Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Setiap kampus mulai dipenuhi calon mahasiswa.
Di depan gedung utama Universitas Indonesia, papan pengumuman dikerumuni harapan-harapan terhadap mimpi mereka.
Naira, Kirana, dan Sasa mencari nama mereka di antara nama-nama yang berbaris rapat di kertas pengumuman. Tangan mereka saling mengenggam, jantung mereka berpacu dengan cepat. Di belakang mereka juga ada Raka dan Arga yang berusaha menemukan nama mereka masing-masing.
Jeritan demi jeritan menggema di angkasa, tapi ada sebagian yang mendesah kecewa.
Hingga akhirnya mereka menemukan nama mereka yang langsung memicu reaksi secara alami.
Kirana Ayuningtyas - Jurusan Psikologi
"LULUS!"
Sasa Maharani - Jurusan Arsitektur
"KYAAAAAA!"
Naira Niskala - Jurusan Psikologi
"AAAAA!
Adhikara Pramudya - Jurusan Manajemen
"AKU LULUS!"
Arga Pratama - Jurusan Teknik Sipil
"BERHASIL!"
Mereka keluar dari barisan dengan binar harapan yang terbit di mata. Kemudian pulang membawa harapan untuk orang tua.
Wawan dan Adhi juga saling berkabar dengan mereka melalui telepon. Wawan dan Adhi sama-sama diterima di Institut Teknologi Bandung dengan masing-masing jurusan Matematika dan Teknik Industri.
Beberapa hari setelah hasil pengumuman keluar, para calon mahasiswa yang diterima melakukan pendaftaran ulang. Setelah itu, mereka mulai menapaki pendidikan yang lebih tinggi, mulai menata masa depan secara nyata.
***
Dunia perkuliahan telah berjalan beberapa minggu yang lalu. Kini yang biasanya mereka sering bertemu di sekolah setiap saat, menjadi lebih jarang ketemu, mereka harus membuat jani terlebih dahulu, atau kebetulan berpapasan di gedung.
Seperti Kirana dan Raka yang baru saja hampir berpapasan tanpa saling melihat. Hingga Raka tidak sengaja menemukan Kirana lebih dulu.
"Kirana!" panggil Raka.
"Raka?" Kirana tersenyum semringah.
"Kamu mau ke mana?"
"Perpustakaan."
"Kebetulan sama."
"Ayo, bareng kalau gitu!" seru Kirana.
Tanpa mereka sadar, sebenarnya mereka cukup sering berpapasan. Seperti ada beberapa tempat yang mempertemukan mereka seolah semesta yang mengatur. Salah satunya perpustakaan.
Kirana membaca buku materi di perpustakaan, Raka menemaninya, padahal ia hanya berniat meminjam buku.
"Nggak ngerti," desah Kirana frustasi.
"Yang mana?"
"Memang kamu ngerti? Kan, bukan jurusan kamu," tanya Kirana.
"Nggak tau kalau belum coba." Kirana menunjuk materi di buku, Raka mencermatinya.