuatu, sekuat apa pun usahanya mendekatkan Arga dan Kirana. Arga tetap punya caranya sendiri untuk mendekati dirinya.
***
Hari pertama Raka ke sekolah menggunakan motor barunya. Naira baru saja keluar dari rumah, mendapati Raka sudah berada di atas motor menunggunya.
"Ayo, Nai. Kamu yang aku bonceng pertama kali," kekeh Raka.
Naira tertawa. "Iya, nggak sabar," balasnya.
Selesai mengenakan sepatu sekolah, ia menaiki motor Raka setelah diberikan helm yang langsung ia kenakan.
"Nak, bawanya jangan ngebut," peringat ibu Raka
"Iya, Bu," jawab Raka.
"Nai, pegangan!"
"Pegangan di mana?" Naira mencari-cari posisi yang cocok untuk berpegangan tapi ia bingung di mana.
"Pegangan ke aku," sahut Raka.
"Hah?" Naira tampak malu-malu. Dengan ragu ia memegang sisi seragam, Raka.
"Aku berangkat, Bu," pamit Raka.