Saat Kirana sedang tidak di rumah, Naira masuk ke kamar bundanya, berharap mendapatkan sebuah petunjuk mengenai kecelakaan yang menimpa Arga. Ia menyapu pandangan ke setiap sudut kamar.
Naira membuka laci-laci di meja rias satu per satu, tapi tidak menemukan apa pun. Ia pun menunduk melihat ke bawah ranjang, hasilnya juga nihil. Ia menuju lemari pakaian, mencari sesuatu di setiap sela-sela tumpukan pakaian. Naira tampak kebingungan karena belum menemukan apa-apa.
Hingga matanya tidak sengaja melihat sebuah kotak besi berkarat di bawah lemari, ia pun segera mengeluarkannya dari sana. Naira membawa kotak itu ke tepi ranjang dan membukanya perlahan. Kotak tersebut penuh barang-barang lama. Foto, surat, tiket bioskop, kaset kecil, dan beberapa kertas yang sudah menguning.
Naira menemukan potongan foto yang dirobek di album, benar saja, Arga dengan jas almamaternya. Ia sedikit kaget menemukan foto Kirana dan Arga yang lain, mereka terlihat dekat, tersenyum, dan tampak bahagia.
Di balik salah satu foto mereka, ada tulisan tangan Kirana.
"Andai saja hari itu aku nggak minta Arga pergi, mungkin kamu masih hidup, Ga."
"Bunda minta Arga pergi ke mana?" gumam Naira.
Naira kembali membongkar isi kotak, mungkin ada petunjuk tentang kecelakaan yang menimpa Arga. Ia melihat di dasar kotak ada sebuah potongan koran lama. Ia langsung mengeluarkannya dengan hati-hati.
Manik indahnya bergerak membaca tulisan yang tercetak di koran.
Koran Harian
Edisi 16 Mei 1998
SEJUMLAH MAHASISWA BELUM DITEMUKAN
JAKARTA -- Setelah kerusuhan yang terjadi sejak 13 Mei, sejumlah keluarga masih mencari anggota keluarga mereka yang belum kembali hingga Jumat sore.
Beberapa mahasiswa dilaporkan terpisah dari rombongan masing-masing ketika situasi di sejumlah kawasan semakin tidak terkendali.
Berikut daftar nama yang masih berada dalam pencarian keluarga dan pihak kampus.
1. Arga Pratama - Fakultas Teknik - Universitas Indonesia
2. Dimas Prayoga - Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
3. Bima Adinata - Fakultas Ekonomi - Universitas Atma Jaya Jakarta
4. Rendy Kusuma - Fakultas Hukum - Universitas Trisakti
5. Sadewa Nugraha - Fakultas Teknik - Universitas Trisakti
6. Yusuf Ramandhan - Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik - Universitas Indonesia
Naira menutup mulutnya sendiri melihat nama Arga tercantum di daftar korban yang terjebak dalam kerusuhan demonstrasi. Naira langsung berasumsi mengenai surat tadi. Apa ada hubungannya dengan Kirana yang merasa bersalah?
Namun, dalam koran menyatakan Arga hanya hilang. Apa ada berita berikutnya? Naira mencari-cari potongan koran lain di dalam kotak, tapi ia tidak menemukannya. Hanya potongan korban ini satu-satunya yang memberikan petunjuk jika Arga hilang dalam tragedi 1998.
"Kalau Arga selamat, apa Bunda akan menikah dengan Arga?" monolog Naira.
"Apa aku masih bisa kembali ke masa lalu untuk selamatkan Arga?"
Naira menutup kotak tersebut ketika sudah menjelajahi isinya. Ia menyimpan kembali ke bawah lemari. Sesuatu bertabrakan ringan saat mendorong kotak itu, Naira pun menarik kembali kotak tadi dan melihat apa yang masih berada di bawah lemari. Ia melihat ada sebuah buku, karena penasaran ia langsung mengambilnya.
Naira menepuk-nepuk permukaan buku yang penuh debu.
"Diary?"
Naira membuka halaman pertama. Setiap halaman dipenuhi tulisan tangan Adhikara. Ternyata ayahnya suka menulisĀ diary? Pikirnya. Naira membaca halaman demi halaman. Adhikara menulis tentang bagaimana ia punya keluarga kecil yang harmonis dan bagaimana pekerjaaannya berlangsung. Namun, semakin membaca halaman berikutnya, kening Naira semakin berkerut.
Dear diary,
1999
Hari ini aku menikah dengan Kirana, perempuan yang selama ini aku cintai diam-diam sejak SMA. Aku masih tidak percaya sekarang Kirana sudah menjadi istriku. Aku berjanji akan menciptakan rumah kecil yang selalu menjadi tempat pulang bagi Kirana, aku, dan anakku kelak.
Dear diary,