"Mana dompetku?" tanya Raka yang baru saja menghampiri Adhi. Siang tadi ia menitipkan dompet pada Adhi saat bermain basket, tapi lupa ia ambil saat pulang sekolah.
"Nih." Adhi melempar dompet milik Raka yang ditangkapnya di sempurna.
"SIM-ku mana?" tanya Raka hanya membuka dompet tidak menemukan SIM-nya yang fotonya sempat diledeki Adhi.
"Sama Naira."
Raka melihat ke arah Naira.
"Aduh, Nai. Jangan lihat fotoku!" panik Raka langsung merebut SIM dari tangan Naira.
Sementara Naira masih mematung. Ia masih mencerna apa yang baru saja ia temukan. Nama lengkap Raka di SIM adalah Adhikara Pramudya, yang di mana merupakan nama lengkap ayahnya. Bagaimana bisa selama berbulan-bulan tinggal bersama Raka, ia tidak tau bahwa Raka adalah ayahnya yang ia cari-cari selama ini?
"Nai? Kamu kenapa?" tanya Raka.
Naira sampai tak berani mendongak untuk menatap Raka.
"Nai? Kamu kaget sampai segitunya lihat fotoku?"
"Berarti jelek banget," ledek Adhi.
Naira mendongak perlahan, eskpresi syoknya membuat Raka mengernyit dan khawatir.
"Nai, kamu gapapa?"
Naira beranjak. "Aku mau ke kamar dulu." Tanpa menunggu balasan Raka, ia langsung melangkah cepat menuju kamar.
"Naira kenapa, Dhi?" tanya Raka.
"Nggak tau, tadi cuma lihat fotomu."
Naira menutup pintu kamar lalu bersandar di ambang pintu. Air matanya mulai mengalir melalui sudut mata.
"Raka ayahku? Nggak mungkin." Naira menggeleng masih tak percaya dengan sebuah fakta yang baru saja terungkap.
Bagi Naira Adhikara dan Raka adalah sosok yang berbeda, ia tidak menemukan satu kesamaan pun. Adhikara adalah sosok yang jahat bagi Naira. Sementara Raka adalah sosok yang baik dan penyayang. Bagaimana mungkin mereka adalah orang yang sama?
Namun, jika Naira pikir lebih jauh. Ada kejanggalan yang selama ini tidak ia sadari.
Di hari pertama Naira masuk SMA Bhakti Persada dan mencari sosok Adhikara. Namanya memang tidak pernah disebut siapa pun. Namun, saat Naira dan Adhi berkenalan, Naira sempat menduga bahwa Adhi adalah Adhikara ....
"Adhi ...?"
"Nama dia "Adhi" doang," celetuk Raka.
Sejak awal, Raka sudah memberikan petunjuk. Makna "doang" yang keluar dari mulut Raka seakan berkata "Nama dia "Adhi" doang, kalau aku "Adhikara".
Tidak hanya itu, saat Naira dan Raka makan ayam semur masakan ibu Raka. Mereka menemukan cara makan yang sama. Naira lupa bahwa ia juga punya kesamaan cara makan yang sama dengan ayahnya. Apalagi ia menyadari masakan ibu Raka mengingatkannya dengan masakan bundanya.
"Enak, Bu," ungkap Naira.
Ibu Raka tersenyum bangga. "Resepnya turun-temurun dari nenek Raka."
Karena memang resep semur ayam Kirana sama dengan resep dari ibu Raka.
Saat Naira, Raka, dan Arga makan bakso di Bakso Wahyu.
"Kamu suka saos, kan?" Belum sempat Naira menjawab, Raka sudah menuangkan saos ke mangkuk Naira.
"Ka, Naira belum jawab udah main tuang," celetuk Arga.
"Aku suka, kok," jawab Naira tersenyum.
"Kamu, kan, biasanya di rumah waktu Ibu masak bakso kamu suka pakai saos, jadi aku tau," ujar Raka kemudian menatap Arga.
Naira seketika mengenyit memandang Raka.
"Ka? Ibu kamu belum pernah masak bakso."
"Hah? Eh? Kayaknya adik sepupuku," bingung Raka.
Kejadian itu bukan karena Raka salah ingat, melainkan karena di masa depan ayahnya tau takaran saos saat makan di Bakso Wahyu saat masih kecil. Jelas saja itu merupakan ikatan batin antara anak dan ayah, bukan?
Naira menutup mulutnya meredam tangis agar tidak terdengar dari luar. Tubuhnya kehilangan tenaga hingga akhirnya ambruk perlahan ke lantai. Sampai detik ini Naira belum bisa menerima fakta bahwa Raka adalah ayahnya.
Mengingat misi Naira sejak pertama kali datang ke masa lalu adalah untuk memisahkan Adhikara dan Kirana. Namun, faktanya misi Naira belakangan ini malah mendukung dan mendekatkan Raka dan Kirana. Tanpa sengaja Naira sudah mempercepat hubungan Raka dan Kirana. Apa yang sudah Naira lakukan?
"Naira?" panggil Raka dari luar.
Tidak ada sahutan sama sekali.
"Kenapa, Ka?" tanya ibu Raka menghampiri.
"Naira, Bu."
"Kenapa Naira?"
"Nggak tau, tadi aneh, Bu. Kayak syok gitu, aku panggil nggak ada sahutan."
"Syok? Apa Naira udah mulai mengingat sesuatu?" terka ibu Raka.
Raka berdeham. "Mungkin, Bu."
"Naira?" panggil ibu Raka, tapi nihil.
Naira mendengar suara ibu Raka yang memanggilnya, tapi ia tak kuasa menemui mereka. Ibu Raka adalah neneknya .... Entah kenapa Naira kehilangan keberanian untuk menghadapi dunia yang bukan masanya melebihi saat pertama kali ia terlempar ke sini.
"Naira gapapa? Ibu sama Raka khawatir. Naira udah ingat sesuatu?" tanya ibu Raka.
"Naira mau sendiri dulu," sahut Naira dengan suara bergetar.
"Naira nangis?" Raka menyadarinya.
"Kita biarkan Naira sendiri dulu, Nak. Naira akan cerita kalau dia mau."
Raka mengangguk. Ia menjauh, tapi masih menatap ambang pintu penuh kekhawatiran.
Kalimat yang terlintas di kepala Naira sejak tadi adalah "pantas saja".
Pantas saja keluarga Raka dengannya terasa begitu dekat, ternyata mereka punya hubungan darah.