The Unwritten Child

Meliyana Jia
Chapter #23

22. Ungkapan

Sang mentari seolah sedang tersenyum menyambut hari kelulusan tingkat SMA. Lapangan SMA Bhakti Persadar dipenuhi wajah-wajah yang menyimpan berbagai cerita yang kelak menjadi sebuah kenangan. Seragam putih abu-abu yang menemani mereka hampir setiap harinya akan menjadi seragam terakhir dari masa yang sebentar lagi ditinggalkan. 

Para siswa-siswi berdesakan di depan papan pengumuman mencari nama masing-masing. 

"Ada!"

"Namaku ada!"

"Aku lulus!" 

Teriakan itu menggema di lapangan. 

Kirana maju beberapa langkah hingga akhirnya berhasil berada di barisan paling depan setelah barisan sebelumnya sudah berbubaran ketika sudah melihat namanya terpampang di kertas pengumuman. 

Kirana tersenyum menemukan namanya yang dinyatakan "LULUS".

Suara tawa terdengar di setiap sudut sekolah. Ada yang sibuk meminta tanda tangan di seragam, ada yang sibuk mewarnai seragam dengan cat pilox, ada yang sibuk mengabadikan gambar bersama, ada yang sibuk menyusuri setiap lorong sekolah yang menyimpan berbagai kenangan seolah tidak ingin berpisah dengan kenangan yang menyatu dalam waktu.

Kirana menghampiri Naira dan Sasa yang menunggunya di bawah pohon angsana. Mereka semua resmi dinyatakan lulus. Rasanya seperti tidak ada yang lebih bahagia, setidaknya untuk detik itu.

"Lulus," ujar Kirana kemudian berpelukan dengan dua sahabatnya.

"Selamat!"

"Kalian juga!"

Di sisi lain, Raka yang baru saja selesai berfoto dengan beberapa temannya berbalik, dan tatapannya tidak sengaja langsung jatuh pada Kirana. Ia tersenyum kecil, kemudian menghampirinya. Ia mengucapkan selamat atas kelulusan Kirana, begitu juga sebaliknya. 

Arga, Wawan, dan Adhi ikut bergabung setelah selesai dengan kesibukan masing-masing. 

"Sudah kubilang kita semua akan lulus, haha!" Wawan tertawa renyah. 

"Tanda tangan," usul Arga memperlihatkan spidol hitam di tangannya. 

Mereka pun saling mencoret seragam satu sama lain. 

"Di mana?" tanya Kirana pada Arga.

"Belakang, Kir."

Kirana tersenyum lalu membubuhi tanda tangannya di seragam Arga bagian belakang yang sudah dipenuhi beberapa tanda tangan temannya. 

Tanpa Arga tau, Kirana menulis "jangan melupakanku" di bawah tanda tangannya. 

"Kamu tulis apa?"

"Baca aja sendiri," kekeh Kirana.

"Nggak kelihatan."

"Tunggu di rumah."

Naira yang sedang ditanda tangani oleh Sasa memperhatikan Raka yang terdiam. Tatapannya jatuh pada Kirana dan Arga yang sedang tertawa. Naira tidak tau jelas apa yang sedang dipikirkan oleh Raka. Namun, saat Arga beralih pada yang lain, Raka baru mendekat pada Kirana untuk meminta tanda tangan. 

Selesai bertukar tanda tangan, Adhi berseru, "Ayo, kita foto-foto, aku bawa kamera!" Adhi mengeluarkan kamera milik orang tuanya.

Mereka berkumpul di satu titik di bawah pohon angsana mengambil posisi masing-masing, sementara Adhi sibuk mencari bantu seseorang untuk mengambil gambar mereka. Hingga menemukan yang bisa membantunya, ia bergabung ke dalam barisan. 

Kirana berdiri di antara Raka dan Arga, di belakang mereka, ada Naira dan Sasa yangberada tepat di belakang Kirana, Wawan di belakang Raka, dan Adhi di belakang Arga, tepatnya mereka berdiri di atas semen yang membingkai pohon angsana agar terlihat sebab berada di barisan belakang. 

Mereka tersenyum ke arah kamera. Satu detik telah menjadi kenangan. 

Setelah foto bersama, mereka juga menggambil gambar masing-masing, berdua, bertiga, juga berempat. Setelah selesai, mereka diminta berkumpul di lapangan untuk mengabadikan foto per kelas dan seangkatan. Yang di mana pada akhirnya menjadi foto yang tersimpan di dalam album yang pernah Naira lihat.

***

Beberapa minggu setelah kelulusan, wajah-wajah muda penuh ambisi memenuhi kota, di tangan masing-masing membawa map berisi berkas. 

Hari itu, setiap gedung perguruan tinggi dipenuhi oleh calon mahasiswa. Suara langkah kaki saling berpacu dengan suara orang-orang yang bertanya tentang formulir, tiket, dan jadwal pendaftaran. 

Kirana, Sasa, Raka, dan Arga memilih kampus yang sama, Universitas Indonesia. Sementara Wawan dan Adhi memilih Institut Teknologi Bandung. Naira ... seharusnya masih menjadi siswa SMA di masanya, tapi di masa itu ia juga sudah resmi lulus SMA, lantas ia juga mendaftar di perguruan tinggi, ia memilih Universitas Indonesia. 

Setelah selesai mendaftar mereka diberikan tanda bukti pendaftaran oleh petugas. Mereka pulang dengan hati berdebar. Masa depan terasa begitu dekat. Bukan lagi sesuatu yang hanya dibicarakan ataupun direncanakan. Masa depan mereka berawal dari tulisan di atas formulir.

Hari-hari setelah pendaftaran terasa berjalan sangat lambat. Namun, di sela-sela waktu panjang itu mereka dapat mengisi waktu luang dengan hal-hal yang bermanfaat, seperti membantu orang tua, dan menyisakan beberapa hari liburan bersama. 

Dua hari menjelang pengumuman pendaftaran. Mereka sama-sama menyewa satu mobil menuju pantai. Termasuk Wawan dan Adhi yang kembali ke Jakarta untuk sementara sebelum akhirnya melanjutkan studi di luar kota. 

Halaman rumah Raka sudah ramai. Kirana datang dengan perlengkapan kotak P3K. Sasa dengan kamera dan beberapa kaset di tas kecilnya, Adhi sibuk sibuk membawa kantong berisi makanan, Arga membantu memasukkan barang-barang ke dalam bagasi mobil, sementara Wawan menghitung jumlah teman-temannya, takut ada yang tertinggal.

"Satu ... dua ... tiga ... empat ... lima ... enam .... Naira mana?" tanya Wawan di akhir hitungannya. 

Lihat selengkapnya