Naira terbatuk. Nyawanya perlahan mulai terkumpul.
"Akhirnya sadar juga!" seru suara khas lelaki.
Perlahan, indra penglihatan Naira mulai jernih, ia bisa melihat sosok di hadapannya yang sama basah kuyup. Ia ingat semuanya sekarang, jadi yang memberikan jam saku adalah dirinya sendiri?
"Kamu kenapa bisa tenggelam?" tanya lelaki tadi.
Naira menatap Raka dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Pertanyaan yang sama saat ia mendarat di masa lalu pertama kali.
Ayah ....
Alih-alih menjawab pertanyaan Raka yang terdengar khawatir. Ia justru langsung menghambur memeluknya. Sontak Raka membelalak kaget.
"Kamu ... kenapa nangis?"
"Gapapa."
Raka dapat merasakan gelengan dari gadis itu dan pelukannya dipererat. Mungkin gadis itu masih syok sehabis tenggelam, pikirnya.
Naira melepaskan pelukannya perlahan. Ia tersenyum tipis sambil mengulurkan tangan duluan. "Naira."
Raka menatap tangan itu beberapa detik lalu tersadar dan membalasnya. "Raka."
Setelah itu semua terjadi persis seperti yang pernah Naira lalui. Hanya saja Naira tidak sibuk mencari-cari keberadaan rumahnya seperti waktu pertama kali tiba di dunia itu. Raka mengajaknya pulang ke rumahnya terlebih dahulu sebab Naira langsung mengaku bahwa dirinya tidak mengingat apa-apa.
Hingga Naira akhirnya juga dimasukkan ke SMA Bhakti Persada, tempat bertemunya Naira dengan Kirana, Sasa, Arga, Wawan, dan Adhi. Juga, Naira tidak lagi memiliki tujuan mendekatkan atau memisahkan, tapi ia hanya mengamati perkembangan hubungan antara Kirana dan Raka maupun Kirana dan Arga.
Naira sudah tau jika Arga akan jatuh hati padanya jika ia terus-terus berinteraksi dengan Arga, terutama interaksi pertama mereka saat terjebak hujan dan menunggu Raka kembali setelah mengantar Kirana.
Maka saat itu, Naira menyuruh Raka duluan saja ke teras sekolah dengan alibi ia ingin membaca buku di perpustakaan dan akan pulang setelah hujan reda. Awalnya Raka ragu meninggalkannya sendirian sebab Naira belum lama sekolah di sana dan takut lupa jalan pulang ke rumah. Namun, Naira terus meyakinkan Raka hingga akhirnya Raka menurut.
Diam-diam Naira mengikuti Raka dari belakang, melihat apa yang terjadi pada saat itu jika dirinya tidak ikut. Benar saja, Raka mengantar Kirana pulang dengan payung, sementara Arga masih menunggu hujan reda bersama beberapa siswa lainnya.
Naira juga ingat sepulang mengerjakan tugas kelompok dari rumah Kirana, ia pulang terlebih dahulu sebelum membeli map di toko buku bersama Arga. Lantas ia mengubah rutenya, membawa uang lebih sebelum ke rumah Kirana dan setelah pulang ia bisa langsung membeli map tanpa harus pergi bersama Arga. Walaupun setelah membeli map ia berpapasan dengan Arga yang yang berlawanan arah dengannya. Setidaknya ia menghindar pertemuan berikutnya di perpustakaan yang akhirnya membuat Kirana cemburu.
***
"Ayah pengin tau, cita-cita Raka apa?" tanya ayah Raka, sebelumnya ia belum pernah menanyakan masa depan anaknya.
Raka berdeham. "Aku pengin punya usaha sendiri seperti Ayah," ungkapnya.
"Bagus. Tapi ada hal yang harus kamu tau."
"Apa?" tanya Raka.
"Dalam dunia bisnis, jangan mudah percaya hanya karena seseorang pandai bicara atau sudah kenal."
