The Unwritten Child

Meliyana Jia
Chapter #18

17. Bumerang

2007

Malam kian larut, Kirana sedang berdiri di depan pintu rumah. Sementara Naira sudah kembali ke kamar beberapa jam yang lalu. Kirana melirik jam di ponsel yang sudah menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh menit. Namun, Adhikara masih belum pulang juga. Baru saja hendak masuk ke rumah, suara motor Adhikara terdengar, ia memarkirkan motor di halaman rumahnya. 

Adhikara melangkah masuk dengan berat. Tiba di depan Kirana ia disambut istrinya yang langsung menyalimnya. Ia memperhatikan penampilan Adhikara yang tidak baik-baik saja, pakaiannya kusut, rambutnya sedikit acak-acakan, dan wajah lelahnya tidak bisa disembunyikan. 

"Kenapa baru pulang, Mas?" 

Alih-alih menjawab, Adhikara justru terus melangkah masuk tanpa suara. Setelah menyimpan kunci motor di dekat rak sepatu, baru ia menjawab, "Ada urusan."

"Urusan apa, Mas? Nggak seperti biasanya kamu pulang larut." Kirana mendekat.

"Bukan urusan apa-apa." 

"Kamu kelihatan capek banget. Kamu udah makan?" 

Adhikara menggeleng.

"Aku panaskan makanan dulu, ya." Baru Kirana berbalik, ia terkejut mendengar suara tangan Adhikara yang meninju permukaan meja. 

"Mas?" Kirana refleks menoleh kaget.

Kirana kembali menghampiri Adhikara. Jujur saja ia khawatir sekali sebab baru pertama kalinya Adhikara seperti ini.

"Kalau ada masalah, cerita saja, Mas. Aku istrimu." 

"Nggak ada masalah," jawab Adhikara dengan nada berat.

"Beneran?"

"Aku bilang nggak ada masalah!" Nada bicara Adhikara membuat Kirana cukup tertegun.

Kirana berusaha menyunggingkan senyumannya. "Aku cuma khawatir." 

"Aku lagi capek, Kir."

"Aku tau."

"Kalau kamu tau, kenapa kamu nanya terus?"

Kirana memilih diam. Percakapan mereka membuat Naira yang sedang terlelap di kamar sedikit terusik. 

"Aku mau sendiri," ungkap Adhikara.

Kirana hendak menjawab, tapi tertahan di tenggorokan sebab ponsel Adhikara berdering. Adhikara memandang layar ponsel tanpa menjawabnya, lantas membuat Kirana bertanya-tanya.

"Siapa, Mas?"

"Bukan siapa-siapa." Namun, beberapa detik kemudian, dering telepon berbunyi lagi.

Adhikara tak kunjung mengangkat.

"Kenapa nggak diangkat teleponnya, Mas?"

"Nggak penting."

"Tapi dari tadi teleponnya ...." Belum sempat Kirana menyelesaikan kalimatnya.

Adhikara langsung menyela, "Udah, Kir!" bentaknya tanpa sadar.

Kirana menutup bibirnya rapat. Sadar akan nada bicaranya yang tak bersahabat, Adhikara memejamkan mata sejenak. "Maaf."

Tangan Kirana bergerak menyentuh punggung tangan Adhikara yang bertengger di pinggir meja. "Aku nggak akan marah. Mas, kalau kamu butuh tempat buat cerita, aku ada untuk kamu. Mungkin saja aku bisa bantu."

Entah kenapa Adhikara merasa jengkel, tatapannya jatuh pada sentuhan Kirana. Pikirannya sedang berkecamuk sekarang. Entah dorongan dari mana, ia menarik tangannya cepat, gerakannya gusar, hingga tidak sengaja mengenai pipi Kirana dan menghasilkan bunyi yang nyaring.

Kirana mematung dan membisu. Adhikara terkejut atas apa yang terjadi. Ia menatap Kirana yang sedang memegang pipinya dan memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan. 

"Kir ... aku nggak sengaja ...." Suara Adhikara terdengar bergetar. 

"Maaf ...." Tangannya hendak menyentuh wajah Kirana, tapi wanita itu langsung menghindar dan memilih ke dapur untuk memanaskan makanan yang sempat ia tunda.

Adhikara menatap tangannya sendiri tak percaya. 

Tanpa mereka sadari, Naira terbangun dari tidurnya karena suara berisik dan memperhatikan mereka di sela-sela pintu kamar yang terbuka. Naira terkejut melihat kejadian tadi yang membuatnya takut, ia tidak pernah melihat ayahnya seperti ini. Dipeluk erat-erat boneka di tangannya. 

Sejak malam itu, Naira tidak pernah lagi menanyakan tentang ayahnya pada Kirana jika terlambat pulang. Sejak itu juga, Adhikara mulai sering pulang larut malam dan tidak ada yang tau apa alasannya.

2010 

Sejak Kirana memaklumi dan memaafkan ketidaksengajaan Adhikara tadi, menjadi bumerang pada dirinya sendiri. Merasa tidak sengaja, menyesal, dan selalu dimaafkan oleh Kirana, rupanya Adhikara terjerumus dalam tindakannya sendiri. Awalnya memang tidak sengaja, tapi lama-kelamaan, ketidaksengajaan itu menjadi sesuatu yang lumrah, apalagi mendapatkan maaf dari Kirana. 

Hingga kata "tidak sengaja" pun tidak terdengar lagi, hanya tindakan yang terus mendapat maaf. Rasa sesal pun sudah kebas.

***

Rambut Naira beterbangan mengikuti arah angin. Sejak kemarin Naira menjadi lebih pendiam. Ia belum menceritakan apa pun, meski tadi saat hendak berangkat ke sekolah, ibu dan ayah Raka alias nenek dan kakeknya bertanya padanya. Lantas mereka tidak akan memaksa, hanya saja Raka masih penasaran dan masih mencoba menggali informasi.

"Nai, kamu udah ingat sesuatu?" tanya Raka yang fokus mengendarai motor menuju sekolah.

Naira yang menatap lurus ke jalan pun menjawab, "Iya."

"Kamu ingat apa?" tanya Raka, antusias.

"Ingat sesuatu yang penting sekali." Bukan sekadar ingat, melainkan Naira menemukan suatu fakta yang penting sekali.

Lihat selengkapnya