The Unwritten Child

Meliyana Jia
Chapter #20

19. Konsekuensi

2010

Sore itu, hujan baru saja berhenti setelah puas mengguyur permukaan bumi. 

Naira yang masih berusia dua belas tahun sedang mengerjakan PR di ruang tamu. Di hadapannya ada televisi yang menyala, sesekali fokusnya buyar karena menikmati tontonan yang sedang ditayangkan di salah satu stasiun televisi. 

Sementara Kirana sedang melipat pakaian di sofa sambil menemani Naira.

Detik berikutnya terdengar suara ketukan pintu. Baru saja Kirana hendak beranjak, Naira sudah mendahuluinya. 

"Naira aja, Bun." Kirana hanya tersenyum sambil mengangguk.

Pintu terbuka, Naira mendapati dua pria berdiri di depan pintu, salah satunya membawa map cokelat.

"Bisa bicara dengan Pak Adhikara?" 

Naira mengernyit. "Belum pulang, Pak."

"Kami perlu bicara dengan beliau."

Kirana yang melihat dua pria berbadan kekar di hadapan Naira pun beranjak menghampiri anakya. 

"Siapa, ya?"

Pria yang membawa map mengeluarkan kertas-kertas. "Kami pihak yang mengurus tagihan Pak Adhikara."

Kirana mematung, air wajahnya berubah. "Tagihan?"

"Iya, Bu. Kami sudah beberapa kali menghubungi Pak Adhikara, tapi tidak ada respons sampai sekarang."

Kirana melirik Naira yang menatap bingung. "Naira masuk kamar dulu, ya."

"Tapi Bun ...." Naira tidak ingin meninggalkan Kirana sendiri dengan dua pria yang tidak dikenal itu. 

"Gapapa, masuk dulu, Nak."

Akhirnya Naira mengangguk dan menurut pada Kirana untuk masuk ke kamarnya. 

"Kami akan tunggu sampai akhir bulan, jika belum ada pembayaran, kamu terpaksa harus mengambil langkah berikutnya." 

Walaupun sudah melangkah masuk ke kamar, sebelum menutup pintu, suara mereka masih terdengar. Naira hanya bisa bertanya-tanya pada dirinya sendiri, tagihan apa? Ia tidak mengerti. 

Belum semenit Naira berdiam diri di tepi ranjang, ia dikejutkan dengan suara bantingan pintu. Ia pun beranjak membuka sedikit pintu kamar guna mengintip. Ternyata ayahnya baru saja pulang. Lagi-lagi wajahnya seperti tidak bergairah.

"Siapa tadi?" tanya Adhikara.

"Ada yang cari kamu," jawab Kirana yang baru saja selesai melipat baju, ia beranjak mendekati Adhikara.

Adhikara langsung menoleh. "Mereka ngomong apa?" 

"Soal tagihan." 

"Mas, sebenarnya kamu punya tagihan apa?"

Adhikara memilih diam. 

"Kalau kamu punya masalah, kasih tau aku, Mas," mohon Kirana.

"Udah berapa kali aku bilang soal kerjaan?"

"Kalau cuma soal kerjaan, kenapa sampai cari kamu ke rumah?"

Adhikara menghela napas gusar. "Aku bilang nggak ada apa-apa, Kir!"

"Mas, aku istri kamu. Kalau memang ada masalah, kita cari jalan keluar sama-sama." Mata Kirana berkaca-kaca, jauh dalam lubuk hatinya ia tau Adhikara punya masalah yang disembunyikan. Namun, Adhikara enggan bercerita. Kirana hanya tidak mau Adhikara menghadapi semuanya seorang diri. 

"Jalan keluar?" Adhikara tertawa miris. 

"Kamu pikir mudah?"

"Aku cuma mau tau tagihan apa, Mas."

"Kamu nggak perlu tau!"

Kirana memejam karena suara Adhikara yang naik beberapa oktaf. 

"Aku nggak maksud menyalahkan kamu, Mas."

"Tapi pertanyaan kamu seolah-olah menyudutkan aku!"

"Mas ...."

"Cukup!" Adhikara menatap Kirana penuh amarah hingga tangannya melayang mengenai pipi Kirana. 

Kirana membeku. Hatinya sesak sekaligus perih, mungkin setelah ini Adhikara akan mengatakan tidak sengaja dan maaf, atau mungkin tidak keduanya. Karena tampaknya Adhikara bukan tidak sengaja. Ia melakukannya dengan kesadaran penuh. 

Naira di balik ambang pintu membulatkan mata dan tangannya menutup mulut agar tidak refleks berteriak. 

Kirana tidak marah, ia hanya memegang pipinya yang terasa kebas. 

Lihat selengkapnya