Raka dan Naira menyimak dengan saksama.
"Terus bagaimana?"
"Nilai dari perbuatannya, kejujuran jauh lebih penting dari apa pun."
Raka manggut-manggut. Ia menyimpan setiap ucapan ayahnya dalam benak.
"Ada satu lagi." Ayah Raka menatap anaknya dan Naira bergantian.
"Setiap usaha akan selalu ada rintangan. Yang paling penting, kalau suatu hari kamu jatuh, jangan dipendam sendiri."
"Kenapa?"
"Biasanya orang yang merasa bisa menanggung semuanya sendiri, justru yang paling cepat hancur," peringat ayah Raka.
Naira terhenyak. Ternyata Nasihat ayah Raka waktu itu tidak dicamkan baik-baik oleh Raka.
Raka mengangguk dan tersenyum. "Aku ngerti, Yah."
"Jangan cuma ngerti, Ka. Kamu harus benar-benar ingat pesan ayahmu," lontar Naira.
Raka terkekeh lalu menghormat pada Naira.
***
Saat Naira mengambil hasil pemeriksaan di rumah sakit, ia bisa saja mengatur sejak awal, mungkin meminta ibu Raka menunggunya di rumah sakit saat jam pulang sekolah, tapi ia tidak mau merepotkannya. Pergi sendiri pun Raka mengkhawatirkannya. Jadi, Naira tetap pergi bersama Arga. Hanya saja Naira tidak lagi mengejar bus tanpa tau bahwa masih ada bus berikutnya, yang akhirnya membuat Arga tertawa.
Naira tidak tau sejak kapan Arga menyukai, tapi ia sebisa mungkin menutup semua kemungkinan yang terjadi.
***
Jika di perjalanan pertama Naira berusaha mendekatkan Kirana pada Arga ataupun menjauhkan Kirana pada Raka, maka sekarang tidak keduanya. Justru Naira membuka kesempatan pada Raka maupun Arga.
Naira sekarang nggak akan ikut campur lagi, Bun.
Naira ingin Kirana sendiri yang memilihnya.
Seperti saat belajar bersama di rumah Raka, Naira tetap membuka kesempatan pada Raka seperti waktu itu.
Saat pertandingan basket, Naira tidak lagi bereaksi saat Arga jatuh. Usai pertandingan basket, tanpa Naira hindari, nyatanya Arga mengambil minuman dari Kirana, bukan dirinya. Naira pun benar-benar sadar, bahwa keputusan sekecil apa pun saat itu dapat memengaruhi hasil. Melihat itu, Naira tersenyum tipis tanpa disadari.
***
Mengetahui Naira akan berpapasan dengan Arga, sementara Kirana sudah keluar dari perpustakaan duluan karena ingin ke toilet, maka Naira mengubah rencananya. Mengajak Kirana ke toilet terlebih dahulu sebelum ke perpustakaan. Lantas Naira memberikan kesempatan pada Kirana dan Arga agar bisa berpapasan. Tidak hanya itu, sebab Naira mengingat setelahnya ia mengobati luka Arga di UKS.
"Ga, tangan kamu kenapa?" tanya Naira.
"Oh, ini?" Arga melirik luka di tangannya. "Jatuh di kompleks rumah waktu main basket sama anak-anak."
"Udah obatin?" Naira meringis melihat luka lecet sepanjang lima senti itu.
"Nggak pernah obatin kalau lecet doang."
Naira menatap garang. "Kamu bilang lecet doang? Bisa infeksi tau! Kir, kamu tolong obatin Arga, ya." Ia menyerahkan bagian mengobati Arga pada Kirana.
Kirana tersenyum lalu mengangguk. "Yuk, Ga."
"Aku ke kelas duluan, ya!" Naira melambai.
"Eh, Nai!" seru Kirana karena ditinggal.
Kirana hanya tersenyum kikuk pada Arga, jantungnya terasa berdetak lebih cepat. Sama halnya dengan Arga.
***