The Unwritten Child

Meliyana Jia
Chapter #19

18. Kesalahan Naira

Naira, Kirana, dan Sasa keluar dari kelas setelah bel tanda pulang berbunyi beberapa menit lalu. Mereka melangkah menuju kelasnya Raka. Mereka berniat membicarakan soal ulang harian tadi yang dilaksanakan di hari yang sama sebab hari itu jadwal pelajaran Bahasa Inggris mereka sama dan saling mencocokkan jawaban satu sama lain. 

"Ka, buat kamu." Kirana menyodorkan amplop cokelat.

"Apa, Kir?"

"Hasil foto yang aku ambil kemarin."

"Oh, yang kemarin kamu bilang?" tanya Raka menyambut amplop cokelat.

Kirana tersenyum dan mengangguk.

"Boleh kubuka?" 

"Boleh."

Raka membuka amplop cokelat yang berisikan dua foto dirinya saat pertandingan basket beberapa minggu yang lalu. Matanya tampak berbinar, ia menatap foto di tangannya dan Kirana bergantian.

"Hasil jepretan kamu bagus banget," kagum Raka. "Serius buat aku?"

"Iya, Ka. Buat kamu." Kirana terkekeh melihat reaksi Raka.

"Makasih, ya, Kir."

Sasa sejak tadi sibuk berceloteh dengan Arga, Wawan, dan Adhi. Sementara Naira diam-diam memperhatikan interaksi Raka dan Naira.

Setelah siap berkemas, mereka melangkah bersama keluar dari kelas dan bergabung dengan siswa-siswi lainnya di koridor.

"Oh, iya. Ka, kamu mau pinjam buku Biologi yang aku pinjam kemarin?" celetuk Kirana.

"Iya."

"Aku temani pinjam ke perpustakaan dulu, yuk."

"Wah, boleh."

Naira mencengkram ujung rok sambil melirik ke belakang sebab posisinya berada di depan Raka dan Kirana yang berdampingan. Ia menyeletuk kala Kirana mulai berbelok ke koridor sebelah bersama Raka.

"Aku ikut!" serunya.

"Nggak usah," sela Kirana cepat membuat Raka dan teman-temannya menoleh. Naira juga sedikit terkejut dengan penolakan dari Kirana. 

"Raka cuma pinjam buku, biar aku aja yang temani, kamu duluan saja ke parkiran, Raka menyusul," ujar Kirana, ia sengaja menyunggingkan senyumannya.

"Tapi aku juga ...."

Kirana langsung mengajak Raka masuk ke topik baru hingga mengalihkan atensinya dari Naira. 

"Nai, mau ke perpustakaan juga?" tawar Arga berpindah ke sebelah Naira yang kini memandangnya. 

"Ah, nggak, kok ...." Naira mengepalkan tangannya, sekuat mungkin menahan perasaannya sendiri yang berdebar.

"Nai, biarkan saja Raka dan Kirana berdua," tutur Wawan. 

Naira hanya menghela napas pelan, lalu mengangguk pasrah.Cuma ke perpustakaan meminjam buku, bukan? Seharusnya bukan masalah besar, pikirnya.

Naira melanjutkan langkah bersama yang lain, sementara dari kejauhan Kirana menoleh pada Naira yang sudah memunggunginya.

Kirana hanya mengetes reaksi Naira. Benar saja, ketika ia mencoba mencuri waktu berdua saja dengan Raka, Naira lagi-lagi berusaha berada di antara mereka ataupun tidak ingin mereka bersama. Entah apa tujuan Naira yang sebenarnya.

"Ka, kamu sadar, nggak?"

"Apa?" tanya Raka, menoleh.

"Setiap kali kita mau pergi berdua, Naira seperti selalu berusaha menghalangi ...? Kalau tidak membuat pergi duluan, ya, ikut dengan kita."

Raka berdeham sambil berpikir. "Sepertinya kebetulan, Kir."

"Kebetulan, ya?" tanya Kirana. 

"Memangnya kenapa kamu bisa berpikir begitu?"

"Nggak apa-apa, mungkin perasaanku aja." Kirana tersenyum tipis, tapi jauh di dalam lubuk hatinya ia sudah mendapatkan jawaban. Naira memang punya tujuan tertentu. 

***

"Kir, ke perpustakaan bareng, yuk," ajak Naira pada Kirana seperti biasa.

"Nggak, Nai," tolak Kirana membuat senyuman Naira sedikit luntur.

Naira mengangguk dan memilih ke perpustakaan sendiri. Sasa yang melihat kejadian langka itu pun bertanya, "Tumben, Kir?"

Kirana hanya mengedikkan bahu.

Sejak Kirana tau bahwa Naira bermaksud tertentu padanya dan Raka, ia memilih menghindari Naira dulu. Beberapa kali Naira mengajaknya ke perpustakaan, toilet, ataupun menawarkan makanan bekal yang dibawanya, ia akan menolak. Apa yang dilakukan oleh Naira padanya, kini berbalik arah. Giliran Naira yang bertanya-tanya dengan Kirana.

Keesokannya, Naira dengan ekspresi riang menghampiri Kirana dan Sasa di meja depannya.

"Ayo, ke kantin!"

"Nggak, aku mau ke ruang musik."

Sasa yang mendengarnya langsung mendongak. 

"Aku ikut, ya," ujar Naira masih tersenyum.

"Nggak usah, aku sama Sasa saja." Kirana beranjak lalu menggandeng Sasa keluar dari kelas.

Sasa yang bingung pun melontarkan pertanyaan, "Kir, bukannya tadi kamu mau ke kantin?"

"Nggak jadi."

Naira yang mendengar pertanyaan Sasa pun bertanya-tanya.

Bunda kenapa?

Sasa sebenarnya sudah merasakan kejanggalan terhadap hubungan Kirana dan Naira. Namun, sejak kemarin belum berkesempatan untuk bertanya. 

"Kir, kamu berantam sama Naira?"

"Nggak, Sa," jawab Kirana.

"Terus kenapa kamu kayak menghindar dari Naira?"

"Aku cuma lagi bingung sama Naira." 

Lihat selengkapnya